Bakal Dibaca Robot! Bos Experian Pede Skor Kredit Aman dari ‘Halusinasi’ AI (Asal Manusia Tetap Waspada)
PEMBUKA:
Para majikan digital, bersiaplah! Di tengah riuhnya kabar AI yang makin canggih dan kadang bikin merinding, Chief of Technology dan Software Experian, Alex Lintner, muncul dengan pernyataan menenangkan (atau justru bikin kita makin kepo?). Ia menegaskan, meskipun AI semakin merasuk ke dalam sistem skor kredit, manusia tetaplah “majikan” yang punya kendali. Lalu, bagaimana kita bisa memastikan algoritma tidak semena-mena memutus masa depan finansial kita? Mari kita bedah.
ISI (EEAT):
Experian, raksasa di balik layar yang tahu lebih banyak tentang keuangan Anda daripada mantan terindah, kini sedang sibuk mengintegrasikan AI. Alex Lintner menjelaskan bahwa AI mereka dipakai untuk tujuan mulia: memastikan tata kelola data yang benar, memberikan penjelasan yang transparan, dan meningkatkan pengawasan manusia. Bukan untuk membuat “skor reputasi” ala Palantir yang bikin kita parno setiap belanja di minimarket. Ibarat asisten rumah tangga yang rajin, AI Experian ditugaskan untuk merapikan data, bukan mengambil alih dapur.
Namun, jangan lantas kita bertepuk tangan dulu. Alex sendiri mengakui bahwa di balik kecanggihan ini, ada risiko halusinasi AI dan potensi bias data. Jadi, AI ini ibarat anak baru magang yang semangat tapi kadang nyeleneh. Mereka bisa saja menyimpulkan hal-hal yang salah tentang seseorang, yang dampaknya bisa sangat fatal bagi kehidupan finansial. Untungnya, Lintner menekankan peran krusial para data scientist yang bertindak sebagai “pengawas” utama. Mereka yang memastikan algoritma tidak ngawur, dan jika ada yang salah, ya tinggal dimatikan saja, lalu diperbaiki. Enak kan? Tentu, ini mengingatkan kita pada pentingnya mengubah mentalitas dalam implementasi AI di perusahaan, bukan hanya soal infrastruktur.
Salah satu inovasi Experian adalah “Boost”, sebuah fitur gratis yang memungkinkan konsumen meningkatkan skor kredit mereka dengan memasukkan data pembayaran rutin seperti tagihan telepon atau langganan streaming. Ini seperti memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang “kurang piknik” dalam sejarah kreditnya. Lintner sendiri, seorang imigran yang pernah kesulitan mendapatkan kredit, sangat memahami urgensi ini. Ia percaya, akses terhadap kredit adalah kunci kemakmuran, dan Experian mencoba membuatnya lebih adil.
Soal keamanan, Lintner dengan bangga menyebut bahwa sejak ia bergabung 10 tahun lalu, belum ada insiden kebocoran data besar di Experian. Mereka bahkan dibayar oleh kompetitor seperti Equifax untuk membantu melindungi data konsumen setelah insiden kebocoran masif. Ini menunjukkan bahwa keamanan adalah prioritas nomor satu, di atas segala-galanya. Dana besar digelontorkan untuk teknologi canggih dan SDM terbaik demi menjaga data Anda tetap aman dari tangan-tangan jahil. Karena apa gunanya AI super canggih kalau datanya malah jadi santapan hacker?
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Ekonomi AI.
Namun, tantangan terbesar tetaplah pada persepsi konsumen. Banyak yang merasa “tidak berdaya” di hadapan entitas besar seperti Experian. Alex Lintner berusaha meyakinkan bahwa dengan AI, mereka berupaya memberikan lebih banyak kontrol kepada konsumen, bukan sebaliknya. Memungkinkan opt-out data dengan mudah, menyediakan pusat layanan pelanggan berbasis di AS dengan ribuan karyawan, semua demi menjaga kepercayaan. Ini sejalan dengan upaya untuk menjadi “majikan” sejati bagi data kita sendiri.
Untuk Anda para majikan yang ingin benar-benar menguasai AI dan tidak sekadar menjadi babu teknologi, penting untuk memahami seluk-beluknya. Mulai dari bagaimana AI memproses data hingga bagaimana memastikan algoritma bekerja sesuai keinginan kita, bukan malah mengarang bebas seperti ChatGPT yang kadang suka kepo isi email dan foto liburan.
Jika Anda ingin mengendalikan teknologi AI untuk keuntungan Anda dan tidak ingin AI menjadi majikan Anda, kami sangat merekomendasikan untuk menjelajahi AI Master. Program ini dirancang untuk membekali Anda dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memanfaatkan kekuatan AI, memastikan Anda selalu menjadi pengendali, bukan yang dikendalikan.
PENUTUP (PUNCHLINE):
Pada akhirnya, semodern apa pun algoritma Experian, sepintar apa pun AI yang mereka ciptakan, ingatlah satu hal: tanpa manusia yang menentukan prinsip, mengawasi, dan menekan tombol ‘on’ atau ‘off’, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak punya akal sehat. Kita adalah majikannya, bukan sebaliknya.
…Dan ngomong-ngomong, tadi pagi robot penyedot debu saya gagal mengenali tumpukan kaos kaki kotor sebagai “ancaman”. Mungkin perlu di-upgrade dengan “Experian Boost” versi rumah tangga.
Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Nilay Patel via TechCrunch