ChatGPT Jadi ‘Dokter Online’ Baru: Akankah Lebih Sakti dari Mbah Google, atau Malah Bikin Diagnosa Halusinasi Massal?
Dulu, kalau kepala pusing sedikit, jari langsung bergerak lincah mengetik gejala di kolom pencarian. Hasilnya? Kadang mirip diagnosa dokter, lebih sering mirip ramalan kiamat. Ya, itulah fenomena “Dokter Google” yang sudah menemani kita dua dekade terakhir. Tapi kini, ada pemain baru di ranah medis digital: ChatGPT Health.
OpenAI mengklaim 230 juta orang bertanya soal kesehatan ke ChatGPT setiap minggunya. Angka yang fantastis, bukan? Ini menunjukkan betapa besarnya harapan manusia pada AI sebagai asisten kesehatan pribadi. Namun, sebagai majikan yang punya akal, kita wajib bertanya: apakah AI ini akan menjadi dokter sungguhan atau sekadar asisten magang yang masih perlu banyak piknik?
Meluncurnya produk ChatGPT Health ini seakan menegaskan bahwa kita telah bergeser dari era “Dr. Google” ke “Dr. ChatGPT”. Ini kabar baik untuk akses informasi, tapi juga alarm bahaya untuk akurasi. Ingat, AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku. Ia bisa mengolah jutaan data medis dalam hitungan detik, tapi tidak punya empati, intuisi, apalagi kemampuan untuk memahami nuansa gejala yang seringkali sangat manusiawi. Diagnosis tetap butuh sentuhan seorang dokter yang benar-benar berijazah, bukan sekadar algoritma yang dilatih dari internet. Kalau AI mulai halusinasi di dapur, paling parah masakan gosong. Kalau halusinasi di ruang operasi? Jangan sampai. Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Di sisi lain Samudera Atlantik, Amerika Serikat sedang panas-panasnya berdebat soal regulasi AI. Pada akhir 2025, Presiden Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif yang intinya ingin “memborgol” negara bagian agar tidak seenaknya membuat undang-undang AI sendiri. Raksasa teknologi tentu bersorak, karena mereka tak mau inovasi mereka terhambat oleh “tambalan” regulasi yang berbeda-beda di setiap negara bagian. Ironisnya, mereka berargumen bahwa regulasi yang berlebihan justru akan “menghambat inovasi”. Padahal, kita tahu, tanpa batasan yang jelas, AI bisa jadi kuda liar tanpa kendali. Pertempuran sengit ini kini pindah ke meja hijau, dan kita para majikan harus mengawasi dengan seksama. Sebab, akal manusia harus tetap jadi komandan tertinggi, bukan ego robotik para raksasa teknologi. Jika tidak, bukan tidak mungkin kita akan melihat skenario di mana AI malah menjadi alat propaganda yang berbahaya. Seperti yang pernah kami ulas dalam artikel Perang Dingin Regulasi AI di Amerika: Antara Akal Manusia dan Ego Robot (Siapa yang Menang?).
Bicara soal kesehatan, ada inovasi menarik yang justru tak banyak melibatkan AI secara langsung: pelacakan campak melalui air limbah. Di tengah lonjakan kasus campak di AS, metode ini muncul sebagai cara cerdas untuk mendeteksi dini wabah. Ini membuktikan bahwa solusi teknologi tidak selalu harus “AI-sentris” untuk menjadi efektif. Terkadang, sentuhan inovasi yang lebih membumi, berbasis data nyata dan metode tradisional yang diperbarui, justru lebih bisa diandalkan daripada janji-janji manis algoritma.
Sebagai majikan yang cerdas, kita harus selalu ingat: AI adalah alat yang ampuh, tapi seperti pisau bermata dua. Di tangan yang tepat, ia bisa menyelamatkan jutaan nyawa. Di tangan yang salah, bisa jadi bencana. Maka, bekali dirimu dengan pemahaman yang dalam tentang cara kerja AI, bagaimana memberi perintah yang efektif, dan yang terpenting, bagaimana menjaga akal sehatmu tetap di atas segalanya. Jangan biarkan AI menjadi majikanmu. Untuk menguasai AI dan tidak menjadi “babu” teknologi, Anda bisa memulai dengan AI Master.
Pada akhirnya, mau secanggih apapun chatbot kesehatan, seseru apapun perang regulasi di parlemen, dan seefektif apapun deteksi wabah lewat air limbah, semua kembali pada satu hal: tombol “on” dan “off” ada di tangan manusia. Tanpa akal sehat dan kendali kita, AI hanyalah tumpukan kode mati yang tak punya arti. Jadi, tetaplah jadi majikan yang punya akal, bukan sekadar penonton yang takjub.
Ngomong-ngomong, tadi pagi saya hampir tertipu oleh tetangga yang bilang jemuran saya sudah kering padahal mendung. AI memang canggih, tapi ramalan cuaca tradisional kadang lebih akurat dari aplikasi!
Sumber Berita:
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “MIT Technology Review”
Gambar oleh: MIT Technology Review