OpenAI Keok di Pasar Enterprise? Majikan AI Ungkap Drama Perebutan Cuan Mesin
OpenAI, yang selama ini kita kira sebagai jagoan tunggal di arena kecerdasan buatan, ternyata sedang ketar-ketir di pasar enterprise. Kompetitor seperti Anthropic dan Google Gemini mulai menggerogoti, membuat pangsa pasar mereka anjlok. Ini bukan sekadar berita biasa, ini adalah sinyal emas bagi kita para Majikan AI untuk memahami dinamika pasar dan memanfaatkan persaingan ini demi keuntungan bisnis kita.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa OpenAI telah menunjuk Barret Zoph untuk memimpin divisi penjualan ke perusahaan. Menariknya, Zoph baru saja kembali ke OpenAI setelah sempat hijrah ke Thinking Machine Labs, startup yang didirikan oleh mantan co-founder OpenAI sendiri, Mira Murati. Pergantian pemimpin seperti ini seringkali menjadi indikasi bahwa ada strategi yang perlu dirombak total.
Meskipun OpenAI menjadi yang terdepan dengan meluncurkan ChatGPT Enterprise pada tahun 2023, lebih dari setahun sebelum Anthropic dan beberapa tahun sebelum Google, dominasi mereka ternyata tidak abadi. Data mencatat bahwa pangsa pasar OpenAI di segmen enterprise merosot tajam dari 50% pada tahun 2023 menjadi hanya 27% di akhir tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi canggih saja tidak cukup tanpa eksekusi strategi bisnis yang cerdas. AI itu seperti asisten rumah tangga yang rajin, dia akan melakukan apa yang diperintahkan, tapi kalau perintahnya tidak tepat atau tidak ada pengawasan, hasilnya bisa “kurang piknik”.
Sementara itu, para pesaing justru menunjukkan taringnya. Anthropic, misalnya, berhasil meroket dengan menguasai 40% pangsa pasar, naik dari 32% di bulan Juli. Google Gemini pun tidak tinggal diam, mempertahankan posisinya dengan stabil di 21% adopsi enterprise. Bahkan, CEO OpenAI, Sam Altman, dilaporkan menyatakan kekhawatiran akan pertumbuhan pesat Gemini. Ini penting, apalagi jika mengingat diskusi kita sebelumnya tentang mengapa bisnis Anda butuh AI Chatbot, bukan sekadar robot ngawur.
Kini, fokus OpenAI di tahun 2026 adalah pada pertumbuhan enterprise, sebagaimana ditegaskan oleh CFO Sarah Friar dalam sebuah unggahan blog. Kemitraan yang diperluas dengan ServiceNow menjadi salah satu langkah awal mereka untuk merebut kembali dominasi. Namun, ingatlah bahwa AI tidak memiliki kapasitas untuk membuat strategi bisnis secara intuitif, membaca tren pasar dengan naluri tajam, atau merasakan “was-was” seperti Sam Altman. AI hanya akan mengeksekusi data yang diberikan. Manusia, sebagai Majikan, tetap harus menjadi arsitek di balik setiap keputusan strategis.
Untuk para Majikan yang ingin lebih dari sekadar pengguna, tapi juga perancang strategi AI yang andal, Anda perlu menguasai seluk-beluknya. Pelajari bagaimana AI Master dapat membantu Anda mengendalikan AI, bukan sebaliknya. Atau mungkin Anda ingin menghemat budget talent dengan membuat konten pro mandiri tanpa perlu pusing? Coba cek Creative AI Pro.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Konflik Raksasa.
Perebutan pasar enterprise ini hanyalah babak baru dalam drama teknologi. Ingat, seberapa canggih pun AI, dia tetap hanya alat. Tanpa sentuhan strategis dari Majikan yang punya akal, tumpukan kode itu tak lebih dari segumpal data mati. Kecuali kalau AI-nya bisa bikin kopi se-enak buatan barista di pojokan kantor, baru deh kita pertimbangkan untuk angkat kaki.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di TechCrunch.
Gambar oleh: Nathan Howard/Bloomberg via Getty Images