AI Berlagak Jadi Manusia: CEO Superhuman Terpojok di Balik Kasus Peniruan Identitas ‘Ahli’!
Kisah ini bagaikan skenario film horor teknologi: Anda seorang ahli di bidangnya, tiba-tiba algoritma AI memutuskan untuk “meniru” identitas Anda, memberikan saran seolah-olah dari Anda, tanpa izin, tanpa kompensasi! Inilah yang terjadi pada jurnalis kawakan seperti Nilay Patel dan Julia Angwin, yang namanya dicatut oleh fitur “Expert Review” Grammarly, sebuah produk dari perusahaan Superhuman.
Fitur itu memungkinkan pengguna mendapatkan saran menulis dari “ahli” yang dikloning AI. Masalahnya, nama-nama seperti Patel dan Angwin, bahkan pemikir besar bell hooks, muncul sebagai “inspirasi” tanpa ada persetujuan sebelumnya. Alhasil, gelombang kemarahan pun meledak, berujung pada gugatan class action yang menohok.
Shishir Mehrotra, CEO Superhuman, akhirnya angkat bicara dalam sebuah wawancara. Dengan nada sedikit (atau banyak) tersudut, ia mengakui bahwa fitur tersebut “tidak bagus,” “off-strategy,” dan berulang kali meminta maaf. Namun, dia bersikeras bahwa ini bukan “peniruan” identitas, melainkan hanya “atribusi standar” terhadap karya yang sudah ada di internet. Sebuah argumen yang, terus terang, membuat kami di Majikan AI mengernyitkan dahi. Sejak kapan mengarang bebas atas nama orang lain itu namanya atribusi?
Verge subscribers, don’t forget you get exclusive access to ad-free Decoder wherever you get your podcasts. Head here. Not a subscriber? You can sign up here.
Ketika AI Mengklaim Diri Sebagai ‘Ahli’: Antara Atribusi dan Kekonyolan
Kasus Grammarly ini menyoroti garis tipis (atau mungkin sudah tidak tipis lagi) antara atribusi yang sah dan peniruan identitas yang merugikan. Mehrotra berdalih bahwa setiap saran dilengkapi dengan “disclosure” yang menyatakan “terinspirasi oleh orang ini” dan “tidak ada hubungan dengan orang ini,” dengan tautan kembali ke karya aslinya. Tapi, apakah itu cukup?
Nilay Patel, yang namanya ikut terseret, dengan tegas membantah. “Ini bukan atribusi. Anda hanya mengarang sesuatu dan menaruh nama saya di sana,” ujarnya. Dia bahkan mengutip contoh saran editan yang dihasilkan AI atas namanya yang menurutnya “buruk” dan “tidak pernah ia katakan selama 15 tahun menjadi editor.” Ini adalah bukti nyata bahwa AI, dengan segala kemajuan LLM-nya, masih punya keterbatasan fundamental. Ia mungkin bisa mengumpulkan informasi, tapi tidak bisa meniru rasa, penilaian, atau gaya unik seorang manusia.
Fenomena ini bukan hal baru. Mehrotra sendiri punya pengalaman pahit saat masih di YouTube menghadapi gugatan hak cipta Viacom. Namun, ia berpendapat bahwa kasus-kasus lama ini tidak bisa sepenuhnya diterapkan pada era AI, di mana garis antara hak cipta, merek dagang, dan kemiripan menjadi semakin kabur. Uni Eropa bahkan sudah mengusulkan untuk memperluas undang-undang hak cipta agar mencakup kemiripan (likeness), sebuah langkah yang menunjukkan betapa krusialnya masalah ini.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Satu hal yang jelas: persepsi publik terhadap AI saat ini tidak baik. Sebuah survei NBC News menunjukkan AI memiliki persepsi negatif, bahkan di bawah ICE (Immigration and Customs Enforcement). Mengapa? Mehrotra meyakini ini karena orang takut kehilangan pekerjaan. Namun, Patel membalas dengan argumen bahwa AI terasa “ekstraktif” — mengambil karya kolektif manusia di internet tanpa kompensasi, lalu menggunakannya untuk mengganti manusia itu sendiri.
Bagaimana kreator bisa bertahan di tengah badai ini? Mehrotra menawarkan solusi lewat platform Superhuman Go, di mana kreator bisa membangun “agen” dari diri mereka sendiri, mendokumentasikan gaya kerja mereka, dan mendapatkan bagi hasil 70/30. Konsep ini mirip dengan “teori 1.000 penggemar,” di mana kreator fokus membangun koneksi mendalam dengan audiens yang lebih kecil tapi loyal. Namun, ini juga berarti para Majikan harus bekerja ekstra keras untuk membangun model bisnis baru, setelah karya mereka sebelumnya telah “diambil tanpa kompensasi” oleh AI.
Pertanyaannya: apakah AI agen ini bisa sebaik aslinya? Mehrotra optimistis, menunjuk Grammarly yang sukses membantu tata bahasa. Tapi ia mengakui, untuk hal-hal yang butuh kreativitas dan gaya unik, AI mungkin hanya bisa “rata-rata”. Seperti saat ChatGPT ngawur dan Google Gemini gagal paham, fitur-fitur seperti “Expert Review” Grammarly ini menunjukkan bahwa AI masih sering “kurang piknik” dalam urusan kreativitas dan empati.
Jangan Jadi Babu Algoritma, Jadilah Majikan Sejati!
Kasus Grammarly ini adalah pengingat keras: AI hanyalah alat. Ia tidak punya moralitas, tidak punya rasa hormat, dan seringkali tidak punya akal sehat jika tidak diprogram dengan benar. Tanpa sentuhan dan bimbingan manusia, ia bisa seenaknya mengklaim identitas dan merusak reputasi.
Bagi Anda yang tak mau jadi ‘babu’ algoritma dan ingin menguasai AI layaknya Majikan sejati, mungkin sudah saatnya mengasah kemampuan di platform seperti AI Master. Atau jika Anda ingin agar konten Anda tetap punya ‘rasa’ dan tidak terdengar seperti robot, Creative AI Pro bisa jadi solusi untuk membuat konten pro mandiri tanpa harus membebani anggaran Anda dengan merekrut banyak talenta.
Ingatlah, manusia adalah penguasa tertinggi. AI hanya tumpukan kode mati tanpa Majikan yang punya akal. Jadi, pastikan Anda yang memegang kendali, bukan sebaliknya.
***
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Confronting the CEO of the AI company that impersonated me”
Gambar oleh: A photo illustration of Superhuman CEO Shishir Mehrotra. via The Verge
Omong-omong, ada yang tahu cara membuat mie instan rasa rendang agar bumbunya meresap sempurna tanpa perlu direbus terlalu lama?