SSD Makin ‘Gendut’, Dompet Tetap ‘Kurus’? Begini Akal Licik SK Hynix!
Para majikan digital, bersiaplah! Di tengah gempuran AI yang makin rakus data, SSD favorit kita sebentar lagi akan punya kapasitas lebih besar. Kabar terbaru dari SK Hynix ini memang bikin dahi berkerut: mereka berhasil menciptakan teknologi flash 5-bit yang bisa memadatkan data, tapi jangan harap dompetmu ikut ‘melar’. Ini bukan sulap, ini akal-akalan teknologi!
Kebutuhan ruang penyimpanan data bak lubang hitam yang tak pernah kenyang. Mulai dari pusat data yang jadi ‘otak’ AI, sampai perangkat pribadi kita yang dijejali foto kucing dan video joget. Semua butuh tempat. Masalahnya, metode lama memadatkan data di NAND flash 3D sudah sampai batasnya. Makin banyak lapisan, makin rumit, makin mahal, dan gampang ‘error’ kayak asisten AI yang kurang piknik.
Sebelumnya, flash QLC (4-bit) sudah ada di pasaran, tapi upaya menuju PLC (5-bit) selalu kandas. Kenapa? Karena masalah voltase dan daya tahan. Bayangkan, satu sel NAND harus menyimpan 32 kondisi voltase berbeda. Itu sama saja menyuruh asisten rumah tangga yang rajin tapi kaku untuk menghafal 32 variasi menu masakan Padang dalam satu jam. Dijamin, pusing sendiri.
Akal Licik SK Hynix: Belah Duren, Eh, Belah Sel!
SK Hynix datang dengan ide yang lumayan brilian: teknologi multi-site cell. Alih-alih memaksakan semua kondisi voltase ke satu sel, mereka membelah sel NAND menjadi dua ‘sel anak’ yang independen. Setiap ‘sel anak’ ini kemudian menyimpan enam kondisi voltase, dan gabungan keduanya merepresentasikan nilai 5-bit. Pintar, kan? Mirip strategi ‘pecah-belah’ ala zaman perang, tapi ini untuk data.
Cara kerjanya bisa dianalogikan dengan sistem RAID-0 pada hard drive. Bukan, bukan berarti SSD-mu jadi satu kesatuan data yang rentan kalau salah satu rusak. Ini lebih ke prinsip kerja paralel. Kedua ‘sel anak’ beroperasi bersama sebagai satu unit logis, sehingga kecepatan baca data bisa meningkat drastis. Kalau biasanya kamu menunggu AI berpikir keras, ini seperti AI-mu pakai turbo.
Desain selnya pun tidak bulat sempurna, melainkan elips. Ini bukan gaya-gayaan, tapi memang sengaja dibuat untuk memberi ruang dinding isolasi antara kedua ‘sel anak’ dan koneksi bit line yang terpisah. Hasilnya? Jarak voltase yang lebih lebar, mengurangi ‘kebocoran’ elektron (yang bikin data cepat rusak), dan waktu pemrograman yang lebih singkat. Artinya, SSD-mu jadi lebih awet, tidak gampang ‘pikun’ data.
SK Hynix sudah memamerkan wafer uji coba di konferensi IEDM 2025. Ini bukti bahwa teknologi mereka bukan cuma teori di atas kertas, tapi sudah ada wujud nyatanya. Para pesaing seperti Samsung, Micron, Kioxia, dan Sandisk pasti sedang mengintip dan mencoba meniru, seperti tetangga yang penasaran resep masakanmu.
Harga Tetap ‘Memar’? Tentu Saja!
Tapi, jangan terlalu senang dulu. Teknologi ini butuh proses semikonduktor tambahan yang rumit, seperti pembelahan sel dan pengisian celah. Artinya, biaya produksi akan membengkak. Jadi, meski SSD makin padat, jangan harap harganya jadi murah. Ini seperti beli rumah di Jakarta, makin banyak kamar, makin mahal. Lokasinya tidak berubah, tapi kemewahannya nambah.
AI memang butuh penyimpanan masif, dan teknologi ini menjanjikan kepadatan yang revolusioner. Namun, ingatlah, AI hanyalah alat. Ia hanya bisa bekerja seefisien perangkat keras yang ia miliki dan secerdas perintah yang kamu berikan. Jangan sampai kamu jadi budak teknologi hanya karena mengejar kapasitas tanpa strategi.
Untuk memastikan kamu tetap memegang kendali dan menjadi majikan yang cerdas di era AI, penting untuk terus mengasah kemampuanmu. Dengan menguasai cara kerja AI, bahkan hingga ke pondasi hardware seperti ini, kamu bisa membuat keputusan yang lebih baik. Cobalah untuk kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal!
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Bagaimanapun, teknologi ini hanya akan membuat SSD makin ‘gendut’, bukan berarti hard drive akan punah. Untuk penyimpanan data masal, hard drive masih jadi pilihan paling ekonomis. Seperti peribahasa, ada rupa ada harga, ada kapasitas ada isi dompet. Kalau semua serba AI, lantas apa gunanya otak kita ini?
Ah, bicara soal kapasitas, sudahkah kamu mengosongkan folder “Download” di laptopmu? Mungkin isinya lebih banyak ‘sampah digital’ daripada hard drive server AI.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “Blocks & Files”.
Gambar oleh: Blocksandfiles via TechCrunch