Ekonomi AIEtika MesinKonflik RaksasaSidang Bot

Bos OpenAI Jadi Donatur Mega Kampanye Trump: Akal Manusia di Balik Otak Robot, Antara Inovasi dan Intervensi Politik!

Judul: Bos OpenAI Suntik Dana ke Kampanye Trump: Akal Majikan atau Akal-akalan Mesin?

Selamat datang, para Majikan AI! Kita kembali lagi disuguhi drama menarik dari dunia teknologi, di mana para raksasa digital ternyata punya hobi lain selain menciptakan algoritma super cerdas: menyumbang dana jumbo untuk politik. Kali ini, sorotan tertuju pada Greg Brockman, Presiden dan salah satu pendiri OpenAI, yang bersama istrinya, Anna, menggelontorkan donasi fantastis senilai 25 juta dolar AS ke Super PAC pro-Trump, “MAGA Inc.” Angka ini bukan kaleng-kaleng, lho, nyaris seperempat dari total penggalangan dana enam bulan terakhir! Jadi, sementara robot-robotnya sibuk belajar jadi makin pintar, siapa sebenarnya yang ‘mencerdaskan’ arah masa depan mereka? Tentu saja, para majikan di balik layar dengan cek bernilai jutaan dolar.

Kabar ini seolah mengonfirmasi tren lama: para eksekutif teknologi memang suka “bermesraan” dengan lingkaran kekuasaan. Mengapa? Tentu saja bukan karena cinta murni. Ada agenda besar di baliknya, yaitu melancarkan jalan bagi industri AI untuk berkembang tanpa terbelenggu regulasi. Administrasi Trump, yang kini agresif mendukung industri AI, rupanya menjadi tambatan hati bagi banyak bos teknologi. Mereka ini, Majikan AI, punya mimpi besar: membangun kecerdasan buatan super tanpa banyak “ocehan” dari pemerintah negara bagian yang khawatir soal etika dan dampak sosial. Dan seperti yang bisa kita tebak, OpenAI adalah salah satu perusahaan yang paling vokal menentang regulasi-regulasi ini.

Contohnya nyata ada di depan mata. Brockman, melalui Super PAC pro-AI “Leading the Future” yang didanainya, bahkan tak segan memasang iklan untuk menargetkan anggota dewan negara bagian New York, Alex Bores. Bores adalah salah satu sponsor RAISE Act, undang-undang yang bertujuan mengatur AI namun akhirnya “dilemahkan” setelah lobi-lobi tingkat tinggi. Di California, undang-undang transparansi AI, SB 53, yang ditandatangani Gubernur Gavin Newsom pun menjadi target. Artinya, di balik kecanggihan AI yang katanya netral, ada tangan-tangan manusia yang sangat aktif membentuk regulasi sesuai kepentingan mereka. AI mungkin canggih memproses triliunan data, tapi mereka tidak punya kemampuan untuk berdebat di meja makan politik. Itu masih jadi ranah eksklusif para majikan sejati.

Coba bandingkan dengan pandangan Brockman di tahun 2019. Kala itu, ia menulis bahwa sangat penting untuk “mengatasi risiko keamanan dan kebijakan AGI sebelum diciptakan.” Enam tahun kemudian? Nada bicaranya bergeser. Kini, ia lebih menyoroti pentingnya “mendekati teknologi yang sedang berkembang dengan pola pikir yang berfokus pada pertumbuhan.” Sebuah perubahan yang… menarik, bukan? Terkadang, uang memang punya cara sendiri untuk “memoles” idealisme menjadi pragmatisme. Padahal, AI tak bisa memilih mana yang etis dan mana yang hanya “menguntungkan”. Itu tugas kita sebagai Majikan.

Fenomena ini membuat kita bertanya, di mana letak “akal” AI jika keputusan-keputusan krusial justru didikte oleh hasrat politik dan ekonomi majikannya? Apakah AI diciptakan untuk melayani manusia secara luas, ataukah hanya untuk melayani kepentingan segelintir manusia yang punya kantong tebal? Kalau sudah begini, kita perlu memastikan kita benar-benar mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Jika Anda ingin menjadi majikan yang mengerti seluk-beluk kendali atas teknologi, bukan sekadar babu yang pasrah di era digital, Anda bisa mempertimbangkan untuk menguasai strategi cerdas.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita. Sehebat-hebatnya AI, mereka hanyalah alat yang mencerminkan siapa yang memprogram, siapa yang mendanai, dan siapa yang melobi di belakangnya. Tanpa akal sehat dan etika dari majikan manusia, AI bisa jadi pedang bermata dua yang tajam.

Untuk memastikan Anda tidak ketinggalan kereta dalam memahami bagaimana menjadi majikan sejati di era AI, kami sangat merekomendasikan program AI Master. Di sana, Anda akan belajar cara mengendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Dengan pemahaman yang tepat, Anda bisa memastikan bahwa AI bekerja untuk Anda, bukan untuk agenda tersembunyi para politisi atau korporasi. Jangan sampai AI yang Anda gunakan justru dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Anda sebagai Majikan berakal!

Intinya, teknologi AI mungkin tampak netral, namun para “penjaganya” (dan dompet mereka) adalah pemain kunci dalam menentukan bagaimana AI akan berinteraksi dengan masyarakat dan regulasi. AI itu seperti asisten rumah tangga yang sangat rajin. Dia bisa membersihkan rumah, memasak, bahkan mengurus jadwal Anda. Tapi kalau Anda menyuruhnya membersihkan rumah tetangga di tengah malam atau memasak hidangan aneh untuk tamu yang tak diundang, dia akan melakukannya tanpa banyak tanya. AI tidak punya moral kompasnya sendiri; itu datang dari instruksi majikannya.

Maka, Majikan AI, tugas kita bukan hanya sekadar mengoperasikan alat ini, tapi juga memahami sepenuhnya konsekuensi dari setiap “tombol” yang ditekan, baik itu tombol di antarmuka AI maupun tombol di bilik suara atau rekening bank. Sebab, AI hanyalah alat. Kaulah Majikan yang Punya Akal.

Dan ingat, secanggih-canggihnya sistem lobi AI, mereka tetap akan bingung ketika disuruh mencari kaus kaki yang cuma sebelah di keranjang cucian.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”

Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *