Hardware & ChipSidang Bot

Chipmaker ASML Panen Order Rekor Rp220 Triliun: Robot Makin Haus Daya, Kamu Siap Jadi Juragan Listrik?

Para Majikan AI sekalian, mari kita jujur. Di balik segala gembar-gembor tentang “kecerdasan” buatan, ada satu fakta krusial yang sering terlupakan: AI itu butuh “otot” raksasa untuk bekerja. Bukan cuma kode-kode cantik di layar, tapi perangkat keras yang mahal, rak-rak server yang menjulang, dan terutama, chip-chip yang super canggih. Nah, berita terbaru dari ASML, raksasa fotolitografi asal Belanda, ini adalah bukti nyata bahwa para robot kita sedang “haus” daya dan infrastruktur. Jadi, pertanyaan pentingnya: bagaimana kita, sebagai Majikan yang punya akal, bisa memanfaatkan “kehausan” robot ini? Atau jangan-jangan, kita malah cuma jadi penonton saat para raksasa teknologi berebut kue triliunan?

ASML, mungkin namanya tidak sepopuler Nvidia atau Google, tetapi perusahaan ini adalah jantungnya industri semikonduktor. Mereka adalah satu-satunya pemasok peralatan EUV (Extreme Ultraviolet) yang esensial untuk memproduksi chip paling mutakhir. Bayangkan saja, tanpa mesin ASML, chip-chip yang menggerakkan AI paling canggih sekalipun tidak akan pernah lahir. Jadi, ketika ASML mencetak rekor, artinya para pembuat chip sedang bersiap untuk menjual miliaran unit lagi.

Dalam laporan pendapatan kuartal IV 2025, ASML mengumumkan penjualan bersih yang fantastis, mencapai 32,7 miliar Euro (sekitar Rp570 triliun!). Angka ini jelas bikin mata melotot. Namun, yang lebih menarik perhatian adalah “pemesanan baru” (new bookings) yang melambung ke 13 miliar Euro (sekitar Rp220 triliun), dua kali lipat dari kuartal sebelumnya! Ini bukan sekadar angka, ini adalah sinyal kuat bahwa para pembuat chip, seperti yang memasok Nvidia, melihat permintaan AI yang tidak akan surut dalam waktu dekat.

CEO ASML, Christophe Fouquet, dengan gamblang menyatakan bahwa lonjakan permintaan ini berasal dari “ekspektasi yang lebih kuat terhadap keberlanjutan permintaan terkait AI.” Bahasa sederhananya: klien mereka yakin investasi besar-besaran untuk pusat data AI itu bukan main-main, dan mereka rela merogoh kocek dalam-dalam sekarang demi kesiapan di masa depan.

AI memang sedang “booming,” tapi ingat, robot tidak bisa membangun dirinya sendiri. Di balik setiap kemajuan algoritma, setiap model bahasa besar yang makin “pintar,” ada tim insinyur manusia yang mendesain arsitektur, ada pekerja yang merakit mesin, dan ada visioner manusia yang memutuskan arah investasinya. AI bisa menghitung triliunan data, tapi ia tidak punya akal untuk mengambil keputusan strategis jangka panjang seperti yang dilakukan ASML atau Nvidia. Ini adalah ranah para Majikan sejati.

Faktanya, industri ini terus berinvestasi besar. Kita pernah membahas bagaimana Bos Nvidia berambisi membangun infrastruktur AI terbesar sepanjang sejarah, menciptakan jutaan pekerjaan—tentu saja, asalkan kita siap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dan jangan lupakan persaingan ketat di ranah chip, di mana pemain seperti Microsoft Maia 200 berani mengguncang tahta Nvidia dengan chip AI terganas mereka.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Melihat gelombang investasi triliunan ini, apakah Anda yakin sudah siap mengendalikan “kapal” AI Anda sendiri, atau masih sekadar menjadi penumpang yang kebingungan? Agar Anda tidak terseret arus dan tetap menjadi nahkoda di tengah “tsunami” AI ini, saatnya meningkatkan skill. Kami punya AI Master, sebuah program yang dirancang khusus agar Anda bisa menjadi Majikan sejati, bukan babu teknologi yang cuma bisa menekan tombol perintah. Kendalikan AI, jangan biarkan AI mengendalikan Anda!

Jadi, sementara para raksasa teknologi sibuk membangun “gedung pencakar langit” untuk para robot, kita harus ingat: gedung itu tidak akan berdiri kokoh tanpa tangan-tangan manusia yang merancang, membangun, dan yang terpenting, membayar tagihannya. AI memang alat yang luar biasa, tapi pada akhirnya, ia hanyalah tumpukan kode mati yang membutuhkan akal Majikan untuk memberinya tujuan.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya mencoba bicara dengan toaster saya, berharap dia bisa membuatkan sarapan otomatis. Yang ada, roti saya malah gosong dan dia cuma berkedip-kedip, seolah bertanya, “Perintahmu kurang jelas, Majikan?”

Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Lina Selg/Bloomberg via Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *