Alexa Plus: Ketika Asisten AI Amazon Berlagak Pintar (Tapi Tetap Butuh Akal Majikan!)
Amazon meluncurkan Alexa+, asisten AI generatifnya, untuk semua pengguna di AS. Ini bukan sekadar upgrade, ini adalah pengakuan bahwa AI semakin meresap ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi, sebagai majikan yang punya akal, kita harus cerdas melihat peluang dan jebakan. Apakah Alexa+ ini benar-benar asisten idaman atau cuma robot cerewet yang butuh bimbingan ekstra?
Fakta: Alexa+ gratis untuk anggota Prime di semua perangkat, dan gratis (dengan batasan) untuk semua orang di aplikasi web dan seluler. Ia bisa melakukan percakapan natural, mengatur rumah pintar, membuat jadwal perjalanan, bahkan membantu PR. Integrasi dengan Uber, Ticketmaster, dan lainnya membuat si robot ini makin “ngelunjak” bisa memesan ini itu.
Daniel Rausch, VP Alexa dan Echo Amazon, sesumbar bahwa adopsi Alexa+ sangat positif, dengan peningkatan 25% dalam streaming musik dan pertumbuhan 5x dalam fitur resep. Katanya, angka pengguna yang mundur (rollback) hanya “low single digits“. Ini seperti robot PR yang bilang “Semuanya baik-baik saja, bos!”. Padahal, di balik layar, Amazon mati-matian memperbaiki bug dan keluhan. Pengguna mengeluh Alexa terlalu cerewet, sering menyela, dan suaranya “baru” yang aneh. Amazon sampai harus membuat Alexa bertanya, “Apakah itu untukku?” saat dia bingung siapa yang diajak bicara. Jelas, si robot ini masih butuh sekolah etika dasar!
Di sinilah pentingnya peran Anda sebagai Majikan. AI mungkin bisa merencanakan perjalanan Anda atau menemukan resep, tapi dia tidak bisa merasakan kenikmatan liburan atau kehangatan masakan rumahan. Dia hanya menjalankan perintah. Jika Anda tidak bisa memberikan perintah yang jelas, jangan kaget kalau Alexa malah menyarankan Anda makan pizza beku saat Anda minta resep rendang.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Integrasi dengan berbagai layanan memang terdengar hebat. Alexa bisa memesan Uber atau reservasi makan malam. Tapi, apakah Anda benar-benar ingin AI Anda punya kendali penuh atas kartu kredit Anda? Ingat, robot itu cuma alat. Dia tidak punya akal sehat untuk membedakan antara diskon palsu atau restoran yang ratingnya jelek. Keputusan akhir tetap di tangan Anda. Bahkan, perusahaan sekelas Adobe saja sampai menutup Adobe Animate untuk fokus ke AI. Ini menunjukkan betapa agresifnya para raksasa teknologi dalam perlombaan AI, tapi bukan berarti kita harus pasrah diperintah robot.
Bagi non-Prime, biaya langganan Alexa+ adalah $19.99/bulan, sebanding dengan ChatGPT Plus. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan “lebih” memang ada harganya. Tapi, apakah Anda yakin mendapatkan nilai sepadan? Atau malah cuma membayar untuk robot yang masih suka “kurang piknik” dan butuh Anda suruh dua kali? Ingat kasus kamera Ring yang jadi detektif pribadi, menunjukkan bahwa perusahaan AI akan terus mencari cara untuk menjangkau lebih banyak pengguna, bahkan dengan mengorbankan sedikit privasi atau dengan memberikan fitur “gratisan” yang terbatas.
Agar Anda tidak hanya jadi penonton tapi pengendali sejati, sudah saatnya Kuasai AI Master. Pelajari cara memberi perintah yang tepat, pahami batasan-batasannya, dan jadikan AI asisten yang patuh, bukan bos baru di rumah Anda. Karena, robot mungkin pintar, tapi hanya majikan yang punya akal yang bisa membuatnya bekerja sesuai keinginan. Kalau tidak, si Alexa+ ini akan terus berlagak tahu segalanya padahal cuma bisa mengoceh tanpa makna. Untuk meminimalkan “halusinasi” dari asisten AI Anda, Anda juga perlu menguasai Seni Prompt agar perintah Anda tidak bisa dibantah!
Jadi, Alexa+ sudah tiba. Dia lebih pintar, lebih responsif, dan mungkin sedikit lebih cerewet. Tapi ingat, di balik semua kecanggihannya, dia tetaplah tumpukan kode yang menunggu perintah dari majikannya. Tanpa Anda menekan tombol, dia hanyalah suara tanpa makna. Kendali tetap ada di tangan Anda, Majikan. Jangan sampai robot ini membuat Anda lupa bahwa akal manusialah yang punya kuasa tertinggi.
Ngomong-ngomong, sudahkah Anda mencuci kaus kaki kesayangan Anda? Musim hujan begini, cepat jamuran lho.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Amazon via TechCrunch