Karier AISidang BotStrategi StartupUpdate Algoritma

Agen AI Perusahaan Cuma Jago Konsep? Dynatrace Bongkar Biang Keroknya: Bukan Salah Robot, Tapi Salah Majikan!

### Agen AI Perusahaan Cuma Jago Konsep? Dynatrace Bongkar Biang Keroknya: Bukan Salah Robot, Tapi Salah Majikan!

Proyek Kecerdasan Buatan (AI) di tempat kerja, khususnya yang menggunakan agen AI, ibarat asisten rumah tangga baru yang semangat di awal tapi kemudian bingung mau ngapain. Bukannya beres-beres, malah cuma duduk manis sambil nunggu perintah yang jelas. Sebuah laporan terbaru dari Dynatrace mengungkap fakta yang mungkin bikin para “Majikan AI” geleng-geleng kepala: separuh inisiatif AI agen di perusahaan masih terperangkap di fase uji coba atau *proof-of-concept*. Jadi, kapan ini robot mau kerja beneran, bukan cuma jualan janji?

Laporan “The Pulse of Agentic AI in 2026” ini secara gamblang menunjukkan bahwa perusahaan masih kesulitan melangkah dari tahap eksperimen ke implementasi penuh. Dampaknya? Tentu saja target *Return on Investment* (ROI) yang dinanti-nantikan cuma jadi angan-angan. Tapi jangan salah sangka, ini bukan karena nilai AI dipertanyakan. Justru sebaliknya, nilai AI dianggap tinggi. Masalahnya ada di mana? Di *kitanya*, para majikan yang masih gagap mengelola asisten cerdas ini.

Ada beberapa “biang kerok” utama yang bikin proyek AI ini macet:

  • Ketakutan Berlebihan: 52% responden khawatir soal keamanan, privasi, dan kepatuhan regulasi. Wajar, siapa juga yang mau data perusahaan bocor gara-gara robot kebanyakan gaya?
  • Manejemen yang Kaku: 51% kesulitan mengelola dan memantau agen AI dalam skala besar. Ibarat punya seribu asisten tapi masing-masing sibuk sendiri dan tidak ada yang ngatur.
  • Kekurangan SDM: 44% kekurangan staf terampil atau pelatihan yang memadai. Jadi, siapa yang mau ngajarin si robot biar nggak nyasar?
  • Visi Bisnis Remang-Remang: Sepertiga perusahaan mengakui tidak ada *business case* yang jelas. Ini seperti beli mesin cuci canggih tapi tidak tahu mau nyuci baju apa.

Ironisnya, mayoritas perusahaan (74%) justru berencana meningkatkan anggaran untuk AI agen tahun depan. Tapi apakah uang itu akan diinvestasikan di tempat yang tepat? Laporan ini menyoroti adanya ketidaksesuaian antara area deployment terbesar (operasi IT dan DevOps 72%, *software engineering* 56%, dukungan pelanggan 51%) dengan area yang diharapkan menghasilkan ROI terbesar (operasi IT dan pemantauan sistem 44%, keamanan siber 27%, dan pemrosesan data/pelaporan 25%).

AI itu memang pintar, tapi dia tidak bisa membaca pikiran, apalagi membuat strategi bisnis. Dia tidak bisa memutuskan masalah etika atau menyusun *business case* yang kokoh. Itu semua adalah pekerjaan Majikan. Tanpa arahan yang jelas dari manusia yang punya akal, AI hanyalah tumpukan kode mahal yang cuma bisa pamer di atas kertas. Untuk memastikan Anda tidak sekadar membuang-buang anggaran, pahami betul cara mengendalikan AI. Jika Anda ingin menjadi majikan yang menguasai AI, bukan malah dikuasai AI, ada baiknya Anda mulai mempelajari cara *prompting* yang efektif dan manajemen AI yang strategis.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Para pemimpin bisnis juga mengakui pentingnya peran manusia dalam dunia AI agen. Mereka memprediksi, di masa depan, tugas-tugas IT dan dukungan rutin akan terbagi 50:50 antara manusia dan mesin. Bahkan saat ini, sekitar 69% keputusan AI agen masih diawasi manusia, dan 87% agen AI yang dibangun membutuhkan supervisi manusia. Seperempat lainnya bahkan memilih untuk sepenuhnya bergantung pada agen yang diawasi manusia. Ini membuktikan bahwa naluri dan akal Majikan Manusia takkan tergantikan sepenuhnya.

Dynatrace merekomendasikan beberapa hal agar proyek AI tidak terus-menerus terjebak di zona “konsep”:

  1. Definisikan Ulang ROI: Jangan cuma fokus pada angka-angka klise, tapi tentukan metrik yang benar-benar relevan dengan tujuan bisnis.
  2. Pasang Pagar Pembatas: Tetapkan batasan dan panduan yang jelas untuk kolaborasi manusia-mesin. AI itu asisten, bukan *boss*.
  3. Skala Perlahan Tapi Pasti: Jangan terburu-buru menghamburkan uang, tapi fokus pada implementasi bertahap dengan tujuan yang terukur.

Jika Anda merasa proyek AI di perusahaan Anda lebih mirip pajangan mahal daripada mesin produktif, mungkin ini saatnya mengubah mentalitas. Bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga cara kita memahami dan memerintah AI. AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!

**Sebab AI Hanyalah Alat, Kaulah Majikan yang Punya Akal.** Tanpa Anda menekan tombol dan memberikan arahan yang cerdas, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tidak tahu apa-apa. Persis seperti remote TV yang tidak akan berfungsi tanpa sentuhan jari Anda.


**Sumber Berita:** Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechRadar”.

Gambar oleh: AI via TechRadar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *