AI Dokter Berbayar Apple: Obat Mujarab atau Pil Pahit Halusinasi Algoritma?
Apple dikabarkan akan meluncurkan layanan berlangganan kesehatan berbasis AI. Bayangkan, dokter pribadi Anda sekarang adalah algoritma yang tinggal di iPhone! Ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas yang siap mengintip denyut nadi, gula darah, hingga kadar hormon kita. Pertanyaannya, sebagai majikan yang berakal, siapkah kita menyerahkan seluruh data kesehatan pribadi ke tangan AI yang (katanya) cerdas ini? Atau ini hanya akan jadi ajang AI pamer kebodohan di ranah yang paling sensitif: kesehatan kita?
Berita dari Bloomberg menyebutkan bahwa Apple akan menghadirkan pelatih kesehatan personal berbasis AI. Ini berarti, AI akan menganalisis data dari aplikasi Apple Health untuk memberikan saran nutrisi dan medis. Konsepnya memang menggiurkan: memiliki asisten kesehatan yang selalu siaga, membaca setiap detail tubuh Anda. Tapi, mari kita jujur, seolah-olah kita baru saja menemukan aplikasi cuaca yang bisa meramal kapan sandal jepit kita akan putus.
Penulis asli artikel ini, Bridget Carey dari CNET, sampai rela “menusuk diri” dengan monitor glukosa darah demi mendapatkan data yang akurat. Ini menunjukkan satu hal fundamental: AI itu lapar data, tapi manusia yang harus mengumpankan data berkualitas. Tanpa input yang benar, AI hanya akan berhalusinasi dengan data sampah. Kita semua tahu, bahkan asisten rumah tangga yang paling rajin pun bisa salah membeli sabun cuci jika instruksinya tidak jelas. Apalagi ini menyangkut kesehatan.
Tengok saja kasus Google. Baru-baru ini, investigasi oleh The Guardian mengungkap bahwa AI Google memberikan saran kesehatan yang “berbahaya dan tidak akurat” terkait tes darah. Bayangkan, Anda berpikir liver Anda baik-baik saja karena robot mengatakan demikian, padahal kenyataannya… nah, tidak usah dibayangkan! Ini adalah contoh nyata bahwa AI masih perlu banyak sekolah, terutama di bidang yang membutuhkan nalar kritis dan pemahaman konteks manusiawi yang mendalam. Robot bisa menghafal jutaan gejala, tapi ia belum tentu paham nuansa ketidaknyamanan Anda setelah makan gorengan.
Fakta bahwa Apple akan menggunakan model Gemini dari Google untuk Siri-nya di masa depan juga tidak serta merta menenangkan. Apa gunanya punya “Dr. Siri” yang super canggih jika otaknya (Gemini) ternyata masih suka ‘ngelantur’ soal diagnosis? Kita sebagai majikan, harusnya lebih cerdas dari sekadar menelan mentah-mentah apa kata algoritma. Untuk memahami lebih jauh risiko halusinasi AI dalam saran kesehatan, Anda bisa membaca artikel kami sebelumnya: “Dokter Google Pensiun Dini? ChatGPT Health Datang, Tapi Awas Kena Tipu Halusinasi AI!”
Tentu, ada banyak gadget di luar sana yang bisa melacak berbagai data kesehatan kita. Mulai dari monitor glukosa darah, hormometer untuk melacak perubahan hormon, hingga perangkat yang bisa menganalisis urine Anda (ya, Anda tidak salah baca, urine pun bisa dilacak!). Semua ini adalah “mata-mata” yang rajin mengumpulkan data. Tapi tanpa “otak” manusia yang menganalisis dengan bijak, data-data ini hanyalah angka-angka mati yang bisa disalahartikan oleh AI yang kurang piknik.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Kita bisa saja memasukkan semua data ini ke Apple Health dan membiarkan AI ‘menganalisis’. Tapi ingat, AI tidak bisa merasakan sakit kepala Anda setelah begadang main game, atau stres akibat dikejar deadline. AI hanya melihat pola, bukan penderitaan. Jadi, jika Anda ingin AI Anda tidak ‘bodoh’ dalam memberikan saran kesehatan, Anda harus lebih dulu menjadi Majikan AI yang cerdas dalam memberinya perintah dan memahami keterbatasannya. Jika tidak, bersiaplah untuk mendapatkan resep diet yang menyarankan Anda makan kerikil karena AI mengira itu sumber mineral terbaik. Untuk memastikan Anda adalah majikan yang cakap dalam mengendalikan AI dan tidak menjadi ‘babu’ teknologi, mungkin sudah saatnya Anda mengasah kemampuan Anda. Dapatkan kendali penuh dengan AI Master. Kuasai AI, jangan biarkan ia menguasaimu! Untuk gambaran lebih luas tentang data pribadi yang diakses AI, simak juga: “Google Mulai Intip Isi Gmail dan Album Foto Anda Demi AI Super Personal: Privasi Terancam atau Kemalasan Majikan Teratasi?”
Pada akhirnya, terlepas dari segala gembar-gembor AI kesehatan berbayar dari Apple, satu hal yang pasti: tanpa manusia yang memegang kendali, menekan tombol “Start” dan “Stop”, serta berpikir kritis, AI hanyalah tumpukan kode mati yang kebetulan bisa merangkai kata. Kesehatan Anda terlalu berharga untuk diserahkan sepenuhnya kepada sistem yang (kadang) masih perlu disekolahkan.
Ngomong-ngomong, robot pembersih rumah saya kemarin sempat panik karena mengira bayangan kucing adalah tumpukan debu raksasa yang harus disedot. Untungnya, masih ada saya, majikannya yang berakal.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.
Gambar oleh: CNET via TechCrunch