Ekonomi AIKarier AIKonflik RaksasaSidang Bot

Amazon PHK 16.000 Karyawan Demi AI: Robot Makin Canggih, Majikan Makin Waspada!

Dunia teknologi kembali dihebohkan dengan kabar dari raksasa e-commerce, Amazon. Sebanyak 16.000 posisi korporat akan dipangkas, dan ironisnya, ini semua demi fokus yang lebih besar pada… apa lagi kalau bukan AI. Kabar ini datang langsung dari blog resmi perusahaan, dan secara tersirat mengonfirmasi bahwa robot memang sedang mengambil alih meja kerja.

Bagi para majikan berakal di luar sana, ini bukan sekadar berita PHK biasa. Ini adalah sinyal. Sinyal bahwa lanskap pekerjaan berubah, dan jika Anda tidak mulai memikirkan bagaimana cara menguasai alat ini, bukan dikuasai, maka Anda mungkin akan jadi “babunya” robot berikutnya. Amazon bahkan tak segan menutup gerai fisik Amazon Go dan Amazon Fresh, mengalihkan seluruh sumber daya ke ranah kecerdasan buatan dan pusat data yang jadi “otak” di baliknya. Ini bukan main-main, mereka serius ingin AI jadi tulang punggung bisnisnya.

Fakta berbicara: Amazon akan merumahkan 16.000 karyawan korporat. Mereka diberi waktu 90 hari untuk mencari peran baru di internal, jika tidak, ya terpaksa angkat kaki dengan pesangon. Wakil Presiden Senior Pengalaman dan Teknologi Sumber Daya Manusia Amazon, Beth Galetti, memang mengatakan perusahaan akan “terus merekrut dan berinvestasi di area strategis yang krusial untuk masa depan”. Tapi, seperti yang dilaporkan New York Times, area strategis itu adalah kecerdasan buatan dan pusat data. Tahun lalu saja, Amazon menghabiskan sekitar $125 miliar untuk infrastruktur ini. Angka yang bikin geleng-geleng kepala.

Padahal, CEO Amazon Andy Jassy sempat menyangkal bahwa AI menjadi penyebab PHK sebelumnya di bulan Oktober yang memangkas 14.000 karyawan. Namun, pernyataan Galetti di waktu itu justru bertolak belakang, “Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak internet, dan… kita perlu diorganisir lebih ramping, dengan lebih sedikit lapisan dan lebih banyak kepemilikan, untuk bergerak secepat mungkin bagi pelanggan dan bisnis kita.” Jadi, siapa yang bohong dan siapa yang bicara jujur? Tentu saja, akal majikan yang akan menilainya.

Ini menunjukkan bahwa AI, meskipun digembar-gemborkan sebagai “asisten rumah tangga” yang rajin, punya sisi gelap yang bisa “memecat” Anda kapan saja. Robot memang cerdas, tapi mereka tidak punya empati, kreativitas, apalagi naluri bertahan hidup seperti manusia. Mereka hanya mengeksekusi perintah. Maka dari itu, penting bagi kita sebagai majikan untuk tidak hanya jadi penonton. Anda harus jadi pengendalinya, setidaknya agar tidak cuma jadi statistik PHK berikutnya.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Amazon. Perusahaan lain juga mulai “membersihkan” karyawan demi AI. Simak bagaimana Pinterest pangkas ratusan karyawan demi fokus ke AI, yang menunjukkan bahwa resesi robot memang mengintai. Selain itu, karut-marut pasar kerja era AI juga diprediksi akan terus berlanjut. Jadi, apakah Anda siap beradaptasi atau rela jadi korban?

Untuk tetap jadi majikan di era serba robot ini, Anda perlu mengasah kemampuan mengendalikan AI, bukan dikendalikan. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi! Investasi pada diri sendiri untuk memahami cara kerja AI adalah langkah paling cerdas. Jangan sampai robot jadi lebih pintar dalam mencari cuan daripada Anda. Kalau tidak, bisa-bisa Anda cuma bisa gigit jari melihat robot yang cuan TikTok tanpa perlu tampil di kamera. Kuasai cuan TikTok tanpa perlu tampil di kamera.

Intinya, AI hanyalah alat. Secanggih apa pun dia, tanpa manusia yang menekan tombol, dia cuma tumpukan kode mati. Jadi, jangan biarkan robot yang punya akal, Anda yang hanya pasrah. Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.

Omong-omong, tadi pagi tukang sayur keliling kok tahu ya saya mau beli kangkung, padahal belum ngomong apa-apa. Apa dia juga sudah pakai AI?

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Matthias Balk/picture alliance via Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *