Etika MesinKarier AIKonflik RaksasaMasa DepanSidang Bot

ChatGPT Jadi ‘Dokter’? Para Ahli Medis Bilang: Nanti Dulu, Biar Urus Administrasi Saja

OpenAI dan Anthropic baru saja melempar produk baru ke pasar, kali ini menargetkan sektor kesehatan. Mereka ingin AI menjadi asisten kesehatan pribadi Anda. Pertanyaan logisnya: apakah kita akan benar-benar menjadi majikan atas teknologi ini, atau malah berakhir sebagai kelinci percobaannya di salah satu industri paling krusial bagi manusia?

Para dokter menyambutnya dengan antusiasme sekaligus kecemasan. Di satu sisi, mereka melihat potensi besar. Di sisi lain, mereka sudah menyaksikan sendiri betapa bodohnya AI saat berhadapan dengan nyawa manusia.

AI: Asisten Magang Cerdas yang Sering Berhalusinasi

Berita intinya adalah peluncuran ChatGPT Health dari OpenAI dan Claude for Healthcare dari Anthropic. Keduanya menawarkan platform yang lebih aman untuk membahas data medis. Namun, para profesional medis punya pandangan yang jauh lebih membumi daripada brosur marketing para raksasa teknologi ini.

Dr. Sina Bari, seorang ahli bedah, berbagi pengalaman nyata. Seorang pasien datang membawa hasil cetak percakapan dengan ChatGPT yang menyatakan obat yang direkomendasikannya punya risiko emboli paru sebesar 45%. Tentu saja, pasien itu panik. Setelah diselidiki, angka itu benar, tapi konteksnya salah total. Data tersebut berasal dari studi khusus pada subkelompok pasien tuberkulosis, yang sama sekali tidak relevan dengan kondisi pasien sang dokter.

Inilah kelemahan fatal AI saat ini. Ia seperti asisten magang yang sudah membaca seluruh perpustakaan kedokteran dunia tapi tidak punya setetes pun pengalaman lapangan atau akal sehat. Ia bisa mengutip jurnal tentang TBC untuk pasien flu biasa. Tanpa supervisi seorang Majikan (dalam hal ini dokter), “nasihatnya” bisa lebih berbahaya daripada penyakitnya.

Faktanya, menurut data Vectara, model GPT-5 dari OpenAI lebih rentan berhalusinasi dibandingkan model dari Google atau Anthropic. Dalam dunia medis, halusinasi bukan sekadar jawaban lucu, tapi bisa menjadi resep bencana.

Jadi, Untuk Apa AI Ini Sebenarnya?

Jika AI begitu berisiko untuk konsultasi pasien, mengapa para dokter tidak menolaknya mentah-mentah? Jawabannya sederhana: mereka butuh bantuan, tapi di bagian yang berbeda.

Studi menunjukkan bahwa dokter bisa menghabiskan separuh waktu kerjanya hanya untuk tugas administratif. Mengurus rekam medis elektronik (EHR), mengajukan klaim asuransi, dan tumpukan dokumen lainnya memangkas waktu berharga yang seharusnya bisa digunakan untuk merawat pasien. Di Amerika, waktu tunggu untuk bertemu dokter umum bisa mencapai 3 hingga 6 bulan.

Di sinilah AI menemukan tempatnya yang sesungguhnya. Bukan sebagai “dokter chatbot”, melainkan sebagai asisten administrasi super efisien. Dr. Nigam Shah dari Stanford Health Care sedang mengembangkan ChatEHR, sebuah software yang memungkinkan dokter berinteraksi dengan data pasien secara lebih cepat. Anthropic juga memposisikan Claude untuk memotong waktu pengurusan otorisasi asuransi dari puluhan menit menjadi hitungan detik.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Logika Penguasa.

Melihat bagaimana dokter profesional pun harus berhati-hati dengan ‘saran’ AI, ini adalah pengingat keras bagi kita semua. Menguasai cara kerja dan batasan AI bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Itulah esensi dari menjadi Majikan yang sebenarnya, bukan sekadar pengguna pasif. Jika Anda ingin memastikan teknologi bekerja untuk Anda, bukan sebaliknya, mungkin saatnya Anda melihat lebih dalam ke AI Master, agar kendali tetap ada di tangan Anda, bukan di algoritma yang sering mengkhayal.

Tanpa Tombol ‘Enter’ dari Manusia, AI Hanyalah Kode Mati

Pada akhirnya, secanggih apapun Claude atau ChatGPT dalam mengolah data, mereka tidak akan pernah bisa memberikan empati atau menepuk pundak pasien yang cemas. Peran AI di dunia medis, setidaknya untuk saat ini, adalah menjadi alat di belakang layar. Alat untuk membebaskan para ahli manusia dari belenggu administrasi agar mereka bisa fokus pada tugas yang tak tergantikan: menyembuhkan manusia lain.

Sebab AI hanyalah tumpukan kode yang menunggu perintah dari Majikan berjas putih. Tanpa sentuhan dan akal sehat manusia, ia hanyalah kalkulator canggih yang steril.

Oh iya, jangan lupa periksa tanggal kedaluwarsa saus sambal di kulkas.


Sumber Berita

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *