Etika MesinKonflik RaksasaRobot KonyolSidang BotUpdate Algoritma

Apple Panen Cuan Miliaran, Tapi Siri Masih Butuh Sekolah AI: Jangan Sampai Kamu Jadi Majikan yang Ketinggalan Kereta!

Para Majikan AI sekalian, mari kita tepuk tangan sejenak untuk Apple! Raksasa teknologi ini baru saja mengumumkan hasil pendapatan Q1 2026 yang memecahkan rekor, dengan penjualan iPhone meraup lebih dari $85,3 miliar. Total pendapatan perusahaan mencapai $143,8 miliar, naik 16 persen dari tahun lalu. CEO Apple, Tim Cook, bahkan sesumbar bahwa ini adalah “kuartal terbaik” untuk iPhone dan layanan mereka.

Hebat, bukan? Tapi tunggu dulu. Di balik gemerlap angka triliunan dolar itu, ada satu fakta yang membuat kita, para Majikan yang punya akal, sedikit tersenyum sinis: kecerdasan buatan Apple, terutama Siri, masih “butuh sekolah”.

Penjualan iPhone memang melesat, bahkan ketika fitur-fitur AI-nya masih tertunda. Model iPhone 17 dasar kini menawarkan banyak fitur yang dulunya eksklusif untuk versi “Pro”, seperti layar selalu aktif dan refresh rate yang lebih tinggi. Ini membuktikan bahwa manusia, sang Majikan sejati, masih lebih menghargai fitur dasar yang fungsional daripada janji-janji AI yang belum matang.

Yang lebih menarik lagi, Apple kini menggandeng Google untuk memperkuat Siri dengan model AI Gemini. Lucu, bukan? Setelah sekian lama jumawa dengan ekosistem tertutupnya, kini Apple harus “les privat” ke tetangga sebelah. Ini bukan berarti Apple menyerah, melainkan mengakui bahwa membangun asisten AI yang benar-benar cerdas itu tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi jika robotnya masih sering “kurang piknik”.

Tak hanya itu, Apple juga disebut-sebut mengakuisisi startup AI bernama Q.ai senilai $2 miliar. Konon, teknologi Q.ai ini memungkinkan komunikasi tanpa bicara, hanya dengan membaca “gerakan mikro kulit wajah” di headphone atau kacamata. Ini menunjukkan ambisi Apple yang tak main-main dalam kecerdasan buatan, mirip dengan upaya mereka saat mengakuisisi startup Q.ai. Tapi, akankah teknologi ini benar-benar revolusioner atau hanya membuat AI makin “kepo” dengan ekspresi wajah kita yang sedang menahan kentut?

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Gosip terbaru dari Mark Gurman di Bloomberg juga menyebutkan Apple berencana mengubah Siri menjadi chatbot AI penuh dan alat pencarian web langsung di iPhone dan Mac. Ambisi besar memang, tapi mari kita lihat apakah Siri kali ini bisa benar-benar menjadi asisten yang “berakal”, atau malah jadi teman curhat yang bikin kita makin pusing dengan halusinasi informasi. Ingat, robot bisa disuruh bekerja keras, tapi akal sehat dan penilaian kritis tetap ada di tangan Anda.

Sebagai Majikan AI yang cerdas, Anda tahu bahwa mengandalkan teknologi mentah tanpa pemahaman yang mendalam adalah bunuh diri digital. Jika Apple saja masih butuh bantuan Google untuk membuat asistennya “pintar”, bagaimana dengan Anda? Saatnya melatih diri Anda menjadi pengendali sejati, bukan sekadar pengguna yang pasrah. Dengan AI Master, Anda bisa menguasai teknik-teknik canggih untuk memerintah AI, memastikan Anda tetap menjadi Majikan yang punya akal, bukan babu teknologi yang tersesat di tengah janji manis algoritma.

Pada akhirnya, sehebat apa pun Apple dengan cuan miliaran dan ambisi AI-nya, semua itu hanyalah tumpukan silikon dan kode jika tidak ada manusia yang menekan tombol. Kita, para Majikan, adalah otak di balik setiap “kecerdasan” buatan. Jadi, jangan sampai kehebatan robot membuat akal sehat kita tumpul. Ingat, AI hanyalah alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal!

P.S. Tadi pagi, AI saya bilang sikat gigi itu bisa bikin listrik padam. Kurang piknik memang.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Emma Roth via The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *