Handshake Sikat Cleanlab: Saat Akal Manusia di Balik Otak Robot Data Jadi Buruan Terpanas!
Kabar panas dari dunia per-AI-an kembali datang, para Majikan! Startup pelabelan data AI, Handshake, baru saja mengakuisisi Cleanlab, sebuah perusahaan rintisan yang fokus pada audit kualitas data. Ini bukan sekadar transaksi jual-beli biasa; ini adalah ‘acquihire’ alias akuisisi talenta yang membuat sembilan peneliti kunci Cleanlab, termasuk para pendirinya yang jebolan MIT, kini bergabung dengan Handshake. Jadi, saat robot semakin canggih, justru akal manusia di baliknya yang jadi rebutan. Ironis, bukan?
Handshake, yang memulai bisnisnya sebagai platform perekrutan mahasiswa di tahun 2013, kini bertransformasi menjadi penyedia pelabelan data manusia untuk perusahaan model AI fundamental. Bayangkan, para Majikan, untuk membuat AI sepintar sekarang, butuh pasukan manusia yang telaten memberi label data. Di sinilah peran Handshake. Kemudian, datanglah Cleanlab dengan perangkat lunak mereka yang dirancang untuk meningkatkan kualitas data hasil pelabelan manusia. AI membantu mengecek hasil kerja manusia, bukan berarti manusia tidak penting lagi, malah justru sebaliknya.
Poin krusial dari kesepakatan ini adalah perebutan otak manusia. Tiga co-founder Cleanlab — Curtis Northcutt, Jonas Mueller, dan Anish Athalya — semuanya memiliki gelar PhD di bidang ilmu komputer dari MIT. Mereka ahli dalam mengembangkan algoritma yang mampu “menemukan” data yang salah tanpa perlu peninjauan ulang oleh manusia kedua. Ini ibarat Anda punya asisten rumah tangga yang rajin mengepel, lalu Anda pasang sensor di lantai agar si asisten tahu mana bagian yang masih kotor. AI Cleanlab adalah sensor itu, yang memastikan lantai (data) benar-benar bersih.
Namun, di balik kecanggihan algoritma Cleanlab, tetap ada keterbatasan AI. Robot, secerdas apa pun algoritmanya, tidak bisa secara intrinsik memahami “konteks” dan “nuansa” sebuah data seperti halnya manusia. Mereka hanya bisa bekerja berdasarkan pola dan instruksi yang diberikan. Merekalah para ahli manusia di Cleanlab yang merancang bagaimana AI bisa mendeteksi ketidakakuratan, bukan AI itu sendiri yang tiba-tiba “sadar” data itu salah. Ini membuktikan bahwa bahkan untuk memperbaiki kesalahan robot, kita masih butuh sentuhan jenius manusia.
Handshake sendiri adalah pemain besar, pernah dihargai $3,3 miliar pada tahun 2022 dan diproyeksikan mencatat pendapatan tahunan (ARR) hingga ratusan juta dolar tahun ini. Perusahaan ini telah menyediakan data untuk delapan laboratorium AI terkemuka, termasuk OpenAI. Bayangkan, para Majikan, betapa pentingnya data “bersih” ini. Ibarat bahan bakar, se-canggih apa pun mesinnya, jika bahan bakarnya kotor, laju mesin pasti akan tersendat-sendat. Dalam konteks ini, AI agen industri mungkin hebat di kertas, tapi lemah di lapangan jika data yang dilatihkan kacau balau.
Menariknya, CEO Cleanlab, Curtis Northcutt, mengungkapkan bahwa perusahaannya diminati oleh beberapa perusahaan pelabelan data AI lainnya, seperti Mercor, Surge, dan Scale AI. Namun, Cleanlab memilih Handshake karena para pesaing tersebut justru sering menggunakan platform Handshake untuk mencari ahli manusia (seperti dokter, pengacara, ilmuwan) untuk proyek pelabelan data mereka. “Jika Anda harus memilih, Anda mungkin harus memilih sumbernya, bukan perantaranya,” kata Northcutt. Ini menegaskan bahwa nilai sejati terletak pada sumber data primer yang dikurasi oleh manusia ahli.
Untuk Anda para Majikan yang ingin lebih lihai dalam memerintah robot agar tidak sekadar menjadi “tukang ketik” data, menguasai teknik prompt adalah kuncinya. Dengan AI Master, Anda bisa mengendalikan AI agar tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dan jika Anda ingin AI membantu menghasilkan konten berkualitas tinggi tanpa perlu banyak drama, Creative AI Pro adalah amunisi yang tepat. Karena AI yang benar-benar cerdas adalah AI yang tahu posisinya sebagai alat, bukan penguasa.
Pada akhirnya, akuisisi ini mengirimkan pesan jelas: masa depan AI tidak hanya tentang algoritma yang semakin kompleks, tetapi juga tentang kualitas data yang menjadi fondasinya, dan di atas itu semua, tetap ada keahlian dan akal budi manusia yang tak tergantikan. Robot bisa belajar, tapi manusia yang mengajarkan apa yang perlu dipelajari dan bagaimana standar “benar” itu ditetapkan. Seperti kata pepatah, “Di balik setiap AI yang sukses, ada Majikan yang tahu cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah.”
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Oh, dan pastikan Anda sudah mengecek apakah remote AC di rumah Anda masih berfungsi, siapa tahu AI tiba-tiba memutuskan untuk mengendalikan suhu global.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”
Gambar oleh: Handshake via TechCrunch