Karier AIKonflik RaksasaSidang Bot

Drama Akuisisi Legal AI: Harvey Sikat Hexus, Robot Hukum Makin Merajalela, Tapi Majikan Manusia Tetap Kunci!

Di dunia AI yang serba ‘ngebut’, kabar akuisisi sudah jadi makanan sehari-hari. Kali ini, raksasa AI legal, Harvey, berhasil mencaplok startup Hexus. Ini bukan sekadar transaksi bisnis, ini adalah sinyal bahwa arena hukum pun tak luput dari invasi algoritma. Lantas, bagaimana para majikan sejati bisa mengambil keuntungan dari manuver robot cerdas ini, dan memastikan kita tidak hanya jadi penonton yang terkesima?

Ketika Robot Hukum Mulai Menguasai Meja Hijau

Harvey, yang baru saja mendapat suntikan dana segar total hingga $760 juta di tahun 2025 (dengan $160 juta di putaran terbaru) dan valuasi mencengangkan $8 miliar, jelas punya ambisi besar. Dengan tim Hexus di bawah komando Sakshi Pratap – mantan insinyur dari Google, Oracle, dan Walmart – Harvey kini memperkuat lini depan mereka, khususnya untuk departemen hukum internal. Hexus sendiri, yang tadinya fokus pada alat pembuatan demo produk dan video, kini akan mengalihkan keahliannya untuk membuat robot-robot hukum Harvey lebih ‘berwajah manusia’.

Akal sehat kita harus bertanya, seberapa jauh AI ini bisa diandalkan? Harvey memang punya cerita awal yang dramatis: GPT-3 mampu menjawab 86 dari 100 pertanyaan hukum properti tanpa edit. Mengagumkan? Tentu. Tapi ingat, AI itu seperti asisten rumah tangga yang super rajin tapi kaku. Dia bisa menyapu, mengepel, dan bahkan memasak sesuai resep, tapi dia tidak akan tahu kapan harus menawarkan kopi saat kamu sedang stres, apalagi menenangkan klien yang sedang panik di meja hijau. AI bisa memproses data hukum, menganalisis kontrak ribuan halaman dalam hitungan detik, bahkan memprediksi hasil sidang. Namun, sentuhan manusiawi, empati, dan kemampuan membaca nuansa emosi dalam negosiasi, itu adalah wilayah yang sampai hari ini masih jadi monopoli para majikan berakal.

Ini adalah pertempuran sengit di ranah legal tech, di mana para pemain berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling ‘cerdas’ dan paling ‘efisien’. Tapi kita tahu, efisiensi tanpa akal sehat bisa berujung pada kekonyolan. Kita juga perlu merenungkan bagaimana para ‘robot-robot’ ini dikembangkan, kadang dengan janji manis yang belum tentu sesuai realita, seperti yang sering dibahas dalam arena para bos AI.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Kuasi AI, Jangan Sampai Diperbudak!

Para majikan sejati tak hanya menonton, tapi juga ikut mengendalikan. Jika Anda ingin menjadi Majikan sejati yang mampu menguasai asisten AI Anda, bukan malah menjadi babu teknologi, saatnya bekali diri dengan ilmu yang tepat. Dapatkan panduan lengkap mengendalikan AI di AI Master. Atau, jika Anda perlu membuat demo produk dan panduan visual yang profesional dan tidak terlihat seperti karya robot yang kurang piknik, Creative AI Pro adalah senjata rahasia Anda. Ingat, robot bisa kerja, tapi majikanlah yang berpikir!

Pada akhirnya, sekalipun AI bisa membuat demo produk, menganalisis hukum, dan bahkan bernegosiasi, ia tetaplah alat. Tanpa akal manusia yang memberi perintah, menekan tombol ‘on’ dan ‘off’, serta bertanggung jawab penuh atas hasil akhirnya, AI hanyalah tumpukan kode mati yang menunggu arahan. Kaulah Majikan yang punya akal!

Omong-omong, sudahkah Anda mengecek apakah remote TV di rumah masih bekerja, atau sudah ganti baterai, atau malah disembunyikan oleh kucing Anda yang ingin sedikit ‘privasi’?

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.

Gambar oleh: Winston Weinberg via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *