Gesekan Digital Membunuh Produktivitas UK: Saatnya AI Beraksi (Tapi Ingat, Kaulah Majikan!)
Dunia kerja itu sudah cukup rumit, apalagi kalau ditambah “gesekan digital.” Istilah ini bukan cuma soal Wi-Fi lemot atau laptop nge-freeze saat deadline. Lebih dari itu, di Inggris Raya, gesekan digital ini diam-diam jadi pembunuh produktivitas yang sadis, merugikan bisnis miliaran, dan membuat karyawan ingin resign berjamaah.
Bayangkan, hampir separuh (46%) bisnis di UK mengaku kehilangan pendapatan karena masalah teknologi sepele ini. Lebih parah lagi, 55% proyek vital terhambat gara-gara sistem yang “kurang piknik.” Di saat ekonomi sedang sulit dan perusahaan dituntut efisien, masalah teknis sehari-hari bukan lagi sekadar “ups,” tapi sudah jadi “wah gawat!”
Ketika Robot Bikin Pusing, Bukan Solusi
Andrew Hewitt, Wakil Presiden Teknologi Strategis di TeamViewer, menyoroti bahwa gesekan digital sering diremehkan. Padahal, dampak kumulatifnya jauh dari sepele. Karyawan menghabiskan waktu berharga untuk hal-hal remeh: koneksi putus, software crash, hardware ngambek, atau sekadar lupa password (lagi!). Waktu yang seharusnya dipakai untuk kerja bernilai tinggi, malah habis buat adu jotos dengan teknologi yang “seharusnya membantu.”
Fenomena ini bukan cuma di satu sektor, tapi merata di hampir semua industri. Karyawan muda, yang tumbuh di era teknologi konsumen yang serba instan dan mudah, paling cepat “illfeel” dengan alat kerja yang menyusahkan. Kalau robot di kantor lebih sering bikin stres daripada senyum, jangan heran kalau mereka pindah ke lain hati. Dan setiap kepergian karyawan itu mahal, lho! Andrew Hewitt memperkirakan butuh sekitar delapan minggu untuk melatih pengganti.
Tak hanya itu, ketika teknologi resmi “ngaco,” banyak karyawan memilih jalan ninja: memakai perangkat pribadi atau aplikasi yang tidak disetujui kantor. Ini memang bikin kerjaan jalan, tapi menciptakan celah keamanan selebar jalan tol dan mengurangi visibilitas perusahaan. Ibarat pakai perban untuk luka tusuk, solusi instan tapi bahaya laten.
Yang paling menyedihkan adalah hilangnya kepercayaan. Lebih dari separuh pekerja global tidak percaya tim IT mereka bisa menyelesaikan masalah dengan cepat dan efektif. Mereka bahkan ragu tim IT punya akses ke alat AI atau digital terbaru. Ketika “majikan” teknologi sendiri tidak bisa diandalkan, bagaimana bisa karyawan termotivasi?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Logika Penguasa.
AI: Pahlawan Atau Sekadar Jualan Janji?
Di tengah kegelapan gesekan digital, ada secercah harapan dari AI. Hampir separuh (48%) pekerja UK percaya AI bisa mengurangi disfungsi IT. Bahkan, 52% siap menyerahkan tugas-tugas rutin seperti troubleshooting atau reset password ke AI, biar mereka bisa fokus ke pekerjaan yang lebih strategis. Ini seperti memberi robot asisten rumah tangga yang rajin, asalkan dia tahu batasan.
Andrew Hewitt memaparkan bahwa AI bisa mengubah dukungan IT dari reaktif (nunggu rusak baru dibenerin) menjadi proaktif (sebelum rusak sudah diperbaiki). Deteksi dini berbasis AI, perbaikan otomatis, dan identifikasi pola masalah bisa mencegah masalah sebelum karyawan menyadarinya. Bayangkan, robot yang mengendus masalah di belakang layar, lalu memperbaikinya tanpa perlu kamu menekan tombol “laporkan bug”. Ini tentu akan menciptakan pengalaman digital yang jauh lebih mulus, di mana pun karyawan bekerja.
Tapi, jangan terlalu “baper” dulu. AI juga punya batasan. Beberapa karyawan melaporkan bahwa alat AI yang mereka coba “kurang piknik” alias tidak sesuai ekspektasi. Banyak yang masih bingung apa sebenarnya fungsi agen AI dan bagaimana dia cocok dalam alur kerja mereka. Tanpa kepercayaan, komunikasi yang jelas, dan infrastruktur yang tepat, AI malah berisiko jadi lapisan kerumitan baru, bukan solusi.
Intinya, jika organisasi menjelaskan bagaimana AI digunakan, bagaimana data dikelola, dan bagaimana alat ini mendukung karyawan, kepercayaan akan tumbuh, dan gesekan akan berkurang. Manusia butuh kepastian, apalagi dari mesin yang katanya “pintar.”
Membangun Kantor Digital yang Tangguh (Tanpa Drama!)
Langkah awal mengurangi gesekan digital adalah visibilitas. Banyak pemimpin di UK masih buta soal bagaimana lingkungan digital mereka bekerja atau bagaimana pengalaman karyawan sehari-hari. Tanpa data kuantitatif dan feedback kualitatif dari staf, masalah akan terus mengendap.
Di sinilah AI berperan sebagai “mata-mata” yang handal. Dengan pemantauan terus-menerus dan perbaikan otomatis, AI bisa mengidentifikasi masalah lebih awal. Artikel kami sebelumnya pernah membahas bagaimana mentalitas yang benar jadi kunci sukses AI di perusahaan. Dengan AI, perusahaan bisa beralih dari model dukungan reaktif ke proaktif. Ini mengurangi kebutuhan akan “Shadow IT” (solusi darurat yang dibikin karyawan sendiri), membangun kepercayaan tim IT, dan menciptakan fondasi produktivitas yang tangguh.
Di tahun-tahun mendatang, AI dan otomatisasi akan semakin terintegrasi dalam alur kerja. Namun, jika implementasinya asal-asalan, bukan tidak mungkin proyek AI di bisnis global akan gagal total.
Gesekan digital mungkin tidak akan hilang sepenuhnya, tapi bisa dikurangi secara signifikan. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang menyadari bahwa produktivitas bukan hanya soal di mana orang bekerja, tapi bagaimana alat kerja mereka memungkinkan mereka bekerja tanpa gangguan.
AI adalah alat yang ampuh, tapi seperti asisten rumah tangga yang rajin, dia butuh arahan dan kepercayaan dari “Majikannya.” Jika tidak, kita hanya akan terus-menerus berhadapan dengan robot yang “kurang piknik” dan “butuh disekolahkan.” Jadilah Majikan yang berakal, bukan babu teknologi!
Ingin menguasai AI dan tidak mau jadi babu teknologi?
Yuk, jadilah Majikan AI sejati dan kendalikan masa depan digitalmu!
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Digital friction is quietly crippling UK productivity, and AI could be the turning point | TechRadar”
Gambar oleh: Shutterstock via TechRadar