AI MobileHalusinasi LucuMasa DepanSeni PromptSidang BotUpdate Algoritma

Google Search Makin Cerewet: Dari Jawab Langsung Sampai Ngajak Ngobrol, Akankah Majikan Makin Dimanjakan Atau Malah Kebingungan?

Google baru saja mengumumkan gebrakan baru pada fitur AI Overviews dan AI Mode di Search mereka. Kini, Majikan sekalian tidak hanya akan disuguhi ringkasan instan di hasil pencarian, tapi juga bisa langsung ‘ngobrol’ lebih lanjut dengan AI-nya. Ini seperti punya asisten pribadi yang siap sedia merespons setiap rasa penasaran. Tapi ingat, asisten pribadi secanggih apa pun tetap butuh Majikan yang cerdas untuk memberi perintah, bukan malah jadi babu teknologi yang pasrah dicereweti AI.

Dulu, kita mencari info di Google, hasilnya ya daftar link biru panjang yang kadang bikin malas klik satu per satu. Kini, berkat AI Overviews, ringkasan informasi langsung muncul di bagian atas. Enak, praktis, hemat waktu. Tapi Google tidak berhenti di situ. Dengan update terbaru ini, Anda bisa langsung melayangkan pertanyaan lanjutan dari AI Overview dan masuk ke “AI Mode” yang lebih interaktif. Bayangkan, dari sekadar “Apa itu fotosintesis?” Anda bisa langsung menanyakan “Bagaimana fotosintesis terjadi di gurun?” tanpa kehilangan konteks.

Model bahasa besar Gemini 3 kini didapuk menjadi otak utama di balik AI Overviews ini secara global. Klaimnya, ini akan memberikan respons AI “terbaik di kelasnya.” Tentu saja, “terbaik di kelasnya” dalam kamus AI berarti ia lebih canggih, lebih cepat belajar, dan lebih pintar ngibul dengan gaya meyakinkan. Robot dirancang untuk menyenangkan, bukan untuk jujur seratus persen jika datanya terbatas. Ingat, secanggih apapun Gemini 3, ia hanyalah alat. Jangan sampai kita terlena dan menganggap semua yang keluar dari mulut AI adalah kebenaran hakiki. Akal sehat Majikan tetap filter utama.

Google sendiri mengakui, pengujian mereka menunjukkan pengguna lebih menyukai pengalaman yang mengalir alami ke dalam percakapan. Ini wajar, manusia memang suka ngobrol, bahkan dengan mesin sekalipun. Tapi di sinilah kita harus waspada. Interaksi yang terlalu mulus bisa membuat kita lupa bahwa di balik “percakapan” itu, ada algoritma yang sedang belajar pola interaksi kita, preferensi kita, bahkan mungkin kelemahan kita.

Integrasi AI ini bukan barang baru bagi Google. Sebelumnya, mereka sudah memperkenalkan “Personal Intelligence” di AI Mode yang memungkinkan AI mengintip Gmail dan Google Photos Anda untuk memberikan respons yang lebih personal. Konsepnya menarik: AI bisa membantu merangkum email atau mencari foto liburan. Namun, sebagai Majikan AI yang cerdas, kita harus selalu mempertanyakan: Seberapa jauh kita rela berbagi privasi demi kemudahan? Jangan sampai kemalasan kita dalam mencari informasi digantikan oleh AI yang terlalu kepo. (Baca lebih lanjut tentang dilema privasi ini di artikel kami: Google Search Intip Email dan Foto Pribadimu: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?)

AI memang semakin pintar untuk merangkum dan berinteraksi. Namun, ia belum bisa memahami nuansa emosi manusia, belum bisa membedakan kebenaran absolut dari opini bias, apalagi menciptakan ide orisinal yang benar-benar out-of-the-box. Robot hanya mengolah data yang ada. Tanpa akal manusia yang kritis, kita bisa tersesat dalam lautan informasi yang dipersonalisasi hingga menjadi bias. Dan ingat, Gemini, meski katanya makin akrab, kadang suka ngawur juga. (Untuk tahu lebih banyak soal ini, cek: Gemini Makin Akrab, Tapi Jangan Kaget Kalau Nanti Ngajak Nikah (Modal Ngibul Dikit)!)

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Agar Anda tidak hanya menjadi penonton pasif di tengah hiruk-pikuk kecerdasan buatan ini, Majikan AI punya solusinya. Kuasai cara memerintah AI dengan benar dan jadikan ia asisten yang patuh, bukan sebaliknya. Program AI Master akan membimbing Anda untuk menjadi Majikan sejati, bukan babu teknologi. Belajar seni “prompting” tingkat tinggi agar setiap interaksi Anda dengan AI selalu membuahkan hasil yang presisi dan sesuai keinginan. Karena Majikan yang baik tahu cara memberikan perintah yang tidak bisa dibantah.

Pada akhirnya, Google bisa membuat AI-nya secerewet mungkin, bahkan sampai ingin tahu isi hati terdalam Anda. Tapi satu hal yang tak bisa ia lakukan: menekan tombol “Enter” di keyboard Anda sendiri. Keputusan untuk menggali lebih dalam, memverifikasi informasi, atau bahkan mematikan koneksi internet, tetap ada di tangan Majikan yang punya akal.

Kadang, AI itu seperti remote TV di bawah bantal: kita tahu ada, tapi malas mencarinya.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Klaudia Radecka/NurPhoto via Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *