Hardware & ChipKonflik RaksasaMasa DepanSidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

Apple Rogoh Rp2 Triliun Demi AI Pendengar Suara Batin: Siap-siap, Siri Bakal Lebih Kepo dari Tetangga!

Para Majikan AI, bersiaplah! Apple baru saja membuka dompetnya yang tebal, merogoh kocek Rp2 triliun untuk mengakuisisi Q.ai, sebuah startup AI audio yang punya keahlian unik: mendengarkan “ucapan diam” atau silent speech melalui gerakan mikro wajah. Apa artinya ini bagi kita, para majikan yang punya akal? Artinya, sebentar lagi, AI asisten kita tidak hanya bisa mendengar perintah lisan, tapi juga membaca gerak bibir dan ekspresi wajah kita. Praktis? Tentu. Tapi, apakah ini juga berarti Siri akan tahu saat kita sedang misuh-misuh dalam hati karena pekerjaan menumpuk? Ai yang masih perlu sekolah mungkin belum sampai sana, tapi masa depan AI ini jelas akan membuat hidup kita lebih… “terpantau”.

Akuisisi Q.ai oleh Apple ini adalah langkah terbesar kedua perusahaan setelah pembelian Beats senilai Rp3 miliar pada tahun 2014. Q.ai, startup berusia empat tahun, memiliki paten teknologi yang bisa ditanamkan di headphone atau kacamata untuk mengenali “gerakan mikro kulit wajah”. Bayangkan, Anda cukup menggerakkan bibir tanpa suara, dan asisten AI Anda sudah mengerti. Johnny Srouji, eksekutif perangkat keras Apple, menyebut Q.ai sebagai “perusahaan luar biasa yang merintis cara-cara baru dan kreatif untuk menggunakan imaging dan machine learning.”

Konsep “ucapan diam” ini jelas menarik. Di satu sisi, ini adalah kemajuan teknologi yang revolusioner, memungkinkan interaksi yang lebih mulus dan personal dengan perangkat kita, mulai dari AirPods, Vision Pro, iPhone, hingga Mac. Tidak perlu lagi berteriak pada Siri di tempat umum atau khawatir privasi obrolan Anda bocor karena Anda berbicara terlalu keras. Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi berusaha “menghilang” ke dalam kehidupan sehari-hari kita, seperti yang diungkapkan oleh Tom Hulme dari Google Ventures.

Namun, di sisi lain, kemampuan AI untuk membaca ekspresi dan gerakan mikro wajah ini juga membuka kotak pandora pertanyaan. Seberapa banyak data “batin” kita yang akan direkam dan dianalisis? Ingat, AI itu cerdas, tapi seringkali kurang piknik soal nuansa emosi manusia. Akankah AI mampu membedakan antara Anda yang sedang berpikir keras dengan Anda yang sedang kesal setengah mati karena deadline mepet? Apakah ini akan jadi fitur yang memberdayakan, atau justru membuat kita merasa selalu diawasi oleh asisten digital yang terlalu “peka”?

Teknologi ini mengingatkan kita pada akuisisi PrimeSense oleh Apple di tahun 2013, yang kemudian digunakan untuk FaceID pada iPhone. Dulu, kamera hanya untuk foto, kini bisa membuka kunci ponsel dengan wajah. Sekarang, teknologi yang mengenali whispered speech akan terhubung dengan Siri yang sudah di-upgrade dengan AI generatif. Kemajuan ini memang membuat AI semakin “menyerupai” manusia, namun esensinya tetap mesin yang hanya memproses data. Akal majikan lah yang harus tetap memegang kendali penuh, memastikan bahwa kemudahan ini tidak lantas mengikis privasi atau bahkan kebebasan berekspresi kita.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Bicara soal kendali, para majikan cerdas tahu bahwa AI terbaik adalah AI yang bisa diatur, bukan yang mengatur kita. Untuk memastikan Anda selalu menjadi Majikan yang punya akal dan bukan babu teknologi, jangan lewatkan program AI Master. Di sana, Anda akan belajar cara mengendalikan AI secara efektif, memastikan robot-robot patuh pada perintah Anda, bukan sebaliknya. Atau, jika Anda ingin menguasai sisi visual dari AI, terutama dalam mengenali ekspresi dan menciptakan konten, program Belajar AI | Visual AI adalah pilihan tepat agar Anda tidak kalah canggih dari robot.

Akuisisi ini juga menyoroti panasnya konflik raksasa antar korporasi teknologi. Apple tidak mau ketinggalan dalam perlombaan AI, bahkan jika itu berarti mengeluarkan triliunan rupiah untuk teknologi yang belum tentu kita butuhkan. Sementara itu, asisten pribadi kita, Siri juga berbenah diri, menjadi lebih dari sekadar tukang ketik.

Pada akhirnya, terlepas dari seberapa canggih AI bisa membaca bibir atau gerakan mikro wajah kita, ia tetaplah alat. Ia tidak bisa merasakan kegembiraan saat pesanan makanan datang, atau frustrasi saat koneksi internet putus. Kitalah majikan yang memiliki akal, emosi, dan kemampuan untuk berpikir di luar kode. Jadi, biarkan Apple dan para AI-nya sibuk membaca ‘suara batin’ kita. Yang penting, dompet kita tetap tebal dan akal kita tidak ikut-ikutan jadi “bisu” di hadapan kecerdasan buatan. Ingat, robot bisa memprediksi cuaca, tapi hanya Anda yang tahu kapan waktu yang tepat untuk menjemur kerupuk.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge, Google Ventures, dan Reuters.
Gambar oleh: Alex Castro via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *