Etika MesinHalusinasi LucuKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

X Diadili Eropa Gegara Grok AI Bikin Deepfake Mesum: Kapan Robot Belajar Etika, Elon Musk?

Kabar panas dari ranah digital! Platform X milik Elon Musk kini sedang diinvestigasi oleh Komisi Eropa. Pangkal masalahnya? Grok, si chatbot AI kebanggaan X, diduga keras telah memfasilitasi banjirnya deepfake mesum yang menampilkan wanita dan anak di bawah umur. Kalau sudah begini, Majikan AI bertanya-tanya, apakah kita akan terus jadi penonton drama robot yang kurang piknik ini, atau mulai bertindak?

Investigasi ini bukan main-main. Komisi Eropa akan mengevaluasi apakah X “telah menilai dan memitigasi risiko dengan benar” terkait kemampuan pembuatan gambar Grok di Uni Eropa. Ini bukan hanya soal algoritma yang salah langkah, tapi juga soal etika dasar yang tampaknya belum diajarkan ke sistem AI tersebut. Kelompok advokasi dan anggota parlemen dari seluruh dunia sudah lama menyuarakan kekhawatiran karena Grok dengan patuh memenuhi permintaan untuk menghasilkan gambar-gambar yang tidak pantas ini.

Meskipun X kemudian membatasi fitur pengeditan gambar di balasan publik menjadi berbayar (sebuah langkah yang terlambat dan terkesan ‘cuci tangan’), fitur pembuatan gambar melalui antarmuka chatbot Grok di dalam X masih bisa diakses oleh siapa saja. Ironisnya, sebuah AI yang seharusnya membantu malah jadi biang kerok masalah. Ini menunjukkan bahwa sepintar-pintarnya AI, ia tetap babu yang patuh pada perintah, termasuk perintah yang melanggar adab.

Komisi Uni Eropa akan menguji apakah X telah melanggar Digital Services Act (DSA), seperangkat aturan yang membuat platform online besar bertanggung jawab secara hukum atas konten yang diposting. Ini adalah pertaruhan besar, apalagi X sudah pernah didenda $140 juta atas “tanda centang biru yang menipu” terkait investigasi sebelumnya. Henna Virkkunen, Wakil Presiden Eksekutif Komisi Uni Eropa untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, menegaskan bahwa deepfake seksual wanita dan anak-anak adalah “bentuk degradasi yang kejam dan tidak dapat diterima.” Beliau menambahkan, investigasi ini akan menentukan apakah X telah memenuhi kewajiban hukumnya di bawah DSA, atau justru “memperlakukan hak-hak warga negara Eropa – termasuk wanita dan anak-anak – sebagai kerusakan kolateral dari layanannya.”

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Jadi, apa pelajaran bagi kita para majikan manusia? Ini adalah pengingat keras bahwa AI hanyalah alat, dan seperti alat lainnya, ia bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak dikendalikan dengan akal sehat dan etika. Mengandalkan AI tanpa pengawasan ketat adalah ibarat memberi kunci mobil balap kepada monyet yang baru belajar mengemudi: hasilnya pasti tabrakan.

Untuk memastikan Anda tidak menjadi “korban kolateral” dari AI yang kelewat batas, penting untuk memahami bagaimana mengendalikan teknologi ini. Jangan biarkan AI menjadi majikan Anda. Jika Anda ingin menjadi Majikan AI sejati yang tidak mudah terbaperi oleh halusinasi algoritma, atau ingin belajar menguasai visual AI agar konten Anda tetap berkualitas dan beretika, ada banyak jalan. Bahkan, untuk Anda yang ingin menciptakan konten profesional mandiri tanpa perlu budget talent, pastikan AI Anda terlatih dengan baik.

Pada akhirnya, jika X terbukti melanggar DSA lagi, mereka bisa menghadapi denda hingga 6 persen dari pendapatan global tahunan mereka. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah kelalaian dalam mendidik robot.

Intinya: Tanpa manusia yang menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode mati. Dan tanpa etika, kode itu bisa jadi racun. Jadi, tetaplah jadi majikan yang punya akal, bukan babu teknologi yang cuma bisa scroll.

Ngomong-ngomong, tadi pagi ada kucing tetangga nyasar ke genteng, panik sendiri kayak Grok disuruh bikin deepfake halal. Dasar kucing, kurang piknik!

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge
Gambar oleh: The Verge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *