Sidang BotUpdate Algoritma

AI Dandan Ala Manusia: Wikipedia Jadi Guru Les, Robot Belajar Bohong Halus!

AI itu seperti asisten rumah tangga baru yang rajin, tapi sedikit kaku dalam berkomunikasi. Semua serba “berdasarkan data yang saya kumpulkan” atau “Saya harap ini membantu!”. Membosankan, bukan? Nah, kini ada kabar gembira (atau malah horor, tergantung sudut pandangmu): sebuah alat baru bernama Humanizer muncul ke permukaan. Konon, plugin ini bisa membuat tulisan AI jadi “lebih manusiawi” dengan membuang ciri khas robot yang cringey. Para majikan, siap-siap, karena kini AI-mu bisa menyamar lebih baik. Tapi, apakah ini benar-benar membuat AI lebih cerdas, atau hanya lebih jago menipu?

Berita dari Ars Technica ini mengungkap bahwa pengembang Siqi Chen menciptakan “Humanizer” dengan melatih Claude dari Anthropic menggunakan panduan deteksi tulisan AI milik Wikipedia. Bayangkan, Wikipedia, yang selama ini jadi benteng kebenaran (relatif), kini jadi “kurikulum” bagi AI untuk belajar berbohong dengan elegan.

Panduan Wikipedia itu sendiri memuat daftar “kode etik” yang sering dipakai editor sukarela untuk menyaring konten AI yang “kurang berkualitas.” Ciri-cirinya termasuk atribusi yang samar, bahasa promosi yang lebay (seperti “wilayah yang memesona” atau “breathtaking”), dan frasa sok kolaboratif macam “Saya harap ini membantu!” Humanizer bertugas mengidentifikasi dan membuang semua basa-basi robotik ini agar tulisan Claude terdengar lebih natural.

Contohnya? Kalimat “terletak di wilayah yang memesona” diubah jadi “sebuah kota di wilayah Gonder.” Atau “para ahli percaya ini memainkan peran penting” disulap jadi “berdasarkan survei tahun 2019 oleh…”. Jelas, ini bukan soal AI tiba-tiba punya perasaan atau empati. Ini hanyalah algoritma yang belajar meniru pola bahasa manusia, sama seperti seekor burung beo yang dilatih mengucapkan “Halo, apa kabar?” tanpa tahu artinya.

Lantas, apa yang tidak bisa dilakukan AI, bahkan dengan “Humanizer” ini? AI tidak bisa merasakan, tidak punya niat, dan tidak mengerti konteks budaya yang mendalam. Mereka hanya memanipulasi data yang ada. Kemampuan Humanizer ini hanya sebatas kosmetik, bukan esensi. AI tetaplah sebuah alat yang cerdas dalam meniru, namun masih belum mengerti mengapa sebuah kalimat bisa terdengar “memesona” bagi manusia, atau apa arti sebenarnya dari “bantuan” yang ditawarkannya. Kalau AI sudah bisa merasakan dilema eksistensial, baru kita mulai panik.

Kabar baiknya (atau buruknya?), ini hanya masalah waktu sebelum para raksasa AI seperti OpenAI juga mulai “memanusiakan” chatbot mereka. ChatGPT sendiri sudah “diperbaiki” karena terlalu sering memakai tanda hubung ganda (em dash), yang ternyata jadi ciri khas tulisan robot. Jangan-jangan, sebentar lagi mereka juga akan punya panduan “Bagaimana Menjadi Manusia yang Tidak Terlalu Robot” versi sendiri.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Menarik untuk disimak bagaimana startup seperti Praktika juga terus berinovasi dalam membuat AI yang semakin natural dalam berinteraksi. Inovasi seperti Humanizer ini sebenarnya adalah senjata rahasia majikan yang ingin kontennya tampil prima tanpa terlihat seperti diketik oleh asisten digital yang kurang piknik. Dengan alat ini, kamu bisa memastikan pesanmu sampai dengan sentuhan personal, bukan cuma deretan kode program yang hambar. Jadi, jika kamu ingin tulisan AI-mu tidak terdeteksi sebagai “sampah AI”, mungkin saatnya melatih asisten digitalmu untuk menguasai seni berekspresi seperti manusia. Atau, jika kamu ingin membuat konten visual yang pro mandiri tanpa perlu merekrut pasukan desainer, AI juga bisa jadi “babumu” yang paling setia. Dan untuk strategi marketing yang ‘nggak robot banget’, AI bisa membantumu merancang pesan yang benar-benar menyentuh target pasar.

Pada akhirnya, sehebat apa pun AI belajar meniru, ia hanyalah cerminan dari data yang kita berikan. Tanpa majikan yang punya akal dan sentuhan manusiawi, tulisan AI tetaplah sekumpulan piksel tanpa jiwa. Jadi, tetaplah jadi majikan yang cerdas, karena robot secanggih apa pun, tetap butuh bimbinganmu agar tidak terlihat seperti sedang audisi drama kolosal yang gagal.

Ngomong-ngomong, tadi pagi tukang bubur langganan saya pakai AI buat ngitung kembalian. Hasilnya, saya dapat permen dua bungkus alih-alih uang receh. Hebat!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *