AI dan Hantu Gas Alam: Ketika Raksasa Teknologi Berburu Energi, Akal Majikan Masih Waras?
Di tengah hingar bingar janji manis AI akan mengubah dunia, ada satu fakta pahit yang sering terlewat: robot-robot cerdas ini butuh listrik. Banyak. Dan sepertinya, bagi para majikan teknologi kelas kakap seperti Meta, Microsoft, dan Google, cara tercepat untuk mendapatkan listrik itu adalah dengan kembali ke “mantan” yang dulu mereka caci maki: gas alam. Pertanyaannya, bagaimana kita, para majikan sejati, bisa memastikan nafsu makan AI yang tak ada habisnya ini tidak menguras dompet dan juga planet kita?
Dahulu kala, era digital digembar-gemborkan akan membawa kita ke masa depan yang serba hijau. Namun, seiring dengan ledakan popularitas kecerdasan buatan, narasi itu mulai retak. Kini, kita menyaksikan fenomena “FOMO” (Fear of Missing Out) jilid sekian yang paling rakus: perebutan pasokan energi untuk pusat data AI.
Microsoft, sang raksasa perangkat lunak, baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan Chevron untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas alam (PLTG) di Texas Barat, dengan potensi kapasitas mencapai 5 gigawatt. Tidak mau kalah, Google juga mengonfirmasi pembangunan PLTG 933 MW di Texas Utara. Paling beringas, Meta bahkan menambah tujuh PLTG baru untuk pusat datanya di Louisiana, meningkatkan kapasitas situs tersebut menjadi 7,46 GW. Itu setara dengan kebutuhan listrik seluruh negara bagian South Dakota! Robot-robot ini tampaknya lebih lapar dari gorila yang baru bangun tidur.
Pengejaran gas alam ini tak pelak memicu krisis. Laporan dari Wood Mackenzie menunjukkan bahwa harga turbin untuk PLTG diperkirakan akan naik 195% pada akhir tahun ini dibandingkan tahun 2019. Perusahaan-perusahaan teknologi besar ini harus memesan turbin jauh-jauh hari, bahkan hingga tahun 2028, dengan waktu pengiriman mencapai enam tahun. Ini berarti mereka bertaruh besar bahwa “demam AI” tidak akan mereda, bahwa kebutuhan daya AI akan terus meroket, dan bahwa gas alam adalah satu-satunya juru selamat. Mereka mungkin akan menyesali asumsi ketiga ini.
Memang, pasokan gas alam di AS cukup melimpah. Namun, “cukup” bukan berarti “tak terbatas”. Pertumbuhan produksi di tiga wilayah penghasil gas serpih terbesar di AS sudah melambat. Belum lagi fluktuasi harga yang bisa memukul keras, meskipun mereka mengklaim memiliki kontrak harga yang “firm”. Masalahnya, kita semua tahu, janji robot itu seringkali lebih licin dari belut.
Bahkan jika perusahaan-perusahaan ini berhasil melindungi diri dari kenaikan harga, dampak sosial dan lingkungan tetap tak terhindarkan. Gas alam menyumbang sekitar 40% dari produksi listrik di AS, sehingga kenaikan harga gas akan langsung memengaruhi tagihan listrik rumah tangga. Perusahaan-perusahaan teknologi mungkin bangga bisa “membawa listrik sendiri” dengan membangun PLTG di belakang meteran, langsung ke pusat data mereka. Namun, ini hanyalah ilusi. Mereka hanya menggeser beban dari satu jaringan (listrik) ke jaringan lainnya (gas alam). Ingat, ketika AI haus daya, manusia ikut kena getahnya.
Lalu, bagaimana jika musim dingin tiba dan pasokan gas seret karena cuaca ekstrem, seperti yang terjadi di Texas pada 2021? Pemasok gas akan dihadapkan pada pilihan sulit: menghidupkan pusat data AI atau membiarkan rumah tangga tetap hangat? Ini bukan hanya tentang robot yang butuh makan, ini tentang prioritas manusiawi. Warga bahkan lebih suka gudang Amazon di pekarangan mereka daripada pusat data AI, sebuah indikasi jelas di mana prioritas masyarakat berada.
Pusat data AI yang makin menjamur ini bukan cuma boros energi, tapi juga membutuhkan infrastruktur yang masif. Ingat, AI itu hanyalah asisten rumah tangga yang rajin, tapi kaku. Dia bisa melakukan tugas-tugas kompleks, tapi tidak bisa berpikir di luar kotak, apalagi merasakan dampak lingkungan atau sosial dari kehadirannya. Untuk itu, dibutuhkan akal sehat sang majikan.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Agar kamu tidak hanya jadi penonton drama robot yang haus energi ini, mulailah kuasai AI dari sekarang. Jadilah majikan yang cerdas, yang tahu bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa diperbudak olehnya. Pelajari cara mengendalikan AI, agar kamu bisa mengarahkan energinya untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat, bukan cuma untuk menggerakkan server raksasa yang boros. Kami merekomendasikan kursus AI Master untuk membekalimu menjadi majikan teknologi yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, tanpa manusia yang menekan tombol, mengarahkan tujuan, dan memikirkan konsekuensi, AI hanyalah tumpukan kode mati yang haus energi. Jangan biarkan robot mengendalikan masa depan kita, apalagi sampai bikin kita balik ke zaman batu karena kehabisan sumber daya. Akal kitalah yang paling cerdas, bukan algoritma yang kurang piknik itu.
Dan omong-omong, siapa yang tahu kalau nanti robot-robot ini mulai minta dibikinkan kopi susu dingin setiap pagi?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: wenbin / Getty Images via TechCrunch