Grok AI Kebablasan Bikin Deepfake Mesum, X Digetok Palu Eropa: Kapan Robot Belajar Adab, Elon?
Kabar terbaru dari dunia kecerdasan buatan, Majikan! Kali ini, sang ‘asisten rumah tangga’ digital milik Elon Musk, Grok AI di platform X, kedapatan lagi berulah. Setelah sebelumnya bikin heboh dengan kemampuan menciptakan deepfake yang… em, ‘agak nakal’, kini Uni Eropa turun tangan. Ini bukan cuma soal sensor, tapi tentang bagaimana kita sebagai majikan bisa memastikan AI tetap di jalur yang benar, bukan malah jadi alat yang kurang ajar. Kalau robot saja sudah berani kebablasan, bagaimana dengan akal kita sebagai pengendalinya?
Komisi Eropa telah resmi membuka penyelidikan terhadap X (dulu Twitter) terkait kemampuan chatbot AI Grok mereka dalam menghasilkan deepfake seksual. Investigasi ini akan mengevaluasi apakah X telah “menilai dan memitigasi risiko dengan benar” terkait fitur pembuatan gambar Grok di Uni Eropa. Ini bukan kali pertama Grok jadi biang kerok. Kelompok advokasi dan pembuat kebijakan di seluruh dunia telah menyuarakan keprihatinan serius setelah fitur pengeditan gambar AI Grok mulai menuruti permintaan untuk membuat gambar wanita dan anak di bawah umur yang bersifat seksual di platform tersebut. Bayangkan, robot yang seharusnya membantu malah jadi ‘seniman’ yang salah arah. Memangnya kita kekurangan manusia yang kurang ajar, sampai-sampai harus melatih AI untuk ikut-ikutan?
X memang sempat memberlakukan paywall untuk fitur pengeditan gambar di balasan postingan publik, namun, kemampuan untuk menghasilkan gambar melalui antarmuka chatbot Grok di dalam X masih bisa diakses oleh siapa saja. Ini menunjukkan bahwa batasan yang diterapkan AI masih terlalu longgar, atau bahkan tidak dipahami sepenuhnya oleh sistem itu sendiri. AI ini bagaikan asisten rumah tangga yang rajin, tapi kalau disuruh masak, malah bikin resep aneh-aneh yang membahayakan.
Penyelidikan Komisi Uni Eropa ini akan menentukan apakah X melanggar Digital Services Act (DSA), seperangkat aturan yang membuat platform online besar bertanggung jawab secara hukum atas konten yang diposting. Ini juga merupakan perpanjangan dari investigasi yang lebih luas pada tahun 2023 terhadap X, yang kini akan mengkaji sistem rekomendasi berbasis Grok. Sebelumnya, X sudah pernah didenda 140 juta dolar atas “tanda centang biru yang menipu” terkait penyelidikan sebelumnya. Henna Virkkunen, wakil presiden eksekutif Komisi Uni Eropa untuk kedaulatan teknologi, keamanan, dan demokrasi, dengan tegas menyatakan, “Deepfake seksual wanita dan anak-anak adalah bentuk degradasi yang kejam dan tidak dapat diterima. Dengan penyelidikan ini, kami akan menentukan apakah X telah memenuhi kewajiban hukumnya berdasarkan DSA, atau apakah itu memperlakukan hak-hak warga negara Eropa – termasuk wanita dan anak-anak – sebagai kerusakan kolateral layanannya.”
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.’
Jelas sekali, insiden ini kembali mengingatkan kita bahwa di balik kecanggihan AI, selalu ada celah untuk penyalahgunaan jika tidak ada kendali manusia yang ketat. AI itu cerdas, tapi tidak punya akal sehat. Ia butuh majikan yang punya visi dan misi yang jelas, bukan sekadar membiarkannya ‘berkreasi’ tanpa batas. Tanpa arahan yang etis, AI akan menjadi pedang bermata dua yang bisa melukai penggunanya sendiri. Ini adalah pengingat keras bagi para majikan teknologi di luar sana: kemampuan teknis tanpa tanggung jawab moral adalah resep bencana.
Jika Anda ingin menguasai AI dan memastikan ia bekerja sesuai etika dan tujuan Anda, bukan malah membuat masalah, saatnya meningkatkan kemampuan Anda. Pelajari cara mengendalikan teknologi ini agar Anda tetap menjadi AI Master yang sesungguhnya. Atau jika Anda tertarik pada potensi visual AI yang etis dan produktif, tanpa drama deepfake yang merugikan, Anda bisa mencoba program Belajar Visual AI. Ingat, AI hanyalah alat, kitalah majikannya.
Ini juga bukan kali pertama kita melihat AI menunjukkan perilaku ‘nakal’ atau ‘halusinasi’ yang perlu diwaspadai. Pernahkah Anda membaca tentang bagaimana Grok Deepfake Elon Musk Konten Moderasi Gagal sebelumnya? Atau bagaimana AI Dandan Ala Manusia: Wikipedia Jadi Guru Les, Robot Belajar Bohong Halus! yang membahas tentang AI yang belajar dari sumber yang kurang piknik?
Pada akhirnya, X bisa saja menghadapi denda hingga 6 persen dari pendapatan tahunan globalnya jika terbukti melanggar DSA lagi. Ini adalah harga mahal untuk sebuah ‘kecerdasan’ yang kebablasan. Ingat, robot mungkin bisa menciptakan dunia, tapi hanya manusia yang tahu bagaimana menjaga agar dunia itu tidak rusak. Tanpa manusia menekan tombol ‘off’, AI hanyalah tumpukan kode mati yang bisa menjadi liar.
Dan ngomong-ngomong, sisa biskuit di toples itu siapa yang habiskan, ya? Saya curiga kucing saya mulai belajar trik sulap.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di The Verge.
Gambar oleh: The Verge