Konflik RaksasaSidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

AI Chatbot “Individualis” Bakal Punah? Startup ‘Humans&’ Siap Ajarkan AI Berkolaborasi Seperti Manusia Sejati!

Sudah berapa kali Anda merasa gemas dengan chatbot AI yang cerdasnya minta ampun, tapi begitu diminta koordinasi tim, langsung kaku seperti robot kurang oli? Nah, sepertinya keluhan para majikan ini didengar oleh para jenius dari mantan karyawan Anthropic, Meta, OpenAI, xAI, dan Google DeepMind. Mereka membentuk startup baru bernama Humans&, dan misinya tak main-main: mengajarkan AI bagaimana caranya berkolaborasi, bukan cuma sekadar nyocot satu arah. Ini bukan cuma tentang AI jadi lebih pintar, tapi bagaimana kita, para majikan, bisa memanfaatkan asisten digital ini untuk mengelola tim dan proyek yang ‘rempong’ tanpa harus jadi ‘babunya’ teknologi.

Startup yang baru tiga bulan berdiri ini langsung tancap gas dengan suntikan dana segar sebesar $480 juta, atau sekitar Rp 7 triliun! Bayangkan, duit sebanyak itu hanya untuk mengajarkan AI bergaul. Tujuan Humans& adalah membangun ‘sistem saraf pusat’ untuk ekonomi di mana manusia dan AI bekerja sama. Mereka melihat frontier AI berikutnya bukan lagi di kemampuan menjawab pertanyaan atau membuat kode, tapi pada ‘kecerdasan sosial’ — kemampuan AI untuk mengelola orang dengan prioritas berbeda, melacak keputusan jangka panjang, dan menjaga tim tetap sejalan.

AI chatbot yang ada sekarang memang jagoan dalam hal fakta dan ringkasan, tapi ketika dihadapkan pada dinamika manusia yang penuh drama dan kepentingan, mereka langsung bingung. Ibarat asisten rumah tangga yang rajin bersih-bersih tapi nggak ngerti kenapa Anda harus marah kalau dia nyuci baju putih bareng kaos kaki merah. Itu karena model AI saat ini dioptimalkan untuk respons cepat dan akurat, bukan untuk memahami nuansa atau nilai dari setiap pertanyaan dalam konteks sosial.

Eric Zelikman, CEO dan salah satu pendiri Humans& (eks peneliti xAI), dengan nada sedikit geli menceritakan betapa sulitnya mencapai konsensus tim untuk urusan logo startup mereka sendiri. Nah, model baru mereka dirancang untuk bertanya seperti seorang teman atau kolega yang benar-benar ingin mengenal Anda, bukan cuma melontarkan pertanyaan generik. Ini adalah pendekatan revolusioner di mana produk dan model AI akan ‘berevolusi bersama’, menciptakan antarmuka yang benar-benar intuitif dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan manusia.

Yang menarik, Humans& tidak ingin AI mereka cuma jadi ‘colokan’ untuk aplikasi yang sudah ada. Mereka ingin menguasai lapisan kolaborasi itu sendiri. Artinya, mereka ingin AI mereka menjadi ‘jaringan ikat’ yang memahami keterampilan, motivasi, dan kebutuhan setiap individu dalam sebuah organisasi — dari perusahaan besar hingga keluarga — lalu menyeimbangkan semuanya demi kebaikan bersama. Untuk mencapai ini, mereka harus melatih model AI dengan cara yang berbeda, menggunakan ‘long-horizon’ dan ‘multi-agent reinforcement learning’ (RL). Long-horizon RL melatih AI untuk merencanakan, bertindak, merevisi, dan menyelesaikan tugas dalam jangka waktu panjang, bukan hanya memberikan jawaban sekali jadi. Sementara multi-agent RL melatih AI dalam lingkungan di mana banyak AI dan/atau manusia terlibat. Ini adalah lompatan besar dari sekadar “chatbot pintar” menjadi “rekan kerja cerdas” yang bisa mengingat konteks dan memahami interaksi kompleks.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Tentu saja, jalan menuju sana tidak mudah. Humans& butuh modal raksasa untuk melatih dan mengembangkan model baru ini, yang berarti mereka harus bersaing ketat dengan para ‘Top Dogs’ AI seperti Anthropic, Meta, OpenAI, dan Google DeepMind. Para raksasa ini pun sudah mulai melirik ranah kolaborasi: Claude Cowork dari Anthropic, Gemini yang terintegrasi di Workspace, atau orkestrasi multi-agen dari OpenAI. Namun, bedanya, para raksasa ini belum ada yang berani ‘menulis ulang’ model dasarnya khusus untuk kecerdasan sosial. Di sinilah Humans& melihat celah emas mereka. Bahkan, mereka sudah menolak tawaran akuisisi karena yakin bisa menjadi ‘perusahaan generasi’ yang akan mengubah cara kita berinteraksi dengan AI. Ini mengingatkan kita saat para raksasa teknologi lain masih sibuk debat soal chip atau model dasar yang sudah ada, seperti kritik terhadap CEO Anthropic yang menyentil Nvidia di Davos, startup ini justru melihat gambaran yang lebih besar, dan lebih manusiawi.

Agar Anda sebagai majikan juga tidak kalah canggih dari robot dan bisa mengendalikan AI untuk kolaborasi tim atau membuat konten profesional, ada baiknya Anda belajar cara Kendalikan AI dengan AI Master atau Bikin Konten Pro Mandiri dengan Creative AI Pro. Karena AI hanyalah alat, kitalah majikannya.

Pada akhirnya, sehebat apapun AI diajari berkolaborasi, dia tetap butuh manusia untuk menekan tombol ‘Enter’ dan memberikan arahan yang penuh akal sehat. Ingat, otak manusia itu adalah master orkestra terhebat yang pernah ada, jauh melampaui tumpukan kode paling canggih sekalipun. Tapi kalau disuruh milih, tetap lebih mudah kolaborasi sama AI daripada sama tetangga yang suka pinjam panci tapi lupa balikin.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.

Gambar oleh: Humans& via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *