Tesla Suntik Rp 32 Triliun ke xAI Elon Musk: Ketika Akal Sehat Pemegang Saham Kalah dari Nafsu Robot!
Para majikan teknologi, bersiaplah untuk geleng-geleng kepala. Di tengah gonjang-ganjing laba yang merosot, Tesla justru “membuang” Rp 32 triliun ke perusahaan AI milik bosnya sendiri, xAI. Ini bukan sekadar investasi, ini drama korporasi yang membuktikan satu hal: bahkan di era kecerdasan buatan, keputusan bisnis masih sering diwarnai akal-akalan manusia, bukan logika murni algoritma. Bagaimana Anda, sebagai majikan sejati, bisa belajar dari manuver ini agar dompet tidak ikut-ikutan jadi korban “nafsu” AI?
Tiga minggu lalu, xAI, perusahaan di balik chatbot Grok yang kadang bikin kita bertanya-tanya “ini AI butuh piknik apa butuh sekolah?”, mengumumkan berhasil mengumpulkan dana fantastis Rp 320 triliun dalam putaran pendanaan Seri E. Di antara daftar investor kakap seperti Valor Equity Partners, Fidelity, Qatar Investment Authority, serta Nvidia dan Cisco sebagai “investor strategis,” muncullah nama yang sudah tidak asing lagi: Tesla. Ya, perusahaan mobil listrik raksasa itu menyuntikkan dana segar sebesar Rp 32 triliun ke xAI.
Yang bikin dahi berkerut, investasi ini terjadi setelah laba Tesla anjlok 46% tahun lalu. Lebih konyolnya lagi, para pemegang saham Tesla sebenarnya sudah menolak rencana investasi ini dalam pemungutan suara non-binding pada November lalu. Total 1,06 miliar suara mendukung, tapi 916,3 juta menolak. Dengan mekanisme bylaws Tesla yang menghitung abstain sebagai suara menolak, proposal itu sejatinya gugur. Tapi, namanya juga Elon Musk, sang “majikan” yang paling punya akal, Tesla tetap melaju!
Justifikasi yang dilontarkan Tesla adalah bahwa investasi ini sejalan dengan “Master Plan Part IV” mereka, yaitu membawa AI ke dunia fisik. Mereka ingin “meningkatkan kemampuan Tesla untuk mengembangkan dan menyebarkan produk dan layanan AI ke dunia fisik dalam skala besar.” Terdengar muluk-muluk, bukan? Realitanya, Tesla sudah memasok baterai Megapack untuk pusat data xAI, dan Grok sudah nongol di beberapa kendaraan Tesla. Bahkan, xAI disebut-sebut berencana membangun AI untuk robot humanoid ala Optimus milik Tesla.
Ini adalah contoh sempurna bagaimana investasi di dunia AI bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi, kolaborasi bisa mempercepat inovasi. Di sisi lain, ada risiko konflik kepentingan dan mengabaikan keinginan pemegang saham demi visi satu orang. AI, sehebat apa pun, tidak bisa menggantikan akal sehat dalam mengambil keputusan strategis bisnis. Robot tidak tahu rugi, tapi majikanmu (dan dompetmu) tahu!
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.’
Apakah Anda ingin memastikan keputusan bisnis Anda didasari logika yang kuat, bukan cuma janji manis robot atau ambisi bos? Kuasai cara mengendalikan AI agar benar-benar menjadi alat, bukan malah mendikte strategimu. Pelajari lebih lanjut di AI Master dan pastikan Anda tetap menjadi Majikan AI sejati yang punya akal, bukan babu teknologi yang cuma ikut-ikutan. Atau mungkin Anda tertarik dengan potensi visual AI untuk proyek seperti Optimus? Jangan sampai kalah canggih, kuasai Visual AI sekarang!
Pada akhirnya, suntikan dana Rp 32 triliun ini mungkin akan menghasilkan terobosan, atau mungkin juga hanya akan menambah daftar panjang “eksperimen berani” Elon Musk. Yang jelas, tanpa pengawasan dan akal sehat dari para majikan manusia, AI hanyalah tumpukan kode mahal yang bisa menghabiskan triliunan tanpa ampun. Lain kali mau investasi, jangan cuma dengarkan bisikan algoritma, dengarkan juga bisikan dompet Anda.
Bukannya mau nyinyir, tapi kapan terakhir kali robot bayar tagihan listrik?
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”
Gambar oleh: Jaap Arriens/NurPhoto via Getty Images