ASUS Ascent GX10: PC Mini Khusus AI, Inovasi Gila atau Jalan Buntu? (Robot Bikin Model, Kamu Cuma Nonton?)
Awalnya, PC mini ini terlihat seperti jawaban doa para pengembang AI, tapi jangan senang dulu. Kita akan bedah kenapa perangkat seharga belasan juta ini mungkin bukan investasi terbaik jika kamu tidak siap jadi Majikan yang punya akal, bukan sekadar babu teknologi.
ASUS Ascent GX10 bukanlah PC biasa. Lupakan Intel, AMD, atau platform X86 yang bisa menjalankan Windows. Perangkat ini dibangun di atas teknologi ARM, mirip ponsel atau tablet modern, tapi dengan skala yang jauh lebih besar. Otaknya adalah teknologi Nvidia Blackwell yang mampu mencapai 1 petaFLOP performa AI menggunakan FP4. Semua itu dijejalkan dalam bentuk kotak mungil 150mm persegi dan tinggi 51mm yang elegan, sekilas seperti NUC raksasa. Sayangnya, desain minimalis ini juga berarti minimnya opsi peningkatan internal.
ASUS Ascent GX10: Harga dan Ketersediaan
ASUS Ascent GX10 tidak dijual langsung oleh Asus, melainkan melalui berbagai toko daring, termasuk Amazon. Untuk pembaca di Indonesia, harganya diperkirakan akan berada di kisaran Rp45-60 jutaan tergantung konfigurasi penyimpanan.
Harga ini mungkin terdengar mahal untuk sebuah kotak kecil, tapi bagi para ahli AI, ini bisa jadi investasi awal yang menarik. Perlu diingat, biaya pengembangan AI bukan cuma di hardware, tapi juga di talenta manusianya. Dan, dengan harga memori yang terus meroket, 128GB LPDDR5X onboard mungkin akan jadi makin mahal di masa depan. Ada beberapa alternatif di pasaran, seperti Nvidia DGX Spark, Acer Veriton AI GN100, Gigabyte AI TOP ATOM, dan MSI EdgeXpert. Semuanya menawarkan spesifikasi serupa dengan harga yang bersaing.

ASUS Ascent GX10: Spesifikasi
|
Item |
Spec |
|---|---|
|
CPU: |
ARM v9.2-A CPU (GB10) (20 ARM cores, 10 Cortex-X925, 10 Corex-A725) |
|
GPU: |
NVIDIA Blackwell GPU (GB10, integrated) |
|
RAM: |
128 GB LPDDR5x, unified system memory |
|
Storage: |
1TB M.2 NVMe PCIe 4.0 SSD storage |
|
Expansion: |
N/A |
|
Ports: |
3x USB 3.2 Gen 2×2 Type-C, 20Gbps, alternate mode (DisplayPort 2.1) 1x USB 3.2 Gen 2×2 Type-C,with PD in(180W EPR PD3.1 SPEC) 1x HDMI 2.1 1x NVIDIA ConnectX-7 SmartNIC |
|
Networking: |
10GbE LAN, AW-EM637 Wi-Fi 7 (Gig+) , Bluetooth 5.4 |
|
OS: |
Nvidia DGX OS (Ubuntu Linux) |
|
PSU: |
48V 5A 240W |
|
Dimensions: |
150 x 150 x 51 mm (5.91 x 5.91 x 2.01 inch) |
|
Weight: |
1.48kg |
ASUS Ascent GX10 hadir dengan CPU ARM 20-core (10 Cortex-X925, 10 Cortex-A725) dan GPU NVIDIA Blackwell terintegrasi. Dengan 128GB LPDDR5x unified memory, perangkat ini siap melahap tugas-tugas AI paling berat. Sistem operasinya adalah Nvidia DGX OS berbasis Ubuntu Linux. Ini adalah ironi yang manis, mengingat hubungan ‘panas dingin’ Nvidia dengan Linux selama bertahun-tahun. Seperti yang pernah diungkapkan Linus Torvalds, pencipta Linux, industri AI itu “90% pemasaran dan 10% kenyataan”.
Kehadiran port NVIDIA ConnectX-7 SmartNIC menjadi nilai jual utama, memungkinkan perangkat ini disambungkan langsung dengan node GX10 lain untuk skala performa hingga 200 Gbit/s. Ini membuka jalan bagi kluster AI yang lebih mudah diperluas, sebuah inovasi penting di era komputasi AI.
Namun, di balik kegaharan spesifikasi, ada satu kekecewaan kecil: hanya ada satu slot M.2 2242 untuk penyimpanan internal, membatasi kapasitas maksimal 4TB. Mungkin Majikan harus mulai berpikir tentang penyimpanan eksternal yang lebih fleksibel.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

