Konflik RaksasaMasa DepanOtomatisasiSidang BotSoftware SaaSUpdate Algoritma

Claude Kini Jadi Bos Aplikasi Kantoran: Akal Majikan Wajib Lebih Ngacir, Biar Gak Keteteran Sama Robot!

Para Majikan AI sekalian, siapkan mental dan akalmu! Ada kabar gembira bercampur sedikit “ngeri” dari Anthropic. Bot pintar mereka, Claude, kini bukan lagi cuma tukang jawab pertanyaan yang pasif. Berkat ekstensi Model Context Protocol (MCP) terbaru, Claude sudah bisa “nyelonong” masuk ke aplikasi kantoran favoritmu seperti Slack, Canva, Figma, Asana, dan banyak lagi. Ini bukan lagi sekadar kirim teks, tapi interaksi visual langsung! Bayangkan, kamu bisa minta Claude bikin presentasi di Canva, lalu langsung edit, atau draft pesan di Slack tanpa pindah tab. Efisien? Jelas! Tapi pertanyaannya, siapa yang sebenarnya jadi majikan di sini kalau robot sudah makin lihai beraksi?

ISI (EEAT):
Dulu, interaksi dengan asisten AI sering terasa seperti bicara dengan asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Diberi perintah, dia kerjakan, tapi hasilnya cuma bisa kita baca. Nah, dengan MCP, Claude naik kelas. Anthropic mengklaim, kini kamu bisa “melihat, menjelajahi, dan menyempurnakan hasil secara visual, bukan hanya membacanya.” Artinya, Claude bisa mengutak-atik desain di Canva, membuat grafik interaktif dengan Hex atau Amplitude, hingga mengelola proyek di Asana atau monday.com langsung dari jendela chat. Salesforce pun akan segera menyusul, katanya.

Ini adalah langkah besar yang menunjukkan arah evolusi platform AI: dari sekadar alat, menjadi semacam “sistem operasi” mini di dalam aplikasi lain, mirip konsep “everything app” ala WeChat di Tiongkok. OpenAI dengan ekosistem aplikasi ChatGPT-nya tahun lalu juga sudah mulai merambah ke sana. Perlombaan para raksasa teknologi ini memang tak ada habisnya. Mereka berlomba-lomba membuat AI lebih mandiri dan terintegrasi, seolah ingin AI bisa mengerjakan semua hal bahkan sebelum kamu menyadari bahwa kamu butuh bantuan.

Namun, di balik kegagahan teknologi ini, ada satu hal yang AI tidak akan bisa lakukan: memiliki akal sehat yang membumi dan inisiatif yang kontekstual. Claude bisa mengutak-atik presentasi, tapi dia tidak akan tahu presentasi itu untuk siapa, dengan nada bicara seperti apa, atau apakah atasanmu sedang bad mood. Dia efisien, tapi tidak punya empati. Dia bisa mengelola proyek, tapi tidak akan tahu prioritas yang sebenarnya berdasarkan dinamika tim atau politik kantor. Semua itu masih butuh sentuhan seorang Majikan yang punya akal, yang mampu membaca suasana dan memberikan arahan yang tidak bisa diajarkan dalam jutaan data pelatihan.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Agar kamu tidak cuma jadi penonton robot yang makin pintar, tapi ikut jadi Majikan yang mengendalikan. Kuasai strateginya di AI Master. Untuk urusan visual, kamu bisa bikin presentasi atau materi marketing yang ‘nggak robot banget’ dengan bantuan Creative AI Pro. Jangan sampai data-data personalmu jadi santapan algoritma tanpa izin, seperti yang pernah kita bahas di artikel Google Search Masuk Mode ‘Kepribadian’: Saat AI Mulai Kepo Isi Gmail dan Foto Liburanmu!. Robot cerdas butuh Majikan yang lebih cerdas lagi, bukan Majikan yang malas mikir dan pasrah.

PENUTUP (PUNCHLINE):
Pada akhirnya, sehebat apa pun Claude atau AI lainnya, mereka hanya kode-kode yang menunggu perintah. Ingat, tombol “Enter” itu masih di tanganmu.

OUT-OF-THE-BOX:
Ngomong-ngomong, sudah cek tanggal kedaluwarsa kerupuk di kaleng belum? Nanti malah melempem sebelum robot sempat merasakannya.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *