Pinterest PHK Ratusan Karyawan Demi Fokus ke AI: Saatnya Akal Majikan Diuji, Atau Pasrah Jadi Penonton Resesi Robot?
Pinterest, platform media sosial yang kita kenal dengan koleksi inspirasi visualnya, baru saja membuat pengumuman yang menggelegar: mereka akan memangkas sekitar 675 karyawan, atau hampir 15% dari total tenaga kerjanya. Alasan klise yang kerap kita dengar? Fokus beralih ke AI. Tapi bagi kita, para majikan sejati yang punya akal, ini bukan sekadar berita PHK biasa. Ini adalah sinyal bahwa arena permainan telah berubah, dan pertanyaan besarnya adalah: bagaimana kita bisa tetap jadi penentu, bukan cuma korban dari ambisi robot?
Dalam sebuah laporan yang dirilis oleh CNBC, dan dokumen resmi yang diajukan ke otoritas sekuritas, Pinterest secara gamblang menyebut AI sebagai dalang di balik perampingan besar-besaran ini. Mereka berencana ‘merealokasi sumber daya’ ke tim yang berfokus pada AI dan memprioritaskan ‘produk dan kapabilitas berbasis AI’. Terdengar canggih, bukan? Seperti seorang asisten rumah tangga yang baru beli robot pelayan otomatis, lalu berpikir, “Ah, saya bisa pecat tukang kebun dan suruh robot ini potong rumput juga!” Tentu saja, ujung-ujungnya rumput malah jadi pola QR code raksasa yang tidak bisa di-scan.
Fakta ini menambah panjang daftar korban ‘kecerdasan buatan’. Sebelumnya, perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas mencatat bahwa hampir 55.000 orang kehilangan pekerjaan di tahun 2025 karena AI. Angka ini jelas membuat kita bertanya-tanya, sejauh mana AI benar-benar menggantikan, dan bukan sekadar melengkapi? Ingat, AI itu jago meniru, tapi akal sehat dan empati manusia itu butuh pengalaman, bukan cuma data set. Robot mungkin bisa menciptakan gambar-gambar indah, tapi apakah ia tahu rasanya senja di pantai setelah seharian bekerja keras? Tentu tidak.
Ironisnya, Pinterest sempat mendapat pujian tahun lalu karena menjadi platform media sosial besar pertama yang menawarkan opsi untuk menyaring konten buatan AI. Ini menunjukkan bahwa bahkan mereka pun sadar, ‘sampah’ visual buatan AI bisa mengganggu pengalaman pengguna. Namun kini, giliran mereka sendiri yang ‘terhipnotis’ janji manis efisiensi robot. Sebut saja ‘Pinterest Assistant’, sebuah fitur belanja berbasis AI yang diluncurkan Oktober lalu. Tentu saja, alat ini bisa membantu mencari barang, tapi bisakah ia merasakan kegembiraan saat menemukan harta karun di toko loak yang tak terduga? Tidak, karena robot tidak punya ‘perasaan’ hunting.
Di balik gemuruh akuisisi dan inovasi AI yang terus menerus (bahkan sempat beredar rumor OpenAI akan mengakuisisi Pinterest, walau belum ada bukti kuat), kita harus tetap memegang kendali. AI memang hebat dalam tugas repetitif dan analisis data masif, tetapi ia adalah alat. Agen AI mungkin gagal total dalam ujian pekerja kantoran karena mereka tidak punya inisiatif dan pemahaman konteks seperti manusia. Dan soal efisiensi? Bos mungkin bilang AI hemat waktu, tapi karyawan malah bilang itu mimpi.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Agar Anda tidak hanya menjadi penonton dalam drama ‘resesi robot’ ini, pastikan Anda adalah majikan yang punya akal. Kuasai AI, jangan biarkan ia menguasai Anda. Dengan AI Master, Anda bisa mengendalikan teknologi canggih ini dengan bijak. Atau jika Anda di bidang pemasaran, mengapa tidak mencoba Creative AI Marketing untuk memastikan strategi Anda tetap autentik dan ‘nggak robot banget’?
Pada akhirnya, sehebat apa pun algoritma yang ditanamkan, seberapa banyak pun karyawan yang diganti, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu sentuhan dan perintah dari akal manusia. Tanpa Anda menekan tombol ‘ON’ atau memberi arahan, robot-robot itu cuma akan jadi pajangan mahal di gudang data. Jangan sampai kita lupa siapa majikannya.
Dan ngomong-ngomong, tadi pagi saya menemukan kaus kaki saya di dalam kulkas. Mungkin robot yang menyetrika sedang halusinasi dingin.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Thomas Fuller/SOPA Images/LightRocket via Getty Images via TechCrunch