Tolak AI, Jalin Hubungan Nyata: Generasi Z Bangkit Lawan Kecanduan Teknologi (dan AI!)
Gabriela Nguyen adalah cerminan generasinya, sekaligus anomali. Tumbuh besar di Silicon Valley dengan iPod Touch setia di genggaman sejak usia 10 tahun, ia menyaksikan hidupnya perlahan-lahan tergulung dalam jaring teknologi. Berita, hiburan, bahkan asmara di Tinder—semuanya bermuara pada layar. Namun, titik baliknya datang saat pandemi melanda. Ia menyadari, “Saya sudah mengkarantina diri sendiri sebelum karantina dimulai, hanya saja saya melakukannya di ponsel.” Sebuah pencerahan pahit. Kini, di usia 24, ia adalah pendiri Appstinence, sebuah organisasi nirlaba yang berjuang membantu manusia lepas dari jeratan teknologi adiktif.
Appstinence tidak main-main. Mereka mengusung “Metode 5D”: Decrease (Kurangi), Deactivate (Nonaktifkan), Delete (Hapus), Downgrade (Turunkan versi gawai), dan Depart (Tinggalkan platform sepenuhnya). Filosofi ini sejalan dengan gagasan Jonathan Haidt, psikolog sosial dan penulis The Anxious Generation, yang mengadvokasi empat norma krusial: tidak ada smartphone sebelum SMA, tidak ada media sosial sebelum 16 tahun, sekolah bebas ponsel, dan dorongan untuk lebih banyak kemandirian serta bermain bebas. Kolaborasi erat Appstinence dengan tim Haidt di New York University menggarisbawahi bahwa masalah ini melampaui batas geografis dan sosial, menyentuh individu dari Kenya hingga Australia.
Nguyen menyoroti bagaimana AI, khususnya fitur “pendamping” seperti Replika, CharacterAI, atau ChatGPT yang digunakan untuk terapi dan nasihat hubungan, menjadi perhatian utama. Baginya, AI semacam ini bukanlah “teman” yang sesungguhnya. Ia menegaskan, AI tidak bisa menggantikan kehangatan interaksi manusia, tidak bisa memahami nuansa emosi, apalagi… membayar tagihan. Ini adalah pengingat telak bahwa “asisten” kita, seberapa pun canggihnya, hanyalah algoritma yang dirancang untuk memproses data, bukan merasakan empati. AI yang “pintar” ini masih butuh banyak piknik agar tahu esensi “persahabatan” yang sebenarnya. Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Perjuangan melepaskan diri dari teknologi memiliki tantangan unik di setiap generasi. Pria paruh baya mungkin hanya perlu “mengingat kembali” cara hidup tanpa gawai, sementara Gen Z butuh “pencerahan” total. Nguyen menceritakan klien remajanya yang butuh berbulan-bulan untuk memahami arti satu hari tanpa media sosial. Bayangkan, hidup tanpa “validasi” online selama 24 jam saja sudah jadi “epifani”! Ini menunjukkan betapa dalamnya akar ketergantungan teknologi telah merasuki cara berpikir generasi muda. AI, dengan segala iming-iming kenyamanannya, semakin memperparah ilusi bahwa kita bisa “berteman” dengan kode.
Nguyen mengkritik istilah “detoks digital” yang menurutnya hanya menyiratkan “membiarkan racun kembali masuk”. Appstinence menawarkan komitmen radikal: meninggalkan platform adiktif untuk selamanya. Ini bukan tentang membatasi waktu layar dengan aplikasi pengontrol yang “pintar”, melainkan membangun “kekebalan” mental terhadap tarikan digital. Seperti yang ia alami dengan ponsel Mudita Kompakt-nya, ia kini merasa “acuh tak acuh” terhadap TikTok. Artinya, ia tak lagi merasakan “gaya sentrifugal” yang menariknya kembali ke pusaran media sosial. Tentu saja, ia mengakui, jika ia menginstal ulang aplikasi dan membangun kebiasaan lagi, ia bisa saja terjebak. Tapi intinya, ia kini punya kendali. Ingatlah, AI hanya alat, tapi akal sehat dan kendali diri itu milik Majikan.
Bagi Majikan AI yang ingin mengembalikan kendali penuh atas dunia digitalnya, atau bahkan membantu generasi muda di sekitarnya, pendekatan Appstinence bisa jadi pencerahan. Jika kamu ingin menguasai AI tanpa dikuasai, atau sekadar membuat konten yang ‘nggak robot banget’, mungkin sudah saatnya kamu intip kelas AI Master agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Atau kalau kamu ingin membuat konten pro mandiri agar hemat budget talent, coba cek Creative AI Pro.
Pada akhirnya, sehebat apa pun algoritma dan sefasih apa pun AI berbicara, mereka tetaplah ciptaan. Tanpa jari manusia yang mengetik prompt, tanpa mata manusia yang menelaah hasilnya, dan tanpa akal budi manusia yang memberi nilai, AI hanyalah tumpukan kode mati. Kendali ada di tangan Majikan sejati: Manusia.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya lihat kucing tetangga pakai kacamata hitam, mungkin dia juga lagi detoks dari drama tikus di gang sebelah.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.
Gambar oleh: Getty Images via TechCrunch