Ekonomi AIHardware & ChipKonflik RaksasaSidang Bot

AI Bikin Pasar Saham Jantungan: Rp1 Triliun Amblas, Robotnya Cuma Nyengir?

Di Wall Street sana, para “Majikan” teknologi baru saja merasakan sensasi jantung copot. Bagaimana tidak? Saham-saham Big Tech mendadak lunglai, menyebabkan kerugian fantastis hingga Rp1 triliun! Kabar burungnya, biang keroknya adalah “gelembung” AI yang mulai kempes. Tapi jangan salah sangka, robot-robot itu mungkin hanya bisa memproses data, sementara drama pasar saham ini sepenuhnya adalah hasil olah rasa, panik, dan spekulasi ala manusia. Jadi, sebagai majikan yang punya akal, bagaimana kita membaca “kegilaan” ini agar tidak ikut-ikutan jantungan?

Jumat lalu, pasar saham menjadi saksi bisu kejatuhan saham-saham raksasa teknologi. Microsoft, Amazon, Alphabet, Nvidia, Meta, dan Oracle, semuanya ikut terpukul, menyumbang kerugian kolektif $1 triliun. Alasan di baliknya? Kekhawatiran investor terhadap pengeluaran modal (Capex) yang membengkak untuk infrastruktur AI. Seolah-olah, para investor ini baru sadar bahwa membangun “otak” untuk robot itu mahal sekali!

Pemicu utama gejolak ini adalah laporan keuangan kuartal keempat Amazon. Perusahaan e-commerce raksasa itu memproyeksikan pengeluaran modalnya akan mencapai $200 miliar di tahun 2026, angka yang $50 miliar lebih tinggi dari perkiraan pasar. Tentu saja, pasar bereaksi seperti Majikan yang kaget melihat tagihan listrik rumahnya setelah asisten robotnya menyala 24 jam penuh.

Paul Markham, direktur investasi dari GAM Investments, menyimpulkan kegelisahan ini dengan cerdas. Menurutnya, “Pertanyaan seputar besarnya capex [pengeluaran modal] akibat pembangunan LLM, pengembalian akhirnya, dan ketakutan akan potensi kelebihan kapasitas akan terus ada.”

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Ekonomi AI.’

Ini menunjukkan bahwa meskipun AI digadang-gadang sebagai “ayam emas” baru, akal sehat investor masih mempertanyakan apakah investasi jor-joran ini akan sebanding dengan hasilnya. Robot boleh pintar merangkai kode, tapi menghitung untung-rugi masa depan tetap butuh sentuhan manusia. Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, apakah kita sedang di ambang “gelembung AI” yang siap pecah, ataukah ini hanya “tsunami AI” yang sedang mencari arah? Untuk mendalami lebih lanjut, Anda bisa membaca artikel kami tentang Bukan Sekadar Gelembung, Ini Tsunami AI: Siapkah Kamu Jadi Peselancar atau Penonton?.

Menariknya, pasar sering kali menunjukkan sifat yang kurang piknik. Beberapa minggu sebelumnya, Meta mengumumkan rencana mengalokasikan $115 miliar hingga $135 miliar untuk pengembangan AI, dan saham mereka justru melonjak 10 persen. Ajaib, bukan? Seolah-olah, ada robot lain yang memegang tombol “beli” saat itu. Untuk melihat bagaimana raksasa-raksasa ini saling sikut dalam investasi, jangan lewatkan ulasan kami tentang Amazon dan Google Perang Capex AI: Siapa yang Paling Boros, Siapa yang Paling Bodoh?.

Namun, tidak semua setuju dengan narasi “gelembung”. Jensen Huang, CEO NVIDIA – perusahaan pembuat chip yang menjadi “otot” utama di balik sebagian besar AI dunia – bersikeras bahwa peningkatan besar dalam pengeluaran modal adalah hal yang “dibenarkan”. Setelah pernyataannya, saham NVIDIA bahkan naik 8 persen! Ini seperti sang majikan berkata, “Tenang, ini bukan gila, ini investasi masa depan!” Tapi apakah masa depan itu secerah janji robot atau seburam laporan keuangan yang membuat pusing?

Di tengah segala hiruk-pikuk dan ketidakpastian pasar ini, satu hal yang pasti: AI adalah alat yang luar biasa jika Anda tahu cara mengendalikannya. Jangan biarkan pasar atau robot-robot canggih itu mendikte keputusan Anda. Jadilah Majikan yang berakal. Kuasai AI, jangan sampai Anda yang diperbudak olehnya. Untuk benar-benar mengendalikan teknologi ini dan menjadikannya aset, bukan beban, mulailah dengan belajar menjadi ahli. Program AI Master dirancang khusus untuk Anda agar tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.

Pasar boleh jantungan, saham boleh anjlok atau melonjak, tapi ingatlah bahwa di balik setiap gejolak itu ada manusia yang menarik tuas, menekan tombol, dan (seringkali) panik sendiri. AI hanyalah tumpukan kode yang menjalankan perintah. Tanpa akal majikan yang cerdas dan waspada, ia tidak lebih dari asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, yang bisa membakar dapur jika tidak diawasi.

Omong-omong, kok bisa ya kerupuk yang sudah melempem tetap kriuk kalau dibeli online? Misteri hidup ini.

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Michael Nagle/Bloomberg via Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *