Apple Rogoh Kocek Rp2 Triliun Demi Otak AI Baru: Siapakah Majikan Sejati di Balik Perang Teknologi Ini?
Perang dingin di ranah kecerdasan buatan semakin memanas. Kali ini, raksasa teknologi Apple unjuk gigi dengan mengakuisisi startup Israel bernama Q.AI senilai hampir Rp2 triliun. Ya, Anda tidak salah dengar. Angka fantastis ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan sekelas Apple pun rela merogoh kocek dalam-dalam demi seonggok “otak” tambahan untuk para asisten digitalnya. Tapi, benarkah dengan modal segitu, AI bisa langsung jadi “jenius” tanpa akal sehat majikan? Mari kita bedah.
Apple, Meta, dan Google. Tiga serangkai ini seolah berlomba lari maraton tanpa garis finis, memperebutkan posisi teratas di gelombang baru AI. Dan strategi mereka? Fokus pada hardware, bukan cuma software. Akuisisi Q.AI ini bukan sekadar berita biasa, melainkan sebuah manuver strategis Apple untuk memperkuat diri di sektor audio. Q.AI dikenal jagoan dalam teknologi pencitraan dan pembelajaran mesin, khususnya dalam menerjemahkan bisikan halus dan menjernihkan suara di tengah riuhnya keramaian.
Bayangkan saja, AirPods Anda nanti bisa lebih peka mendengar perintah bisikan Anda, bahkan saat Anda sedang menyelinap di antara kerumunan ibu-ibu diskonan. Atau, Vision Pro Apple yang konon katanya canggih itu, bisa mendeteksi gerakan otot wajah yang paling minim sekalipun. Bukankah ini terdengar seperti fitur yang dibuat untuk memanjakan majikan agar tidak perlu banyak berinteraksi secara fisik?
Namun, jangan cepat-cepat terpukau. Ingat, AI ini pada dasarnya adalah pembantu yang sangat rajin tapi butuh instruksi jelas. Secanggih apapun teknologi yang dibeli Apple, jika majikannya tidak tahu cara memberikan perintah yang presisi, hasilnya bisa jadi “AI yang masih perlu sekolah.” Q.AI bahkan punya teknologi yang bisa mendeteksi aktivitas otot wajah. Kedengarannya impresif, tapi apakah itu berarti Vision Pro Anda akan tahu saat Anda sedang cemberut karena Wi-Fi lemot? Mungkin. Tapi apakah dia bisa memperbaikinya? Belum tentu.
Akuisisi ini menjadi yang terbesar kedua bagi Apple, setelah pembelian Beats Electronics senilai Rp3 triliun pada tahun 2014. Ironisnya, CEO Q.AI, Aviad Maizels, bukan kali pertama menjual perusahaannya ke Apple. Ia sebelumnya menjual PrimeSense, perusahaan sensor 3D, pada 2013 yang berperan penting dalam transisi Face ID di iPhone. Ini seperti kisah cinta lama bersemi kembali, tapi dengan dana yang lebih menggiurkan. Tentu, mereka berpengalaman. Tapi, kembali lagi, secanggih apa pun teknologinya, akal manusia lah yang harus mengendalikannya.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Q.AI sendiri baru meluncur pada tahun 2022 dan sudah didukung oleh investor kakap seperti Kleiner Perkins dan Gradient Ventures. Tim pendirinya pun akan langsung bergabung dengan Apple. Ini menunjukkan betapa seriusnya Apple mengejar dominasi AI, terutama menjelang laporan keuangan kuartalan mereka yang diprediksi mencetak pendapatan sekitar Rp1.380 triliun dengan pertumbuhan penjualan iPhone terkuat dalam empat tahun.
Ini adalah kabar baik bagi para majikan yang ingin perangkat mereka semakin “tahu diri.” Namun, ingatlah bahwa fitur-fitur ini hanya akan berfungsi maksimal jika Anda, sang majikan, tahu cara memanfaatkannya. Jangan sampai iPhone Anda makin pintar, tapi Anda malah makin malas berpikir. AirPods Pro 3 Diskon Gede: Saatnya Akal Majikan Beraksi, Bukan Cuma Jadi Babu Diskon! bisa jadi pengingat betapa pentingnya akal sehat dalam memilih teknologi, apalagi kalau sampai Apple Mau Bikin AI Pin Seukuran AirTag: Inovasi Brilian atau Cara Baru Nguras Dompet Kita?
Untuk memastikan Anda selalu menjadi majikan, bukan sekadar babu teknologi yang tergiur diskon, kami merekomendasikan AI Master. Pelajari cara mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Atau jika Anda ingin menguasai visual AI agar tidak kalah canggih dari robot yang belajar mengenali bisikan, intip juga Belajar AI | Visual AI.
Pada akhirnya, AI hanyalah tumpukan kode dan chip mahal yang menunggu sentuhan dan arahan dari tuannya. Tanpa akal manusia yang menekan tombol, mengarahkan, dan memberikan konteks, semua kecanggihan ini hanya akan jadi robot kaku yang kurang piknik.
Ngomong-ngomong, kucing saya tadi pagi minta dibuatkan kopi robusta pakai V60, katanya biar inspirasinya tidak “halu” seperti AI.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch, Reuters, dan The Financial Times.
Gambar oleh: Cheng Xin / Getty Images via TechCrunch