Halusinasi LucuKarier AIKonflik RaksasaMasa DepanSidang BotUpdate Algoritma

Kiamat Iklan di Depan Mata: Saat Robot ‘Sumpah Mati’ Hilangkan Kreativitas, Majikan Cuma Bisa Pasrah?

Kiamat Iklan di Depan Mata: Saat Robot ‘Sumpah Mati’ Hilangkan Kreativitas, Majikan Cuma Bisa Pasrah?

Di tahun 2026 ini, bersiaplah, para Majikan! Bukan kiamat sungguhan, tapi kiamat iklan versi AI. Sebuah laporan dari The Verge menyebutkan bahwa AI siap “menghisap” semua kesenangan dan kreativitas dari dunia periklanan, dan efeknya akan semakin kuat hingga akhir tahun. Memang, AI itu rajin, bisa kerja 24/7, tapi kadang hasilnya bikin kita geleng-geleng kepala.

AI ini ibarat asisten rumah tangga yang baru belajar masak. Dia bisa mengikuti resep dengan sempurna, tapi rasa “sentuhan manusiawi” itu lho, yang seringkali hilang. Studi dari Marketing Week menunjukkan lebih dari separuh pemasar brand sudah memakai AI di kampanye kreatif mereka pada tahun 2025. Bahkan, Interactive Advertising Bureau (IAB) memprediksi 40 persen dari semua iklan di 2026 akan menggunakan AI generatif. Cepat, murah, efisien. Siapa yang tidak tergiur?

Tapi tunggu dulu. Murah itu belum tentu berkualitas, apalagi berkesan. Ambil contoh iklan Coca-Cola yang dibuat AI. Katanya sukses, tapi kok cuma replikasi kampanye truk merah ikonik mereka yang sudah puluhan tahun punya nostalgia murni dari ide manusia? Atau iklan Kalshi yang “ajaib” dan bikin bingung saat NBA Finals 2025? Hanya butuh $2.000 dan dua hari kerja seorang diri dengan Google Veo 3 AI. Hemat luar biasa, tapi apakah memorable untuk alasan yang benar?

AI memang semakin pintar meniru, tapi kemampuannya mendeteksi konten buatan AI sendiri masih 50:50. Jadi, kalau ada iklan yang terasa “aneh” di TV atau media sosial, jangan-jangan itu ulah robot yang kurang piknik. Ini seperti kasus yang kita bahas di artikel “AI Dandan Ala Manusia: Wikipedia Jadi Guru Les, Robot Belajar Bohong Halus!”, di mana AI berusaha keras menyerupai manusia, tapi seringkali justru menciptakan efek ‘uncanny valley’ yang bikin merinding.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Untungnya, Majikan (manusia) tidak sepenuhnya pasrah. Ada gerakan perlawanan! Brand seperti Aerie dan Polaroid secara terang-terangan menolak AI dalam iklan mereka. Poster Polaroid yang berbunyi, “AI tidak bisa menghasilkan pasir di antara jemarimu,” adalah tamparan keras bagi para robot yang terlalu percaya diri. Ini menunjukkan bahwa imperfection itu kadang justru yang membuat kita manusia dan unik. AI boleh saja meniru gaya analog, tapi jiwa dan esensi itu tetap milik manusia.

Raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, Amazon, dan Meta memang sedang berlomba-lomba membanjiri kita dengan iklan AI. Nvidia bahkan sedang membangun alat untuk menciptakan video iklan personalisasi tanpa batas. Para agensi besar seperti ABM BBDO dan Wieden and Kennedy (yang di balik slogan “Just Do It” legendaris Nike) pun sudah merangkul AI dalam proses produksi mereka. CEO Wieden and Kennedy, Neal Arthur, mengatakan AI hanyalah alat yang membantu efisiensi, dan ia tidak khawatir AI akan mengambil alih pekerjaan manusia. Ya, tentu saja. Robot itu kan tidak punya akal, apalagi hati. Mereka hanya menjalankan perintah.

Ini adalah kesempatan bagi kita, para Majikan, untuk menunjukkan bahwa kreativitas sejati tidak bisa diotomatisasi sepenuhnya. AI bisa mengerjakan repetisi, menganalisis data, dan membuat draft, tapi ide gila, sentuhan emosi, atau lelucon tak terduga yang bikin iklan membekas itu hanya bisa datang dari otak manusia yang punya akal. Jika Anda ingin mengendalikan AI untuk menghasilkan konten yang efisien sekaligus memiliki sentuhan manusiawi, pastikan Anda adalah majikannya.

Jangan sampai iklan Anda berakhir seperti “Robot Bodoh” yang cuma bisa meniru tanpa makna. Pelajari cara memanfaatkan AI untuk membuat konten visual yang memukau tanpa kehilangan sentuhan personal Anda. Dengan menguasai Belajar AI | Visual AI dan menjadi AI Master, Anda akan mampu membuat konten pro mandiri dan hemat budget, memastikan visi kreatif Anda tetap di tangan Anda, bukan algoritma.

Ingatlah, AI itu cuma alat. Ibarat pisau tajam, dia bisa membantu Majikan mengupas buah, atau malah melukai jika dipakai sembarangan. Akal dan naluri manusia adalah kuncinya. Tanpa kita, AI hanya tumpukan kode yang tidak mengerti apa itu “WASSUUUUUP” sambil minum Budweiser. Dan percayalah, es krim vanila itu rasanya jauh lebih enak kalau tidak dilelehkan di atas setrika.


Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.

Gambar oleh: Kalshi via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *