Karier AISidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

Synthesia Tembus Valuasi Rp64 Triliun: Karyawan Panen Cuan, Bukti Nyata AI Bukan Cuma Jualan Mimpi!

Ketika banyak startup AI masih sibuk berjanji bulan dan bintang, Synthesia datang dengan laporan keuangan yang bikin majikan mana pun tersenyum lebar: valuasi melonjak hingga Rp64 triliun dan, yang lebih mengejutkan, mereka membiarkan karyawannya mencairkan saham! Ini bukan cuma soal teknologi canggih, tapi juga bagaimana majikan yang punya akal bisa memastikan semua pihak merasakan manisnya kue digital. AI memang alat, tapi di tangan yang tepat, ia bisa jadi mesin ATM pribadi yang patuh.

Startup asal Inggris, Synthesia, yang fokus pada platform AI untuk membuat video pelatihan interaktif, baru saja mengumumkan pendanaan Seri E senilai 200 juta dolar AS. Suntikan dana ini mendongkrak valuasi mereka hingga 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp64 triliun (kurs Rp16.000), naik signifikan dari 2,1 miliar dolar AS hanya setahun sebelumnya. Bayangkan, dalam setahun, nilai perusahaan naik hampir dua kali lipat! Ini membuktikan bahwa di tengah hiruk pikuk “transformasi” AI yang seringkali cuma bualan, ada perusahaan yang benar-benar menghasilkan cuan.

Synthesia telah membuktikan model bisnisnya sangat “menggigit” di segmen pelatihan korporat berkat avatar yang dihasilkan AI. Mereka telah menembus angka 100 juta dolar AS dalam pendapatan berulang tahunan (ARR) pada April 2025, dengan klien-klien kakap seperti Bosch, Merck, dan SAP. Jadi, bukan cuma sekadar prototype cantik di slide presentasi, tapi sudah diaplikasikan dan menghasilkan.

Para investor pun tak mau ketinggalan pesta. Putaran Seri E ini dipimpin oleh GV (Google Ventures), dengan partisipasi dari investor lama seperti Kleiner Perkins, Accel, New Enterprise Associates (NEA), NVentures (anak perusahaan modal ventura NVIDIA), Air Street Capital, dan PSP Growth. Bahkan, ada pemain baru seperti Evantic milik Matt Miller dan Hedosophia yang ikut merapat. NVIDIA sendiri gencar berinvestasi pada startup AI yang punya potensi pasar nyata, menunjukkan betapa panasnya persaingan di sektor ini.

Yang menarik dari cerita Synthesia adalah keputusan mereka untuk memfasilitasi penjualan saham sekunder bagi karyawan awal, bekerja sama dengan Nasdaq. Ini adalah langkah yang jarang terjadi di startup Inggris dan menunjukkan kepemimpinan yang berani. Alih-alih menunggu IPO yang tak pasti, karyawan bisa merasakan langsung hasil jerih payah mereka. CFO Synthesia, Daniel Kim, menegaskan bahwa ini adalah kesempatan bagi karyawan untuk menikmati likuiditas dan nilai yang telah mereka ciptakan. Ini patut diacungi jempol. AI boleh cerdas, tapi keputusan etis dan strategis untuk menghargai kesejahteraan manusia tetap ada di tangan majikan berakal.

Ke depan, Synthesia tak mau berpuas diri. Mereka berencana mengembangkan “AI agents” yang lebih interaktif, memungkinkan karyawan berinteraksi dengan pengetahuan perusahaan secara lebih intuitif dan manusiawi, seperti bertanya, simulasi peran, hingga mendapatkan penjelasan yang disesuaikan. Victor Riparbelli, CEO Synthesia, melihat ini sebagai konvergensi langka antara pergeseran teknologi dan pasar yang menempatkan peningkatan keterampilan dan berbagi pengetahuan internal sebagai prioritas utama. Ini adalah bukti bahwa AI bukan hanya tentang otomatisasi, tapi juga tentang memperkaya interaksi manusia dengan informasi.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Tentu saja, untuk bisa mengendalikan AI seperti Synthesia, Anda juga perlu menjadi majikan yang cerdas. Jangan sampai AI yang Anda miliki hanya jadi alat pasif. Kuasai pembuatan video dan visual AI agar pesan Anda tersampaikan dengan efektif. Dengan Belajar AI | Visual AI, Anda bisa menciptakan konten visual yang memukau tanpa perlu tim produksi mahal. Atau, jika Anda ingin memastikan kendali penuh atas semua aspek AI dalam bisnis, jadilah AI Master sejati, bukan babu teknologi. Untuk produksi konten profesional, Creative AI Pro akan membantu Anda menghemat anggaran talenta dan menghasilkan karya berkualitas tinggi secara mandiri.

Synthesia membuktikan bahwa AI bisa menjadi tambang emas yang nyata, asalkan ada manusia berakal yang tahu bagaimana menambangnya dan, yang lebih penting, membagikan hasilnya. Karena pada akhirnya, sehebat apa pun kode program dan serumit apa pun algoritma, nilai sejati hanya muncul ketika ada sentuhan manusia di belakangnya. Tanpa sentuhan majikan, robot hanyalah tumpukan sirkuit mati yang butuh colokan listrik.

Ngomong-ngomong, tadi pagi AI di rumah saya sempat kebingungan saat disuruh membedakan antara cucian kotor dan cucian yang baru dicuci. Mungkin dia butuh pelatihan video interaktif juga.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Synthesia via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *