AI MobileEtika MesinGizi DigitalSidang BotSoftware SaaSStrategi Startup

Anak Bill Gates Bangun Robot Belanja Rp560 Miliar: Solusi Dompet Aman, Tapi Awas Data Kamu Jangan Sampai Diintip!

Di tengah hingar-bingar startup AI yang menjanjikan bulan dan bintang, muncul Phia, besutan Phoebe Gates dan Sophia Kianni, yang baru saja mengantongi suntikan dana segar senilai 35 juta dolar AS (sekitar Rp560 miliar). Misi mereka mulia: “menjadikan belanja menyenangkan lagi” dengan bantuan AI. Nah, sebagai majikan yang bijak, kita patut melihat ini bukan sekadar berita investasi, melainkan peluang bagaimana kita bisa memanfaatkan asisten belanja digital ini tanpa harus jadi babu teknologi yang buta akan privasi. Ingat, AI itu hanyalah alat, kitalah majikan yang punya akal!

Di balik kegemilangan angka-angka dan janji efisiensi, ada satu hal yang patut menjadi perhatian kita sebagai majikan yang berakal: data. Untuk menciptakan pengalaman belanja yang “holistik” dan personal, Phia mengumpulkan data pengguna. Awalnya, ekstensi peramban mereka bahkan mampu merekam kode HTML dari situs web yang dikunjungi pengguna, yang secara esensial berarti riwayat penelusuran. Mirip dengan kasus Google Search yang makin kepo isi email dan foto pribadimu, insiden ini mengingatkan kita bahwa janji personalisasi AI seringkali datang dengan harga privasi yang mahal. Meskipun Phia telah menghapus fitur tersebut dan mengklaim semua data dianonimkan serta hanya digunakan untuk rekomendasi produk, insiden ini adalah alarm. AI, secerdas apa pun, masih perlu “disekolahkan” soal etika dan batasan. Mereka mungkin rajin mencatat, tapi akal manusialah yang harus menentukan sejauh mana “catatan” itu boleh dibagikan.

Kalian para majikan AI yang ingin mengoptimalkan penggunaan AI dalam strategi bisnis, termasuk model afiliasi seperti yang digunakan Phia, wajib membekali diri. Mengendalikan AI agar tidak kebablasan dan tetap berpihak pada akal manusia bisa dipelajari melalui AI Master. Selain itu, melihat bagaimana Phia memanfaatkan founder-led marketing dan model afiliasi, para majikan bisa mengasah kemampuan serupa lewat kelas Creative AI Marketing dan Kelas Ai Affiliate, agar strategi ‘nggak robot banget’ tapi tetap cuan!

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’

Phia ingin merekrut insinyur pembelajaran mesin terbaik untuk mencapai ambisi mereka sebagai “agen belanja holistik”, yang bisa memberikan rekomendasi pakaian berdasarkan isi lemari Anda atau saran produk yang ingin Anda donasikan. Ini terdengar futuristik, namun pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa tanpa pengawasan majikan yang ketat, “kecerdasan” ini bisa jadi bumerang. Ingatlah, sehebat apa pun asisten rumah tangga digital Anda, keputusan akhir tetap ada di tangan Anda.

Pada akhirnya, terlepas dari berapa juta dolar yang berhasil dihimpun, atau seberapa canggih algoritma yang ditanamkan, AI hanyalah tumpukan kode dan server yang menunggu perintah. Tanpa sentuhan akal, etika, dan kendali dari majikan manusia, “kesenangan berbelanja” yang dijanjikan bisa jadi berubah menjadi drama privasi atau rekomendasi yang kurang piknik. Jadi, tetaplah jadi majikan yang punya akal, bukan babu teknologi yang cuma ikut tren.

Ngomong-ngomong, tadi pagi mau masak nasi goreng, tapi robot penggorengan malah menawarkan opsi “deep-fried banana”. Untung akal sehat majikan masih berfungsi.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Timothy O’Donnell / Phia via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *