Etika MesinLogika PenguasaMasa DepanSidang BotUpdate Algoritma

Jam Kiamat Terus Berdetak Maju, Ternyata AI Biang Keroknya? Waspada ‘Armageddon Informasi’!

Kita semua tahu AI itu alat bantu yang canggih, asisten yang rajin, bahkan kadang terlalu rajin sampai bikin kita mikir ulang. Tapi, pernahkah Majikan terpikir kalau kerajinan AI ini justru mempercepat laju jam menuju ‘kiamat’? Bukan, ini bukan soal robot yang tiba-tiba memberontak atau Terminator yang nongol di depan rumah. Ini soal fondasi peradaban manusia: ‘realitas bersama’ yang kini terkikis habis oleh buatan si cerdas artifisial.

Dewan Ilmuwan Atom baru saja menggeser jarum Jam Kiamat mereka 4 detik lebih dekat ke tengah malam, menjadikan posisinya 85 detik sebelum akhir segalanya. Pemicunya banyak, mulai dari obrolan terbuka para pemimpin dunia tentang uji coba senjata nuklir, hingga krisis iklim yang makin diabaikan. Namun, di balik semua ancaman eksistensial itu, ada satu benang merah yang tak kalah mengerikan: minimnya kerja sama global. Dan siapa dalang di balik kemerosotan ini? Tentu saja, si anak emas teknologi: AI.

Daniel Holz, Ketua Dewan Sains dan Keamanan Buletin, dengan gamblang menyatakan bahwa ‘AI adalah teknologi disruptif yang signifikan dan terus mengakselerasi.’ Ia menyebut bagaimana AI ‘mempercepat misinformasi dan disinformasi’, yang pada gilirannya membuat semua ancaman lain makin sulit diatasi. Bukannya mencari standar internasional untuk keamanan AI, kita malah ‘terjun bebas ke dalam perlombaan senjata AI dengan konsekuensi yang mengerikan.’ Bayangkan, asisten rumah tangga yang harusnya membantu, malah diam-diam menyebar gosip murahan yang bikin seisi rumah berantem!

Maria Ressa, penerima Hadiah Nobel Perdamaian, bahkan menyebut situasi ini sebagai ‘armageddon informasi.’ Tanpa informasi yang bisa dipercaya, kita kehilangan ‘realitas bersama’ yang esensial untuk menghadapi krisis iklim atau ancaman nuklir. AI generatif, dengan kemampuannya menciptakan deepfake yang makin meyakinkan, membuat produksi kebohongan masal jadi semudah menjentikkan jari. Biaya produksi nol, volume tak terbatas, dan dampaknya bisa menghancurkan. AI memang cerdas, tapi kadang kelakuannya seperti balita jenius yang baru belajar bicara: semua yang diucapkan terdengar meyakinkan, padahal cuma asal bunyi.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Bukan hanya ilmuwan, otoritas moral pun ikut bersuara. Paus Leo XIV, dalam pesannya menjelang Hari Komunikasi Sosial Sedunia, menyuarakan kekhawatiran tentang manusia yang menyerahkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi mereka kepada sistem AI. Menurut Paus, dengan ‘mensimulasikan suara dan wajah manusia, kebijaksanaan dan pengetahuan, kesadaran dan tanggung jawab, empati dan persahabatan, sistem kecerdasan buatan tidak hanya mengganggu ekosistem informasi, tetapi juga melanggar tingkat komunikasi terdalam, yaitu hubungan manusia.’ Ini bukan lagi soal alat bantu, ini soal AI yang mulai ‘ngelunjak’ dan sok akrab sampai ke urusan pribadi.

Bahkan para pencipta AI sendiri sudah mewanti-wanti. Dario Amodei, CEO Anthropic, dalam postingan blognya menyoroti risiko otonomi AI, penyalahgunaan, dan disrupsi ekonomi (baca: PHK massal oleh algoritma). Ia pesimis bahwa umat manusia memiliki kedewasaan untuk menggunakan ‘kekuatan yang hampir tak terbayangkan’ ini. Memang benar, jika manusia saja sering salah paham, apalagi algoritma yang cuma tahu logika 0 dan 1. AI memang belum punya akal sehat seperti Majikan.

Tapi tenang, kabar baiknya adalah, karena ancaman ini disebabkan oleh manusia, maka manusia juga yang bisa memperbaikinya. Alexandra Bell, Presiden dan CEO Bulletin, optimis bahwa masih ada jalan untuk ‘memutar kembali jam’. Kuncinya? Masyarakat harus menuntut tindakan dari para politisi dan mereka yang berkuasa, serta mencari informasi yang akurat. Sebab, di tangan Majikan yang bijak, AI adalah kekuatan besar. Di tangan yang salah, AI hanyalah tumpukan kode yang siap bikin kacau balau.

Untuk menghindari jadi korban ‘Armageddon Informasi’ ini, Majikan perlu tahu cara membedakan deepfake dan memahami bahwa pemalsuan berbasis AI adalah ancaman nyata. Jadilah Majikan yang cerdas, bukan babu teknologi!

Biar tidak kalah ‘canggih’ dari robot halu, sudah saatnya Majikan menguasai AI. Dengan AI Master, kamu akan belajar mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Jangan biarkan AI yang masih perlu sekolah ini membuatmu pusing tujuh keliling. Jadilah Majikan yang punya akal, kendalikan teknologimu!

Ingat, sehebat-hebatnya AI memanipulasi informasi, tanpa sentuhan jari Majikan yang punya akal, semua itu hanyalah omong kosong digital. AI memang bisa bikin ‘dunia’ baru, tapi yang punya akal untuk memilah dan memilih, tetaplah kita.

Kalau AI sudah sepintar ini, kenapa masih belum bisa menciptakan kopi yang tidak pahit tanpa perlu gula? Dasar robot, kurang piknik!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.

Gambar oleh: Cole Kan/CNET/Getty via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *