AI Hemat Waktu? Bos Bilang ‘Iya’, Karyawan Bilang ‘Mimpi!’
Pernahkah Anda mendengar bos di kantor bersabda tentang keajaiban AI yang akan menghemat waktu kerja berjam-jam, sementara Anda sendiri hanya bisa garuk-garuk kepala karena AI malah menambah daftar pekerjaan? Selamat, Anda tidak sendirian! Sebuah laporan terbaru mengungkap jurang perbedaan pandangan yang menganga antara para eksekutif dan karyawan garis depan perihal produktivitas si robot pintar ini. Ini bukan sekadar beda pendapat, ini adalah alarm bagi setiap Majikan yang punya akal.
Studi dari firma konsultan AI, Section, mensurvei 5.000 karyawan kerah putih. Hasilnya? Sungguh di luar nalar para pemuja AI. Sebanyak 33 persen eksekutif mengklaim AI menghemat 4-8 jam kerja per minggu, bahkan 19 persen lainnya berteriak bisa hemat lebih dari 12 jam. Hebatnya, hanya 2 persen eksekutif yang merasa AI tidak membantu sama sekali. Sepertinya mereka terlalu sibuk rapat untuk benar-benar melihat kenyataan di lapangan.
Namun, ketika kamera diarahkan ke karyawan non-manajerial, narasinya langsung jungkir balik. 40 persen karyawan dengan tegas mengatakan AI tidak menghemat waktu mereka sama sekali! Sisanya, 27 persen, hanya merasakan penghematan kurang dari 2 jam per minggu. Ironisnya, hanya 2 persen karyawan yang merasakan penghematan waktu signifikan, lebih dari 12 jam, setara dengan klaim para bos yang mungkin cuma baca laporan PowerPoint.
Laporan lain yang tak kalah “menampar” datang dari perusahaan perangkat lunak Workday, yang menunjukkan bahwa estimasi penghematan waktu itu pun masih terlalu dibesar-besarkan. Pasalnya, 85 persen karyawan yang mengaku hemat waktu justru menghabiskan waktu luang tersebut untuk mengoreksi kesalahan yang dibuat oleh AI! Ibarat punya asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku, setiap pekerjaan harus dicek ulang agar tidak berakhir dengan kekacauan. Ini membuktikan bahwa AI, secerdas apa pun, masih perlu banyak “sekolah” dan belum bisa diandalkan tanpa pengawasan Majikan. Hal ini seringkali terjadi dan dapat digolongkan sebagai Gagal Sistem, di mana teknologi tercanggih sekalipun mengalami malfungsi di saat-saat yang tidak tepat. Mengingat AI masih sering salah kaprah, para Majikan wajib tahu cara menyetelnya. Untuk itu, Anda bisa belajar lebih jauh di AI di Perusahaan Anda Cuma Jadi Pajangan Mahal? Saatnya Ubah Mentalitas, Bukan Cuma Infrastruktur!.
Memang, AI bisa menjadi alat produktivitas di industri tertentu, seperti sektor teknologi di mana pengembang perangkat lunak bisa menggunakannya untuk tugas coding monoton. Tapi, ini pun tak lepas dari risiko “vibe coding mistakes”. Di sisi lain, industri seperti ritel justru tidak merasakan manfaat serupa. Secara keseluruhan, 85 persen responden melaporkan tidak ada kasus penggunaan AI di tempat kerja atau masih pada tingkat pemula. Jangan harap AI bisa langsung jadi solusi instan untuk semua lini bisnis. Robot itu pintar, tapi dia tidak punya Logika Penguasa.
Studi Section juga menemukan fakta mencengangkan: 40 persen karyawan tak akan keberatan jika tidak pernah menggunakan AI lagi. Sentimen ini selaras dengan peringatan keras dari CEO Microsoft, Satya Nadella, di Davos, yang mendesak industri untuk memastikan manfaat teknologi ini benar-benar dirasakan pengguna rata-rata. “Kita akan segera kehilangan izin sosial untuk menggunakan sesuatu seperti energi, yang merupakan sumber daya langka,” kata Nadella, “jika sistem AI tidak meningkatkan hasil kesehatan, pendidikan, efisiensi sektor publik, daya saing sektor swasta di semua sektor, kecil dan besar.” Ini adalah masalah Etika Mesin yang krusial.
Laporan ini adalah pukulan telak bagi perusahaan yang menggadang-gadang AI sebagai panasea. Izin sosial yang disebutkan Nadella itu tampaknya mulai memudar, atau mungkin tidak pernah benar-benar ada. Ini berarti, peran Majikan manusia dalam mengelola dan mengawasi AI akan semakin krusial. Bukan hanya sekadar tahu cara pakai, tapi juga cara mengoreksi dan memastikan robot tidak semakin kurang piknik. Jika tidak, jangan heran jika Agen AI Mau Gantikan Pekerja Kantoran? Hasil Benchmark Baru dari Mercor: Mayoritas GAGAL Total!.
'Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.'
Kendalikan AI, Jangan Sampai Anda yang Dikendalikan!
Untuk kamu para Majikan yang ingin benar-benar menguasai AI dan bukan malah jadi babu teknologi, jangan biarkan AI cuma jadi pajangan mahal atau sumber frustrasi di kantor. Pahami cara kerjanya, kenali batasannya, dan jadilah penentu arah, bukan sekadar operator. Coba intip AI Master agar Anda tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.
Intinya, AI hanyalah alat. Cerdas atau tidaknya, produktif atau tidaknya, semua tergantung pada Majikan yang punya akal untuk mengendalikannya. Tanpa kendali dan pengawasan manusia, AI hanyalah tumpukan kode mati yang bisa dengan mudah membuat kekacauan. Kalau tidak diawasi, paling-paling AI cuma bisa bikin kopi, itupun sering tumpah!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Mashable”.
Gambar oleh: Philip Dulian/picture alliance via Getty Images