Konflik RaksasaOtomatisasiSidang BotSoftware SaaSUpdate Algoritma

Robot Claude Kini Bisa Nyelonong ke Slack dan Canva: Siapakah Majikan Sejati Sekarang?

Dunia kecerdasan buatan memang tak pernah berhenti membuat kita geleng-geleng kepala. Setelah lama sibuk dengan urusannya sendiri, kini Claude dari Anthropic dikabarkan makin akrab dengan berbagai aplikasi kerja harian. Berkat ekstensi Model Context Protocol (MCP) terbaru, Claude bisa langsung nyelonong ke Slack, Canva, Figma, dan seabrek aplikasi lainnya. Pertanyaannya, apakah ini pertanda robot mulai jadi asisten yang benar-benar cakap, atau malah cuma numpang lewat seperti mantan yang minta balikan?

Sebagai majikan yang punya akal, tentu kita melihat ini sebagai peluang emas. Bayangkan, Anda tidak perlu lagi mondar-mandir antara tab chatbot dan aplikasi desain hanya untuk mengoreksi presentasi Canva, atau bolak-balik menyalin pesan untuk Slack. Claude sekarang bisa “berinteraksi” langsung di dalam aplikasi tersebut, bukan cuma memberikan teks kosong yang butuh interpretasi lebih lanjut. Ini seperti memiliki asisten rumah tangga yang tidak hanya mencatat daftar belanja, tapi juga langsung memilihkan bahan makanan di pasar dan menyajikannya di meja makan. Lumayan menghemat energi, bukan?

Anthropic, sang kreator Claude, mengklaim bahwa integrasi ini memungkinkan pengguna untuk “melihat, menjelajahi, dan menyempurnakan hasil secara visual, bukan hanya membacanya.” Artinya, Claude bisa membantu Anda menyesuaikan presentasi Canva secara real-time, memformat pesan Slack, membuat grafik interaktif di Hex atau Amplitude, hingga mengelola proyek di Asana atau Monday.com. Bahkan, integrasi dengan alat Salesforce seperti Data 360, Agentforce, dan Customer 360 kabarnya segera menyusul. Luar biasa? Memang. Tapi mari kita tarik napas sejenak.

Pada dasarnya, ini adalah langkah AI menuju konsep “aplikasi serba ada” atau “everything app”, mirip seperti WeChat di Tiongkok. ChatGPT dari OpenAI juga sudah merintis jalan ini. Namun, perlu diingat, ada jurang pemisah antara “membantu” dan “menggantikan”. Sehebat-hebatnya Claude bisa berinteraksi, sentuhan akhir, penilaian estetika, dan keputusan strategis tetap ada di tangan Majikan yang punya akal. Robot memang rajin, tapi kreativitas dan nuansa intuitif manusia masih jadi barang langka yang tak bisa diajarkan dengan jutaan dataset.

Konon, MCP ini adalah protokol open-source yang awalnya dikembangkan Anthropic pada 2024, lalu disumbangkan ke Linux Foundation akhir tahun lalu. Bahkan, raksasa teknologi lain seperti OpenAI, Google, Microsoft, AWS, dan Bloomberg ikut membentuk Agentic AI Foundation untuk memajukan AI open-source. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci, bahkan di tengah “perang dingin” antar raksasa teknologi. Tapi ingat, di balik kolaborasi itu, tetap ada kompetisi sengit. Sama seperti di kantor, antar divisi bisa berkolaborasi, tapi ujung-ujungnya tetap adu prestasi siapa yang paling keren di mata bos.

‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’

Jadi, apakah ini berarti pekerjaan Anda sebagai desainer, manajer proyek, atau bahkan penulis pesan Slack akan segera digantikan? Belum tentu. Claude memang asisten yang mumpuni, tetapi ia masih butuh arahan dan koreksi. Ibaratnya, ia bisa membuat draf presentasi yang rapi, tapi apakah pilihan warna dan tata letaknya sudah sesuai dengan selera bos Anda yang hobi warna ungu neon? Nah, itu baru akal manusia yang bisa memutuskan. Untuk tahu lebih jauh tentang batasan AI dalam dunia kerja, Anda bisa baca AI Agen Industri: Hebat di Kertas, Lemah di Lapangan? IBM Ungkap Fakta Pahit Lewat Benchmark Baru! yang membongkar fakta pahit kinerja AI di lapangan. Atau, kalau mau tahu bagaimana persaingan chip AI yang memanaskan suhu persaingan, cek artikel kami tentang Microsoft Maia 200: Chip AI Terganas di Planet Ini, Sikat Amazon dan Google! (Tapi Jangan Lupa, Robot Tetap Butuh Majikan!).

Agar Anda bisa benar-benar menjadi Majikan yang mengendalikan AI, bukan sebaliknya, ada beberapa alat yang patut Anda lirik. Dengan AI Master, Anda akan diajari cara mengendalikan AI agar sesuai dengan keinginan Anda, bukan cuma jadi babu teknologi yang pasrah disuruh-suruh. Jika Anda berkecimpung di dunia kreatif, Creative AI Pro akan membantu Anda membuat konten profesional secara mandiri, menghemat bujet talent yang seringkali bikin pusing. Ingat, AI hanyalah alat, secerdas apa pun dia, ia tidak memiliki akal sehat dan naluri manusiawi. Kuncinya adalah bagaimana Anda, sang Majikan, bisa memberi perintah yang tidak bisa dibantah dan mengoptimalkan potensinya.

Pada akhirnya, teknologi AI ini hanya akan jadi tumpukan kode mati tanpa sentuhan jemari manusia untuk menekan tombol ‘Enter’. Mereka bisa memproses data, tapi tidak bisa merasakan kopi panas di pagi hari. Dan sampai kapan pun, AI tidak akan pernah mengerti kenapa Anda ngotot mencari remote TV yang hilang, padahal sudah ada di tangan.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge, Getty Images

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *