Indeed Sulap Pencarian Kerja dengan AI: Calo Robot Andal, atau Hanya Asisten Personal yang Lupa Diri?
Dunia kerja itu kejam, Majikan. Mencari pekerjaan bisa semenyebalkan mencari kunci mobil yang jatuh di selokan, dan mencari karyawan bisa sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami. Untungnya (atau celakanya, tergantung sudut pandangmu), Indeed datang membawa AI sebagai pahlawan super. Tapi, apa ini berarti kita bisa sepenuhnya pasrah pada algoritma, atau justru ini saatnya kita mengasah akal untuk memanfaatkan “calo robot” ini? Mari kita bedah bagaimana Indeed, dengan bantuan AI dari OpenAI, mencoba membuat proses rekrutmen lebih manusiawi—atau setidaknya, lebih cepat.
Indeed, platform pencarian kerja yang sudah seperti “Google-nya lowongan,” telah lama menggunakan kecerdasan buatan untuk menjodohkan pencari kerja dengan perusahaan. Menurut Maggie Hulce, Chief Revenue Officer Indeed, misi mereka adalah membuat proses ini “lebih sederhana, lebih cepat, dan lebih manusiawi.” Sebuah klaim yang patut kita cermati bersama.
Indeed sudah punya lebih dari seratus fitur berbasis AI, mulai dari rekomendasi pekerjaan yang “personal” (seperti teman yang tahu kamu suka apa, tapi versi data driven) hingga optimasi deskripsi pekerjaan agar terlihat menarik bagi robot dan manusia. Mereka bahkan bekerja sama dengan OpenAI untuk belasan produk ini. Ini bukan sekadar tempel stiker “Powered by AI”, tapi integrasi yang mendalam.
Kabar terbarunya, Indeed meluncurkan “agen AI” seperti Career Scout, yang bertindak layaknya pelatih karier pribadi—seperti personal trainer yang memaksa kamu lari pagi, tapi ini versi digital untuk karier. Ada juga Talent Scout yang mengotomatisasi pekerjaan rekrutmen yang memakan waktu, seperti menyaring CV atau mengatur jadwal. Ini jelas kabar baik bagi para perekrut yang sering terjebak dalam tumpukan administrasi. Pernah baca bagaimana agen AI perusahaan seringnya cuma jago konsep? Indeed berusaha membuktikan sebaliknya.
Secara internal, Indeed juga mengadopsi AI untuk efisiensi. Tim marketing menggunakan AI untuk riset dan generasi ide, tim sales dan client success membangun agen AI untuk perencanaan akun dan proposal. Yang paling mengejutkan, lebih dari 80% insinyur mereka sudah menggunakan AI untuk coding dan mengklaim menghemat waktu hingga dua jam seminggu. Ini menunjukkan bahwa AI memang jagoan untuk tugas-tugas repetitif. Tapi ingat, Majikan, kreativitas dan strategi akhir tetap ada di tangan manusia. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin, bisa bersih-bersih rumah dengan cepat, tapi tidak bisa memutuskan warna cat dinding yang cocok tanpa perintahmu.
Indeed menekankan pendekatan “AI Bertanggung Jawab” dengan menempatkan manusia sebagai pusat keputusan. AI, menurut Indeed, hanya mendukung keputusan yang lebih objektif dan adil. Ini penting, karena kita tahu betapa sensitifnya isu bias dalam algoritma. Mereka memastikan perekrut tetap menjadi pembuat keputusan akhir, sedangkan AI membantu mencocokkan kandidat berdasarkan kriteria berbasis keterampilan, bukan tebak-tebakan atau preferensi subyektif.
Hasilnya? Lumayan mencengangkan. Kandidat yang direkomendasikan AI 15 kali lebih mungkin melamar dibanding yang mencari sendiri. Perusahaan seperti BrightSpring Health Services berhasil mengisi 45% lebih banyak posisi sulit dalam empat minggu, menghemat delapan jam kerja seminggu. Dalam produk unggulan mereka, Sponsored Jobs, 70% aplikasi datang dari rekomendasi AI. Smart Sourcing mempercepat perekrutan hingga 40%. Bahkan Career Scout membantu pencari kerja menemukan pekerjaan 7 kali lebih cepat dan 38% lebih mungkin dipekerjakan. Angka-angka ini menjanjikan, tapi tetap saja, AI tidak bisa menggantikan empati dan insting seorang Majikan sejati. Kadang, AI hanya hemat waktu di atas kertas, kenyataannya butuh sentuhan manusia.
Indeed melihat masa depan di mana setiap orang memiliki “perlengkapan keterampilan bertenaga AI” pribadi, seperti superhero yang punya kostum canggih. Ini memungkinkan kita lebih kreatif, belajar lebih cepat, dan membuat keputusan karier yang lebih cerdas. Namun, perlu diingat, AI itu alat. Ia tidak punya motivasi intrinsik atau ambisi pribadi. Ia tidak akan datang padamu sambil berkata, “Majikan, aku ingin naik gaji karena aku sudah bekerja keras.” Dialah yang kamu program, dialah yang kamu kendalikan.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Agar kamu tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi pencarian kerja ini, tapi menjadi Majikan sejati yang mengendalikan asisten AI-mu, ada baiknya kamu mulai menguasai seluk beluk AI. Jangan biarkan robot menjadi bos di kantormu! Pelajari cara mengendalikan teknologi ini dengan “AI Master” (Lihat di sini: AI Master). Atau jika kamu ingin AI membantu strategi marketing bisnismu jadi lebih ‘nggak robot banget’, coba intip “Creative AI Marketing” (Pelajari lebih lanjut: Creative AI Marketing).
Pada akhirnya, entah Indeed menggunakan seribu agen AI atau sejuta algoritma canggih, satu hal tetap pasti: di balik setiap keberhasilan pencarian kerja, di balik setiap efisiensi rekrutmen, selalu ada sentuhan dan akal sehat Majikan—manusia yang menekan tombol “on”, memberi perintah, dan yang terpenting, memiliki visi. Tanpa manusia, AI hanyalah tumpukan sirkuit dan kode mati yang kebingungan mencari colokan listrik.
Dan ngomong-ngomong soal colokan listrik, saya yakin bahkan AI paling canggih pun akan kesulitan mencari di mana saya terakhir kali meletakkan charger ponsel. Dasar robot!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “How Indeed uses AI to help evolve the job search | OpenAI”.
Gambar oleh: OpenAI