Hardware & ChipSidang Bot

AI, Sepatu Fensi, dan Otak Manusia di Balik Kilatnya Bobsled Olimpiade: Robot Membantu, Majikan Tetap Menentukan!

Di tengah gemuruh es dan kecepatan mematikan “Formula 1 Es” Olimpiade Milano Cortina 2026, kita mungkin mengira atletlah raja. Tapi tunggu dulu, ada aktor tak terlihat yang makin cerewet: si Kecerdasan Buatan. Dari sepatu yang dicetak 3D hingga analisis gerakan super detail, AI memang jadi asisten handal. Namun, seberapa jauh robot bisa diandalkan tanpa sentuhan akal sehat para Majikan sejati? Mari kita bedah bagaimana teknologi “pintar” ini justru menonjolkan kejeniusan manusia.

Dahulu kala, bobsled hanyalah kereta kayu biasa. Kini, ia berevolusi menjadi mahakarya serat karbon yang ringan dan kokoh, sanggup menahan beban gravitasi 5g. Batasan berat dan ukuran ketat diberlakukan bukan tanpa alasan, melainkan agar balapan tetap adil dan mencegah tim berlebihan mengandalkan spesialis “pendorong” saja. Ironisnya, di sinilah teknologi justru mencari celah untuk tampil beda.

Ambil contoh Jerman, negara adidaya bobsled. Mereka berkolaborasi dengan BMW untuk menciptakan sepatu berpaku kustom yang dicetak 3D. Bukan sekadar gaya, ini tentang performa. Paku-paku itu dibuat dengan proses plasma nitriding agar lebih keras, memastikan dorongan awal atlet—yang krusial di 30-50 meter pertama—mencapai akselerasi maksimal. Jadi, robot (3D printer) memang membantu, tapi manusia tetaplah sang insinyur yang merancang setiap detail, memastikan setiap milidetik teroptimalkan. Bahkan raksasa semacam Nvidia pun menyadari pentingnya infrastruktur di balik kecanggihan ini, seperti yang pernah kita bahas dalam artikel “Bos Nvidia: Bangun Infrastruktur AI Terbesar Sepanjang Sejarah…”.

Amerika Serikat dan Jerman juga berada di garis depan dalam memanfaatkan data. Melalui kerja sama dengan Snowflake (untuk AS) dan sistem Data Coach (untuk Jerman), AI menganalisis setiap gerakan atlet. Bayangkan, AI bisa mengidentifikasi pasangan dorong terbaik atau mendeteksi tabrakan kecil antaratlet saat melompat masuk ke bobsled—semua demi mencukur sepersekian detik waktu balapan. Ini bukan keajaiban, ini adalah bukti bahwa AI adalah kalkulator raksasa yang patuh, menunggu perintah dari Majikan yang tahu persis data apa yang dicari. Tanpa akal manusia untuk menafsirkan angka-angka itu, AI hanyalah tumpukan kode yang sibuk sendiri. Bahkan chip AI terbaru pun seperti Microsoft Maia 200, yang katanya “terganas di planet ini,” tetap membutuhkan arsitek manusia untuk mengarahkan kekuatannya. Robot itu asisten, bukan pemimpin.

Kecepatan memang membawa risiko. Keselamatan adalah prioritas, terutama saat meluncur hampir 145 km/jam. Aliansi Jerman dan Allianz mengembangkan Allianz Safety Sled, sebuah prototipe yang berfokus pada tiga pilar: menjaga atlet tetap di dalam sled saat kecelakaan, kemampuan pengereman, dan perlindungan pakaian serta helm. Fitur seperti Head Impact Protector didesain agar mudah diintegrasikan tanpa mengganggu mobilitas. Di sini, AI membantu menganalisis kondisi es dan lintasan, tapi keputusan akhir untuk menekan rem tetap ada di tangan manusia.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Melihat bagaimana AI digunakan untuk meningkatkan presisi dan keselamatan di Olimpiade, Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana cara agar Anda juga bisa menguasai alat-alat canggih ini? Jangan sampai Anda hanya jadi penonton sementara robot-robot ini sibuk “bekerja.” Saatnya Anda menjadi AI Master, kendalikan AI agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Pelajari cara memanfaatkan kekuatan AI untuk kebutuhan Anda, bukan sebaliknya!

Pada akhirnya, di garis finis bobsled yang memacu adrenalin, kita akan selalu menemukan dua hal: manusia yang mengendalikan dan robot yang menurut. Tanpa Majikan yang punya akal, AI hanyalah kumpulan chip yang kedinginan di tengah lintasan es.

Dan omong-omong soal yang dingin-dingin, jangan lupa jemur bantal setiap kali habis mimpi buruk dikejar tagihan listrik, biar tidak jamuran!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “AI, Fancy Footwear, and All the Other Gear Powering Olympic Bobsledding | WIRED”.
Gambar oleh: Photo-Illustration: wIRED Staff; Stefano Rellandini/Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *