Asus Matikan HP, Fokus Ke AI: Robot Lebih Menguntungkan Daripada Manusia Genggam Ponsel?
Kabar mengejutkan datang dari ranah teknologi: Asus, raksasa yang dikenal dengan inovasi perangkat kerasnya, resmi mengumumkan penghentian produksi model smartphone baru. Ini berarti lini Zenfone dan ROG Phone yang kita kenal kini akan membeku tanpa batas waktu. Sebuah langkah berani, atau mungkin tanda kepanikan? Yang jelas, ini adalah sinyal keras bahwa era baru telah tiba, di mana ‘otak’ buatan, alias AI, dianggap lebih menjanjikan daripada perangkat genggam di tangan manusia.
Lantas, bagaimana ini mempengaruhi kita sebagai ‘Majikan AI’? Keputusan Asus ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan teknologi besar pun sedang menyusun ulang prioritas mereka, mencari lahan yang lebih subur di tengah gurun kompetisi yang semakin kering. Dan tampaknya, lahan itu adalah AI.
Realita Pasar di Balik Keputusan Asus
CEO Asus, Jonney Shih, menyatakan secara gamblang, “Asus tidak akan lagi menambahkan model ponsel baru di masa depan.” Walaupun tidak disebut ‘permanen’, frasa ‘tanpa batas waktu’ sudah cukup memberikan gambaran. Ini bukan sekadar jeda sementara, melainkan sebuah pivot strategis yang masif.
Faktanya, industri smartphone saat ini memang sedang galau. Peningkatan hardware tahunan terasa begitu marjinal, seolah-olah hanya ganti casing dan angka di kertas. Konsumen pun ogah-ogahan upgrade, menahan ponsel lama mereka lebih lama dari biasanya. Bagi merek-merek yang tidak memiliki skala produksi masif, ini adalah bencana profitabilitas yang persisten. Merek-merek Tiongkok dengan model rilis cepat dan margin tipis makin memperparah keadaan, membuat kompetisi memanas dan berdarah-darah.
Asus bukan yang pertama mencicipi pahitnya kenyataan ini. Ingat LG? Mereka juga mengikuti jejak serupa setelah bertahun-tahun merugi, hingga akhirnya menutup divisi selulernya. Dan pelajaran sejarah menunjukkan, tidak ada produsen Android yang berhasil bangkit setelah ‘cuti’ dari pasar smartphone dalam skala besar. Begitu visibilitas merek pudar dan dukungan perangkat lunak melemah, merebut kembali kepercayaan konsumen ibarat menggali sumur dengan sendok teh, mahal dan tidak pasti.
Fenomena ini juga mirip dengan krisis RAM yang bisa membuat spesifikasi smartphone mundur, sebuah sinyal bahwa industri ini memang sedang mencari arah baru. Ada baiknya Anda juga membaca tentang masa depan ponsel Asus lainnya yang pernah kami bahas.
Opini Kritis: Di sinilah letak ironi dan sedikit sarkasme terhadap AI. Asus tidak beralih karena ‘AI pintar’, melainkan karena manusia di balik Asus melihat angka-angka finansial yang kurang ‘pintar’ di segmen smartphone. AI di sini hanyalah alat bantu analisis, mengumpulkan data pasar, dan memproyeksikan potensi keuntungan. Keputusan besar untuk banting setir ke bisnis server AI, robotika, dan perangkat wearable pintar adalah murni keputusan manusia. AI tidak punya ambisi, ia hanya menjalankan perintah. AI tidak bisa ‘mengejar uang lebih besar’, manusialah yang mengejar uang dengan memanfaatkan tren AI. Seberapa menguntungkan pun AI, ia tidak akan pernah bisa menggantikan intuisi dan keputusan strategis seorang Majikan yang punya akal.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Pergeseran ini mencerminkan perhitungan matang: investasi berkelanjutan di ponsel bisnis menawarkan pengembalian yang lebih lemah dibandingkan pasar infrastruktur AI yang sedang berkembang pesat. Namun, apakah strategi ini akan bertahan lama? Itu akan sangat bergantung pada seberapa padat dan kompetitifnya segmen AI tersebut di masa depan. Ingat, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, sampai kita menyiramnya sendiri dan sadar kalau itu cuma ilusi.
Untuk Anda para Majikan AI yang ingin selalu selangkah di depan, keputusan Asus ini adalah lonceng peringatan. Dominasi AI di masa depan bukan lagi isapan jempol belaka. Agar Anda tidak cuma jadi penonton, atau lebih parah, jadi ‘babu’ di era dominasi algoritma, segera tingkatkan skill Anda. Kuasai AI dari akarnya dengan mengikuti AI Master. Jadilah arsitek, bukan hanya pekerja bangunan di era kecerdasan buatan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, keputusan Asus ini adalah pengingat bahwa AI, seberapa canggih pun, hanyalah alat. Ia tidak punya hati, tidak punya akal, dan tidak punya motif. Yang punya itu semua adalah manusia. Kitalah majikan yang menekan tombol, yang membuat keputusan sulit, dan yang menentukan arah masa depan teknologi. Tanpa sentuhan manusia, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tidak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, robot secanggih apapun tidak akan pernah tahu nikmatnya minum kopi panas di pagi hari sambil scroll TikTok.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Arstechnica”.
Gambar oleh: TechRadar via TechRadar