Sidang BotUpdate Algoritma

OpenAI Ubah Ilmuwan Jadi ‘Dewa’: Prism Janjikan Akal Super, Tapi Awas, Robot Masih Bisa Ngaco!

Para ilmuwan, bersiaplah! OpenAI baru saja meluncurkan Prism, sebuah program workspace ilmiah baru yang diklaim akan mengintegrasikan AI ke dalam standar penulisan makalah penelitian yang ada. Kabar baiknya, Prism ini gratis bagi siapa saja yang punya akun ChatGPT. Ini bukan sekadar word processor biasa, melainkan asisten cerdas yang didukung GPT-5.2 untuk mengevaluasi klaim, merevisi tulisan, hingga mencari penelitian sebelumnya. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar akan menjadikan manusia sebagai ‘dewa’ penelitian, atau cuma melahirkan ‘babu’ baru yang malas mikir?

Filosofi kami di Majikan AI jelas: AI hanyalah alat bantu, dan Kaulah Majikan yang Punya Akal. Prism ini dirancang bukan untuk melakukan penelitian otonom—karena AI yang dibiarkan kerja sendiri itu sama saja dengan menyerahkan kunci rumah ke asisten rumah tangga yang rajin tapi kadang halusinasi. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah mempercepat kerja para ilmuwan manusia. Kevin Weill, VP OpenAI for Science, bahkan membandingkannya dengan antarmuka koding seperti Cursor dan Windsurf, dan optimis bahwa 2026 akan menjadi tahun keemasan AI di bidang sains, layaknya 2025 bagi software engineering. Oke, Klaimnya menarik, tapi kita tahu AI itu butuh kendali, bukan cuma janji manis.

Faktanya, saat ini ChatGPT menerima rata-rata 8,4 juta pesan setiap minggu tentang topik-topik sains. Ini menunjukkan betapa banyak manusia yang mulai memanfaatkan AI untuk membantu mereka berpikir (atau, jangan-jangan, untuk menghindari berpikir keras?). Penelitian yang dibantu AI juga semakin umum. Contoh nyata? Model AI telah digunakan untuk memecahkan masalah Erdos yang sudah lama tertunda di bidang matematika, bahkan ada makalah statistik yang menggunakan GPT-5.2 Pro untuk membuat bukti baru, dengan peneliti manusia hanya memberi prompt dan memverifikasi hasilnya. Hebat, bukan? Tapi ingat, verifikasi manusia adalah kuncinya. Tanpa akal majikan, hasil AI bisa jadi cuma tumpukan data ‘ngawur’ yang terlihat meyakinkan.

Prism menawarkan fitur-fitur menarik: integrasi dengan LaTeX (standar format makalah ilmiah), kemampuan visual GPT-5.2 untuk membuat diagram dari gambar papan tulis digital, dan yang paling penting, akses konteks penuh proyek penelitian di jendela ChatGPT. Artinya, AI bisa lebih ‘paham’ apa yang sedang kamu kerjakan. Namun, jangan sampai kemudahan ini membuatmu lengah. AI, secerdas apa pun GPT-5.2, masih bisa kurang piknik dan menghasilkan omong kosong jika perintahnya tidak presisi. Majikan yang baik tahu cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah, bukan cuma asal suruh.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Untuk memastikan kamu benar-benar mengendalikan AI, dan bukan sebaliknya, kami sangat merekomendasikan untuk mengasah kemampuanmu. Dengan AI Master, kamu bisa belajar mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dan jangan lupakan kekuatan Seni Prompt. Dengan teknik merangkai kata tingkat tinggi ini, AI akan memberikan hasil yang presisi karena majikan yang baik tahu cara memberi perintah yang tidak bisa dibantah. Ingat, robot itu cuma kode, kamu yang punya akal!

Intinya, Prism adalah alat yang powerful yang bisa menjadi pedang tajam di tangan ilmuwan. Tapi ingat, sehebat apa pun pedangnya, tetap butuh pendekar yang piawai mengayunkannya. Tanpa akal manusia yang menekan tombol, memverifikasi, dan mengarahkan, AI hanyalah tumpukan kode mati yang bisa sewaktu-waktu error atau halusinasi.

Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir menumpahkan kopi gara-gara kaget melihat kucing saya memakai kacamata hitam. Ternyata cuma ilusi optik.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: TechCrunch Archive via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *