Fitness Tracker 2026: Saatnya Akal Majikan Lebih Cerdas dari Otak AI yang Sok Pintar!
Era di mana fitness tracker hanyalah penghitung langkah sudah lewat. Kini, pergelangan tangan Anda bisa jadi pusat komando kesehatan dengan sensor canggih dan, tentu saja, sentuhan ‘kecerdasan’ buatan. Tapi, sebagai majikan yang punya akal, apakah Anda siap memerintah para robot mini ini, atau malah jadi babu data mereka? Mari kita bedah lebih dalam.
Tahun 2026 membuktikan bahwa AI kini menjadi bumbu wajib di setiap perangkat wearable. Ambil contoh Amazfit Active 2. Dengan harga yang bersahabat, ia menawarkan fitur lengkap termasuk Zepp Aura AI chatbot dan Zepp Coach yang konon bisa merancang program latihan khusus. Namun, berdasarkan pengalaman pengujian, terkadang AI ini masih perlu ‘sekolah’ lagi. Layar sentuhnya kurang responsif saat jari berkeringat dan perintah suara ke asisten AI-nya seringkali minta Anda untuk ‘ngomong yang jelas, dong!’ Ibarat asisten rumah tangga, rajin sih, tapi kadang butuh diulang-ulang.
Kemudian ada Oura Ring 4, si pelacak non-pergelangan tangan yang menjanjikan privasi dengan desain minimalis. Ia melacak segudang metrik kesehatan, bahkan punya AI chatbot sendiri untuk membantu ‘menganalisis’ data Anda. Tapi ingat, fitur canggih ini seringkali tersembunyi di balik langganan berbayar, seperti halnya layanan premium Garmin atau fitur-fitur berbayar Oura. Robot memang cerdas, tapi dompet Majikan tetap harus lebih cerdas dalam memilih mana yang investasi, mana yang cuma pajangan.
Tak ketinggalan, Samsung Galaxy Watch Ultra dengan integrasi Google Gemini. Memang keren saat AI ada di pergelangan tangan, tapi seperti yang kami temukan, Gemini di sini masih ‘hit or miss’. Mau minta dibuatin playlist K-pop, eh, nyelip lagu dangdut. Ya, namanya juga robot, masih butuh piknik biar enggak halusinasi. Ini mengingatkan kita pada perdebatan seberapa jauh AI Dokter Berbayar Apple: Obat Mujarab atau Pil Pahit Halusinasi Algoritma?, yang juga menyisakan tanda tanya tentang keandalan AI dalam hal yang sensitif.
Begitu juga dengan Google Pixel Watch 4 yang bangga dengan Fitbit Health Coach bertenaga AI. Ide membuat program latihan adaptif itu brilian, tapi seberapa “pintar” AI itu dalam menghadapi situasi tak terduga dalam hidup manusia, misalnya tiba-tiba ingin makan seblak pedas dan melupakan rencana lari pagi? Akal sehat manusia, dan kemampuan untuk beradaptasi, masih menjadi raja.
Banyaknya fitur AI pada perangkat ini seolah menegaskan bahwa kita hidup di zaman di mana Fitness Tracker 2026 Sudah Punya Otak AI (Tapi Akal Majikan Tetap Harga Mati!). Namun, jangan sampai terlena. Kemampuan pelacakan yang konsisten dan akurat, daya tahan baterai, serta kenyamanan pemakaian sehari-hari tetap menjadi fondasi utama. AI hanyalah pelengkap, asisten yang perlu Majikan pantau ketat.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Review Tools.
Untuk Anda, para Majikan yang ingin benar-benar menguasai teknologi dan bukan sebaliknya, perangkat ini bisa menjadi senjata ampuh. Tapi ingat, sehebat-hebatnya alat, ia tetap butuh master yang tahu cara mengendalikannya. Jangan biarkan AI di pergelangan tangan Anda jadi bos baru yang mengatur hidup Anda. Jadilah Majikan sejati. Kuasai AI, jangan sampai dikuasai. Kendalikan AI dengan ‘AI Master’. Jadikan robot itu babu Anda, bukan babu teknologi!
Pada akhirnya, mau secanggih apapun fitness tracker Anda, mau seberapa banyak AI yang ditanamkan, tetap saja yang punya kendali adalah Anda, sang Majikan. Tanpa niat dan disiplin dari otak manusia, robot-robot itu cuma jadi tumpukan silikon mahal yang diam membisu. Kecuali, Anda memang suka diajak ngobrol sama jam tangan yang kadang ngaco.
Dan ingat, jangan lupa mematikan mode pesawat kalau lagi yoga, nanti malah ada telepon masuk dari tukang bakso langganan.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Alex Castro via TechCrunch