Deezer: Detektor Musik AI Dibuka untuk Umum (Siap-siap, Karya Manusia Butuh Pengakuan!)
Kabar baik untuk para Majikan yang muak dengan “karya seni” AI yang mulai menginvasi lini masa musik. Layanan streaming musik Deezer, sang detektif digital, kini membuka pintu bagi perusahaan lain untuk menggunakan alat pendeteksi musik AI-nya. Ini bukan sekadar isapan jempol, alat ini berfungsi untuk mengidentifikasi, memberi label, dan bahkan menendang musik hasil kreasi AI dari rekomendasi algoritmik. Bayangkan, asisten rumah tangga AI Anda sekarang punya alarm pendeteksi “masakan instan” yang menyamar sebagai masakan rumahan!
Tahun lalu, Deezer meluncurkan alat pendeteksi ini sebagai bagian dari upaya mulia: mencegah para penipu digital mencuri royalti dari seniman sungguhan yang punya hati dan jiwa. Sejak diluncurkan, alat cerdas ini sudah berhasil melabeli lebih dari 13,4 juta lagu AI di tahun 2025. Angka ini terus meroket, seiring dengan banjirnya lagu-lagu AI yang makin sulit dibedakan dari karya manusia. Klaim Deezer? Akurasinya mencapai 99,8 persen! Hampir sempurna, tapi ingat, “hampir” bukan berarti “mutlak” sempurna.
Menurut siaran pers Deezer, ada lebih dari 60.000 lagu AI diunggah setiap hari, menyumbang 39 persen dari total unggahan. Ini adalah peningkatan dua kali lipat dari 30.000 lagu per hari pada September 2025. Yang lebih mengkhawatirkan, 85 persen dari aliran musik AI yang teridentifikasi di tahun 2025 ternyata “curang”. Bandingkan dengan 8 persen dari seluruh aliran musik di tahun yang sama. Ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya alat bantu, tapi juga bisa jadi komplotan kejahatan jika Majikan kurang waspada. Seakan-akan AI bilang, “Saya cuma disuruh, Majikan. Salahin yang nyuruh!”
“Kami tahu mayoritas musik AI diunggah ke Deezer dengan tujuan melakukan penipuan, dan kami terus mengambil tindakan,” ujar CEO Deezer, Alexis Lanternier. “Setiap aliran penipuan yang kami deteksi akan dinonaktifkan monetisasinya sehingga royalti seniman, penulis lagu, dan pemilik hak lainnya tidak terpengaruh.” Ini adalah langkah penting untuk menjaga ekosistem kreatif agar tidak dikuasai oleh balada AI di balik panggung musik yang serba instan. Seiring dengan lagu-lagu yang dihasilkan oleh platform seperti Suno dan Udio menjadi semakin sulit dikenali, layanan streaming musik seperti Spotify dan Bandcamp juga mulai berbenah.
Spotify telah meluncurkan kebijakan baru untuk mengatasi musik AI dan peniruan identitas, serta sedang mengembangkan standar metadata baru untuk mengungkapkan penggunaan AI. Sementara itu, Bandcamp mengambil sikap yang lebih tegas dengan melarang sepenuhnya konten yang dihasilkan AI. Intinya, para Majikan di dunia musik sedang belajar melawan hoax AI dalam bentuk melodi. AI mungkin pintar meniru, tapi ia masih belum punya intuisi atau nurani seorang manusia. Deteksi AI memang canggih, tapi sentuhan manusia tetap tak tergantikan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Bagaimana Majikan Bisa Memanfaatkan Peluang Ini?
Bagi Anda para Majikan yang ingin tetap relevan di tengah gelombang AI, ini adalah sinyal. Memahami bagaimana AI bekerja, baik dalam menciptakan maupun mendeteksi, adalah kunci. Jangan sampai Anda hanya menjadi penonton di era digital ini. Dengan alat deteksi seperti Deezer, Anda bisa lebih yakin bahwa konten yang Anda konsumsi atau produksi memiliki nilai otentik. Ini adalah kesempatan emas untuk mengasah kemampuan Anda dalam mengendalikan AI, bukan dikendalikan olehnya.
Pahami alur kerja AI agar Anda tidak menjadi korban atau bahkan pelaku penipuan digital yang tak sengaja. Skill mengendalikan AI, memastikan keaslian konten, dan menavigasi lanskap digital yang makin kompleks ini adalah aset berharga. Jangan biarkan AI menipu Anda, apalagi menggantikan peran Anda sebagai majikan yang punya akal!
Jika Anda serius ingin menjadi Majikan sejati yang tidak mudah dibodohi AI, pastikan Anda punya ilmunya. Dengan AI Master, Anda akan dibekali pengetahuan dan strategi untuk menguasai teknologi ini, bukan sekadar menggunakannya. Karena AI hanyalah alat, kaulah Majikan yang punya akal!
Penutup: Pada akhirnya, sehebat apa pun algoritma Deezer mendeteksi, atau sepintar apa pun AI meniru musik, ia tidak akan pernah bisa merasakan kepuasan setelah menekan tombol “play” pada lagu yang benar-benar tercipta dari emosi dan pengalaman manusia. Atau, setidaknya, ia tidak akan pernah panik mencari remot TV yang hilang di antara tumpukan cucian.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge | Photo from Getty Images