AI Bikin Video Anti-ICE: Katarsis Virtual atau Halusinasi Berbahaya di Linimasa Medsos?
Cerita tentang kepala sekolah di NYC yang mengusir agen ICE dengan tongkat baseball mungkin terdengar seperti mimpi basah para aktivis, apalagi jika disusul adegan pelayan melempar mi ke agen atau pemilik toko yang mengklaim hak Amandemen Keempatnya. Kedengarannya heroik, bukan? Sayangnya, semua itu hanyalah fiksi. Diciptakan oleh algoritma, tersebar di Instagram dan Facebook, video-video ini bukan refleksi realitas, melainkan “fanfic” buatan AI. Ini adalah contoh bagaimana manusia memanfaatkan AI untuk menciptakan narasi yang mereka inginkan, meskipun risikonya tak kalah nyata. Sebagai majikan AI, kita harus tahu kapan asisten digital kita sekadar berimajinasi dan kapan ia mulai mengancam akal sehat kita.
Video-video anti-ICE yang dihasilkan AI ini muncul di tengah ketegangan akibat tindakan Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minneapolis, di mana dua warga AS tewas tertembak oleh agen pemerintah. Renee Nicole Good, ibu tiga anak berusia 37 tahun, dan Alex Pretti, seorang perawat ICU US Department of Veterans Affairs berusia 37 tahun, sama-sama tidak bersenjata saat ditembak mati. Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, fantasi menjadi pelarian. Video-video AI ini menawarkan keadilan yang direvisi, sebuah dunia digital di mana agen ICE tunduk pada hukum seperti kita.
Namun, AI, secerdas-cerdasnya, hanya bisa mereplikasi pola. Ia tak punya empati, tak punya akal sehat, apalagi nurani. Video-video ini, meskipun mungkin terasa katarsis bagi sebagian orang yang ingin melihat keadilan “terbalik”, justru berisiko tinggi. AI tak bisa membedakan antara realitas dan fantasi, dan parahnya, ia juga tak peduli. Bagi AI, semua adalah data, semua adalah perintah.
Joshua Tucker, co-director New York University’s Center for Social Media, AI, and Politics, menyebutkan bahwa video-video AI anti-ICE semacam ini bertujuan untuk membanjiri media sosial dengan narasi yang selaras dengan pandangan tertentu dan menjadikannya viral. Ini adalah bentuk lain dari manipulasi politik, mirip dengan yang dilakukan oleh pemerintahan Trump yang pernah mengunggah foto aktivis dengan narasi palsu untuk menjuluki mereka “agitator sayap kiri”.
Yang lebih mengerikan adalah ketika video AI ini membuat masyarakat semakin skeptis terhadap bukti visual yang asli. Ketika video asli Alex Pretti yang berkonfrontasi dengan petugas ICE dipertanyakan keasliannya karena “mirip AI” di Instagram dan YouTube, di situlah kita tahu AI sudah mengganggu fondasi kepercayaan publik. Robot bodoh ini, meskipun “pintar” membuat video, belum mengerti konsekuensi dari kebohongan yang disebarkannya.
Menurut Nicholas Arter, pendiri AI For The Culture, sulit untuk mengaitkan satu motivasi tunggal kepada para pembuat video ini. Beberapa memang terlihat seperti “fanfiction”, namun banyak juga yang mengejar viralitas atau monetisasi dengan memanfaatkan konten kontroversial. Ironisnya, saat kita dihadapkan pada “realita ganda di Minneapolis”, di mana AI membuat kita sulit percaya mata sendiri, kita perlu lebih waspada. Baca artikel lengkapnya di sini.
Akal manusialah yang harus menjadi filter utama. Jangan sampai robot dengan segala kecerdasannya justru menumpulkan kemampuan kita dalam membedakan kebenaran. Untuk para majikan yang ingin menguasai dunia visual AI dan memastikan robot Anda tidak kelewatan batas etika, saatnya Belajar AI | Visual AI. Pastikan Anda yang jadi penguasa, bukan AI yang malah bikin cerita fiksi yang menyesatkan. Atau jika Anda ingin lebih jauh mengendalikan AI agar tetap menjadi asisten yang patuh dan tidak ‘ngaco’ saat menghasilkan konten, program AI Master adalah solusinya. Jangan sampai robot Anda punya akal tapi Anda kehilangan kendali!
Pada akhirnya, video-video fantasi AI ini adalah cerminan betapa putus asanya manusia mencari keadilan. Tapi ingat, robot tak punya idealisme, mereka hanya meniru. Akal manusialah yang harus membedakan mana realita dan mana halusinasi digital yang disajikan AI. Tanpa sentuhan jari majikan yang waras, AI hanyalah tumpukan kode yang siap membuat kekacauan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di WIRED.
Gambar oleh: WIRED Staff; Getty Images via TechCrunch