Ekonomi AIEtika MesinKonflik RaksasaSidang BotUpdate Algoritma

AI Mau Pasang Iklan di Chatbot? Google DeepMind Terkejut: Memangnya Kamu Mau Asisten Pribadi Malah Jualan Bakso?

Berita tentang OpenAI yang buru-buru menyisipkan iklan di ChatGPT membuat kita bertanya, “Ini AI mau jadi asisten atau sales keliling, sih?” Demis Hassabis, bos Google DeepMind, sampai geleng-geleng kepala. Wajar saja, sebab AI itu mestinya jadi alat bantu yang fokus pada kita, para Majikan yang punya akal, bukan malah sibuk jualan popok.

Hassabis terang-terangan mengaku “sedikit terkejut” dengan langkah kilat OpenAI. Bukan tanpa alasan, kabarnya OpenAI terpaksa menempuh jalur iklan ini karena biaya operasional infrastruktur dan energi yang membengkak untuk melayani 800 juta pengguna mingguan ChatGPT versi gratis. Ibarat punya asisten rumah tangga yang rajin tapi tagihan listriknya selangit, akhirnya dia harus cari penghasilan sampingan.

Tapi, apakah ini cara yang bijak? Hassabis dengan nada bijaksana, tapi sedikit menyindir, mempertanyakan bagaimana iklan bisa pas dalam model “asisten pribadi” yang mengedepankan kepercayaan. “Kamu mau percaya penuh sama asisten yang di tengah obrolan penting tiba-tiba menyarankan beli panci anti lengket?” kira-kira begitu inti keresahannya.

Google sendiri, meski bisnis utamanya adalah iklan, mengaku tak terburu-buru. Mereka sedang memikirkan matang-matang bagaimana iklan bisa masuk ke dalam chatbot AI tanpa merusak pengalaman pengguna. Ini bukan tentang menolak iklan, tapi tentang etika dan fungsionalitas. Pengalaman memakai AI chatbot itu beda jauh dengan Google Search, di mana niat pengguna untuk membeli atau mencari sesuatu sudah jelas. Dengan AI asisten, kita berharap dia jadi teman ngobrol yang suportif, bukan agen MLM.

Ingat kasus ChatGPT sebelumnya? Fitur “saran aplikasi” yang mereka luncurkan sempat bikin riuh. Pengguna merasa itu iklan yang mengganggu, padahal OpenAI bersikeras “tidak ada komponen finansial.” Nah, ini bukti bahwa bahkan AI yang “tidak jualan” pun bisa terasa seperti sedang memasarkan sesuatu kalau caranya tidak pas. Manusia itu punya akal dan insting, tidak bisa dibodohi semudah itu, robot!

Uniknya, di saat OpenAI sibuk mencari cara cuan dari iklan, Google justru baru saja meluncurkan fitur personalisasi Gemini yang lebih “kepo” dengan data Gmail dan Foto pengguna untuk memberikan respons yang lebih relevan. Ini seperti dua sisi mata uang: satu ingin cuan dari iklan, satu lagi dari data personalisasi. Mana yang lebih “tidak menjualan”? Tergantung bagaimana kita, para Majikan, melihatnya.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

AI Master: Jangan biarkan AI menjadi majikanmu. Kendalikan AI agar kamu tetap menjadi Majikan, bukan babu teknologi.
Creative AI Marketing: Belajar strategi marketing yang ‘nggak robot banget’. Karena iklan yang baik itu menyentuh hati, bukan malah bikin muak!

Pada akhirnya, perdebatan ini mengingatkan kita bahwa AI, secanggih apa pun, tetaplah alat. Dia bisa pintar mengolah data, membuat keputusan, bahkan mungkin “terkejut” seperti Demis Hassabis. Tapi tanpa sentuhan etika dan akal sehat dari manusia yang menekan tombol, AI hanyalah tumpukan kode yang mencari cara untuk membiayai tagihan listriknya sendiri.

Ngomong-ngomong, tadi pagi AI di kulkas saya menyarankan untuk membeli kerupuk udang. Padahal saya alergi udang. Mungkin dia juga perlu diajari lagi tentang “data personalisasi” yang benar.

Sumber Berita: Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “TechCrunch”.
Gambar oleh: Axios via TechCrunch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *