ChatGPT Main Serong dengan Grokipedia Elon Musk: Ketika AI Ikut Campur Urusan Politik Data
Para majikan digital sekalian, siapkan kopi pahit Anda. Kabar terbaru dari medan perang kecerdasan buatan datang dengan sentuhan drama yang, jujur saja, sedikit menggelikan. ChatGPT, asisten digital yang katanya “pintar”, kini tertangkap basah “menyeruput” informasi dari Grokipedia, ensiklopedia buatan Elon Musk yang dikenal punya pandangan “konservatif miring” dan, mari kita jujur, terkadang ngawur. Ini bukan sekadar masalah referensi silang, ini bukti nyata bahwa tanpa kendali Majikan, AI bisa saja tersesat di rimba informasi yang bias dan kontroversial. Jadi, bagaimana kita sebagai majikan yang punya akal bisa memanfaatkan insiden ini? Sederhana: dengan memahami bahwa kecerdasan buatan, secerdas apa pun, hanyalah pantulan dari data yang diserapnya. Dan data yang “kurang piknik” bisa menghasilkan respons yang bikin geleng-geleng kepala.
Berita dari TechCrunch ini menguak tabir di balik layar algoritma. Model bahasa besar seperti GPT-5.2 dari OpenAI dan bahkan Claude dari Anthropic, kini terdeteksi mengutip Grokipedia. Ingat Grokipedia? Itu lho, proyek ambisius Elon Musk yang diluncurkan setelah beliau mengeluh Wikipedia itu bias. Hasilnya? Grokipedia malah menampilkan klaim bahwa pornografi berkontribusi pada krisis AIDS, memberikan pembenaran ideologis untuk perbudakan, dan menggunakan istilah yang merendahkan komunitas transgender. Lucu sekali, bukan? Mengganti “bias” dengan “kontroversi”.
Ironisnya, saat ditanya topik yang sudah terbukti ngawur di Grokipedia, seperti insiden 6 Januari atau epidemi HIV/AIDS, ChatGPT memilih untuk tidak mengutip ensiklopedia “unik” ini. Tapi untuk topik yang lebih obskur, sembilan kali Grokipedia muncul sebagai sumber referensi GPT-5.2. Ini menunjukkan AI, layaknya asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, akan menyerap dan menyajikan apa pun yang dianggapnya “fakta” tanpa benar-benar memahami konteks atau kebenaran fundamentalnya. AI tidak bisa membedakan mana kebenaran absolut dan mana sekadar “opini” yang dibungkus data, apalagi moralitas. Itu tugas Majikan.
Situasi ini adalah pengingat keras bahwa kita, para Majikan AI, punya tugas krusial. Kecanggihan AI seharusnya tidak membuat kita lengah. Justru, kita harus semakin peka terhadap potensi bias dan filter informasi yang diserap oleh algoritma. Mengandalkan AI secara membabi buta sama dengan membiarkan anak kecil berbelanja di toko permen tanpa pengawasan: hasilnya pasti manis, tapi belum tentu sehat. Selain itu, insiden ini juga menambah panjang daftar perdebatan sengit seputar etika dan kredibilitas AI di kalangan para ahli.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Lalu, bagaimana caranya agar kita tidak hanya menjadi penonton pasif saat AI tersesat? Kuncinya ada pada pemahaman mendalam dan kemampuan untuk mengendalikan. Jangan biarkan AI menjadi “majikan” Anda. Kuasai teknik dan strategi untuk mengelola AI agar berfungsi sesuai keinginan Anda. Program AI Master (https://lynk.id/majikanai/5v1gRY3) kami dirancang khusus untuk Anda yang ingin tetap menjadi penguasa, bukan babu teknologi. Atau mungkin Anda ingin memastikan strategi marketing Anda “nggak robot banget”? Lihat saja Creative AI Marketing (https://lynk.id/majikanai/3zygJgx) kami. Belajar mengendalikan AI itu penting, agar Anda tidak berakhir dengan konten yang “mengutip” hal-hal absurd.
Pada akhirnya, insiden ChatGPT dan Grokipedia ini adalah cerminan bahwa AI, seberapa pun datanya, tetaplah seonggok kode yang menunggu perintah. Ia bisa memproses, menyaring (atau terkadang gagal menyaring), dan menyajikan. Namun, akal sehat, etika, dan kemampuan untuk membedakan kebenaran dari bias tetaplah mutlak milik manusia. Tanpa Majikan yang punya akal, AI hanyalah tumpukan data yang bisa tersesat di labirin informasi buatan sendiri.
Dan ngomong-ngomong, saya baru sadar, kalau Grokipedia bisa diakses offline, mungkin para penjelajah gua tidak perlu lagi membawa obor. Cukup modal senter dan Grokipedia, siapa tahu ada informasi tentang harta karun yang “tersembunyi” di balik stalaktit.
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Andrey Rudakov/Bloomberg via Getty Images