AI: Bencana Hak Cipta yang Mengancam Akal Sehat Majikan
Hak cipta? Mungkin Anda menganggapnya seperti kuitansi belanja bulanan, jarang diperhatikan sampai ada masalah. Tapi di era serba digital ini, saat konten bertebaran seperti remahan keripik di keyboard, kita semua adalah ‘majikan’ bagi karya kita sendiri. Mulai dari status Facebook yang Anda tulis, resep Indomie goreng inovatif Anda, hingga foto kucing yang lagi rebahan, semua itu adalah karya berhak cipta Anda. Nah, sekarang bayangkan jika ada ‘asisten rumah tangga’ super rajin tapi kurang piknik bernama AI, yang mulai mengumpulkan semua remahan keripik itu tanpa izin. Inilah bencana hak cipta yang sedang terjadi, dan dampaknya mengenai kita semua, para majikan dengan akal sehat!
Perlombaan para raksasa teknologi untuk menciptakan AI paling canggih tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Untuk membangun model-model ‘pintar’ tersebut, perusahaan AI membutuhkan bahan bakar utama: data berkualitas tinggi yang dibuat manusia. Mereka perlu ‘memakan’ tulisan Anda, seni Anda, bahkan video Anda, agar chatbot mereka bisa lebih ‘manusiawi’ atau generator gambar mereka bisa ‘melukis’ dengan gaya yang lebih ciamik. Di sisi lain, para ‘majikan’ AI yang antusias bertanya-tanya, apakah karya yang mereka hasilkan dengan bantuan robot bisa juga mendapat perlindungan hak cipta? Spoiler alert: Ini lebih rumit dari merakit meja IKEA tanpa buku panduan!
AI: Bencana Hak Cipta yang Mengancam Akal Sehat Majikan
Secara dasar, hukum hak cipta melindungi “karya orisinal kepenulisan yang terikat dalam medium ekspresi berwujud, yang kini dikenal atau nanti dikembangkan, yang darinya mereka dapat dipersepsikan, direproduksi, atau dikomunikasikan,” begitu bunyi Undang-Undang Hak Cipta tahun 1976 di AS. Intinya, jika Anda membuat sesuatu yang orisinal, Anda adalah pemiliknya. Sederhana, bukan? Sampai si robot mulai ikut campur. Isu hak cipta dan AI ini sedang panas-panasnya, dengan lebih dari 30 gugatan hukum yang bertebaran di pengadilan AS.
Contohnya, ada kasus The New York Times vs. OpenAI, di mana penerbit raksasa itu menuduh ChatGPT menggunakan berita mereka bulat-bulat tanpa izin. Bahkan, induk perusahaan CNET (Ziff Davis) juga ikut menggugat OpenAI karena alasan yang sama. Bayangkan, robot yang Anda latih dengan susah payah, kini malah ‘mencuri’ karya majikannya sendiri!
Lalu, bagaimana dengan karya yang dihasilkan oleh AI? Apakah bisa dihak ciptakan? Jawabannya: tergantung seberapa besar campur tangan ‘akal majikan’ Anda. Jika AI membuat karya itu sepenuhnya, misalnya sebuah gambar, tanpa sentuhan kreativitas signifikan dari Anda, maka hak ciptanya bisa jadi tidak diakui. Ini seperti Anda menyuruh asisten rumah tangga memasak, lalu mengklaim resepnya sebagai milik Anda. Tentu saja, itu resepnya si asisten!
Namun, jika Anda menggunakan AI sebagai ‘alat bantu’ untuk mengedit, menambah, atau menyempurnakan karya orisinal Anda, dan ada cukup ‘keringat’ akal manusia di dalamnya, maka Anda berpeluang mendapatkan hak cipta. Kuncinya? Keterbukaan. Anda harus jujur tentang peran AI dalam proses kreatif Anda. Karena secanggih-canggihnya robot, tetap saja mereka butuh bimbingan Majikan yang punya akal.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Fair Use: ‘Kartu Sakti’ Raksasa Teknologi (yang Bikin Kreator Pusing)
Di Amerika, ada doktrin bernama “Fair Use” yang memungkinkan penggunaan materi berhak cipta tanpa izin untuk tujuan tertentu, seperti pendidikan atau berita. Nah, raksasa teknologi ini mati-matian ingin agar pelatihan AI mereka masuk kategori ‘fair use’. Alasannya? Agar mereka bisa menggunakan data jutaan kreator tanpa perlu repot minta izin satu per satu apalagi bayar royalti! Ini seperti mereka ingin membawa pulang semua buku di perpustakaan gratis, padahal buku itu bukan sumbangan mereka.
Dua gugatan besar, Anthropic dan Meta, bahkan telah memenangkan kasus serupa, dengan hakim menganggap penggunaan karya berhak cipta mereka untuk pelatihan AI “sangat transformatif”. Tentu saja, para kreator tidak tinggal diam. Lebih dari 400 penulis, aktor, dan sutradara telah menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintah AS untuk tidak memberikan pengecualian ‘fair use’ kepada perusahaan AI. Mereka mengingatkan bahwa tanpa manusia menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak punya akal. Mengingatkan kita akan nilai fundamental dari sebuah ciptaan.
Ini bukan cuma soal duit, tapi juga tentang etika dan penghargaan terhadap karya manusia. Mau sampai kapan robot boleh ‘nyolong’ ilmu tanpa bayar? Atau bahkan meniru gaya kita tanpa mengakui?
Jangan sampai AI malah menggantikan peran Anda sebagai ‘majikan’ kreativitas. Jika Anda seorang kreator konten, desainer, atau siapa pun yang berkarya di era digital, mempelajari cara mengendalikan AI dan memanfaatkannya sebagai alat bantu adalah kunci. Jangan biarkan AI menjadi majikan baru yang tak punya etika.
Jadilah Majikan AI sejati yang cerdas dan berakal. Kuasai teknik membuat konten yang “nggak robot banget” dengan Creative AI Pro. Atau, jika Anda ingin benar-benar mengendalikan asisten digital Anda dan bukan sebaliknya, ikutlah program AI Master. Sebab, AI hanyalah alat, kitalah majikannya yang punya akal.
Ini adalah perdebatan besar yang akan membentuk masa depan kreativitas dan ekonomi digital. Apakah kita akan menjadi masyarakat yang menghargai akal manusia, atau justru membiarkan mesin tanpa akal merajalela? Ingat, secanggih-canggihnya robot, mereka tidak akan pernah bisa merasakan indahnya rebahan setelah bekerja keras.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.
Gambar oleh: Greggory DiSalvo/iStock via Getty Images