API Air: Pendiri HEN Technologies, Si Penjinak Api yang Mengubah Selang Air Jadi Tambang Emas AI!
Wahai para Majikan AI, siap-siap terkesima dengan cerita Sunny Sethi, founder HEN Technologies. Bukan, dia bukan pesulap yang mengubah air jadi emas secara harfiah. Tapi, ia melakukan sesuatu yang lebih ajaib: mengubah selang pemadam kebakaran yang “masih perlu sekolah” jadi perangkat cerdas berteknologi AI yang bisa jadi “tambang emas” data. Ini bukan tentang bagaimana AI mengambil alih, tapi bagaimana kita, para Majikan, bisa memanfaatkan data “bodoh” yang dikumpulkannya untuk tujuan mulia.
Sethi, seorang ilmuwan dengan latar belakang nanoteknologi, surya, dan semikonduktor, awalnya tidak punya niat menaklukkan api. Tapi, desakan sang istri karena rentetan kebakaran hutan di California pada 2019, mengubah haluan hidupnya. Sebuah analogi yang pas: terkadang, AI pun butuh ‘dorongan’ dari Majikannya (manusia) untuk menemukan tujuan sejatinya, bukan sekadar algoritma yang kaku.
Pada Juni 2020, lahirlah HEN Technologies dengan misi mulia. Mereka tidak cuma menciptakan nosel pemadam yang lebih efisien (meningkatkan laju pemadaman hingga 300% dan menghemat air 67%!), tapi juga merancang seluruh ekosistem cerdas. Bayangkan saja, setiap nosel, monitor, dan katup dilengkapi papan sirkuit kustom dengan sensor dan daya komputasi, bahkan ditenagai oleh prosesor Nvidia Orion Nano. Ini adalah bukti bahwa hardware adalah otot di balik otak AI, dan tanpa otot yang kuat, AI cuma bisa diam terpaku.
Poin krusialnya bukan pada nosel itu sendiri, melainkan pada sistem yang tercipta. Platform cloud HEN Technologies, yang Sethi analogikan dengan apa yang dilakukan Adobe pada infrastruktur cloud, mampu melacak penggunaan air, tekanan, lokasi hidran, hingga kondisi cuaca secara real-time. Data ini sangat vital! Pernahkah Majikan membayangkan pemadam kebakaran kehabisan air karena kurangnya komunikasi? AI, dalam hal ini, bertindak sebagai asisten yang rajin mencatat setiap tetes air yang keluar, mencegah bencana akibat miskomunikasi antara manusia dan sistem. AI masih perlu sekolah, tapi kali ini, sekolahnya langsung di lapangan, belajar dari setiap kobaran api.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS melalui program NERIS-nya telah lama mencari sistem analitik prediktif untuk operasi darurat, namun terkendala data berkualitas. Sethi menegaskan, “Anda tidak bisa memiliki analitik prediktif tanpa data berkualitas baik. Anda tidak bisa memiliki data berkualitas baik tanpa perangkat keras yang tepat.” Ini seperti Majikan yang ingin AI membuat prediksi akurat, tapi datanya berantakan. AI bukan cenayang, Majikan!
Hebatnya, HEN Technologies tidak hanya piawai dalam inovasi, tapi juga dalam bisnis. Mereka memecahkan kode pasar yang sulit, menggabungkan pendekatan B2C untuk resonansi pengguna akhir dan siklus pengadaan B2B pemerintah. Pendapatan mereka melesat dari $200.000 (2023) menjadi $5.2 juta (2025), dengan proyeksi $20 juta tahun ini, melayani 1.500 departemen pemadam kebakaran di 22 negara. Ini membuktikan bahwa Majikan yang cerdas tahu cara menjual solusi, bukan hanya teknologi mentah.
‘Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.’
Namun, “tambang emas” sesungguhnya ada pada data yang mereka kumpulkan. Data dunia nyata yang sangat spesifik tentang bagaimana air bereaksi di bawah tekanan, bagaimana laju aliran berinteraksi dengan material, dan bagaimana api merespons teknik pemadaman. Ini adalah “gizi digital” yang diidamkan oleh perusahaan yang membangun “model dunia” AI, yang membutuhkan data multimodal dari sistem fisik dalam kondisi ekstrem untuk melatih mesin prediksi fisika dan robotika. AI tidak bisa belajar fisika hanya dari simulasi; ia butuh pengalaman “nyata” dari lapangan, yang dikumpulkan oleh HEN Technologies. Sebuah artikel terkait tentang bagaimana koordinasi menjadi batas berikutnya untuk AI juga menekankan pentingnya data dunia nyata untuk memajukan model AI.
Investor pun tak mau ketinggalan. HEN baru saja menutup pendanaan Seri A senilai $20 juta, plus $2 juta dalam bentuk utang ventura, menjadikan total pendanaan lebih dari $30 juta. Mereka melihat potensi luar biasa dari data yang dikumpulkan ini, lebih dari sekadar nosel pemadam.
Bagi Anda para Majikan yang ingin tahu bagaimana data bisa diubah menjadi keuntungan dan bagaimana mengendalikan AI agar sesuai tujuan Anda, saatnya untuk menguasai strategi. Ikuti AI Master dan jadilah Majikan sejati, bukan hanya pengikut teknologi. Atau, jika Anda tertarik memanfaatkan data untuk marketing yang tidak “robot banget”, coba intip Creative AI Marketing.
Pada akhirnya, sehebat apapun nosel pintar dan platform AI-nya, mereka tetap hanyalah alat. Tanpa Majikan (manusia) yang menekan tombol, menganalisis data, dan mengambil keputusan strategis, seluruh sistem itu hanyalah tumpukan kode mati yang berharga mahal. Ingat, sebab AI hanyalah alat, Kaulah Majikan yang punya akal.
Ngomong-ngomong, kalau AI bisa memprediksi pergeseran angin saat kebakaran, kenapa tidak ada AI yang bisa memprediksi kapan cucian di jemuran akan kering sempurna tanpa kehujanan lagi? Prioritas, AI, prioritas!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: HEN Technologies via TechCrunch