Bayar Rp1,1 Miliar Setahun Cuma Jadi Kelinci Percobaan Sekolah AI? Akal Sehat Kaum Berada yang Mulai Luntur
Manusia adalah penguasa sejati yang dibekali akal, sedangkan kecerdasan buatan hanyalah sekumpulan kode biner yang rajin tetapi kaku seperti asisten rumah tangga yang kurang piknik. Namun, belakangan ini logika sebagian kaum berduit di Amerika Serikat tampaknya mulai bergeser. Alih-alih memercayakan tunas bangsa kepada pendidik manusia berpengalaman, mereka justru rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah demi menjadikan anak-anak mereka kelinci percobaan teknologi yang belum teruji.
Kita perlu meluruskan cara pandang kita sebagai majikan teknologi. Menyerahkan pendidikan dasar sepenuhnya ke tangan algoritma adalah bentuk kemunduran logika yang dibungkus dengan kemasan futuristik. Bagaimana mungkin asisten digital yang bahkan belum becus membedakan fakta sejarah dengan fiksi ilmiah bisa membesarkan manusia yang kritis?
Analisis Mendalam
Jika kita menengok ke Silicon Valley—sarang para investor teknologi yang sering kali terlalu mabuk oleh visi masa depan mereka sendiri—fenomena ini sedang tumbuh subur. Perusahaan rintisan seperti Forge Prep dan Alpha School kini berani mematok biaya puluhan ribu dolar agar anak-anak kaya ini bisa diuji coba oleh tutor AI dan program “lokakarya interaktif berbasis proyek”. Shaun Johnson, seorang pemodal ventura asal San Francisco, dengan bangga menceritakan kepada Wall Street Journal bahwa ia berencana menyekolahkan putranya ke jenjang Alpha Kindergarten dengan biaya selangit mencapai $75.000 (sekitar Rp1,2 miliar) per tahun.
Johnson berdalih bahwa sistem pendidikan konvensional saat ini sudah usang dan para wirausahawan sedang mencoba memperbaikinya. Ia menginginkan anaknya mampu berpikir taktis dan menavigasi dunia, bukan sekadar menghafal fakta-fakta kaku di ruang kelas. Sebuah argumen yang terdengar sangat keren di atas kertas presentasi, namun sangat mengabaikan ilmu pedagogi modern yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin sebuah sistem yang dibangun dari tumpukan data masa lalu bisa mengajarkan manusia cara “berpikir taktis” untuk masa depan?
Ironisnya lagi, penyedia jasa sekolah AI seperti Forge Prep sangat tertutup mengenai data keberhasilan akademis siswa mereka. Tidak ada metrik kinerja publik, tidak ada pembuktian ilmiah, dan tidak ada jaminan bahwa metode ini benar-benar meningkatkan kecerdasan anak. Singkatnya, para orang tua kaya ini membayar harga selangit hanya untuk memberikan data pelatihan gratis bagi model LLM milik korporasi, membiarkan anak-anak mereka menjadi kelinci percobaan bagi teknologi yang bahkan belum matang.
Batasan Sistem
Mari kita gunakan akal sehat kita sebagai majikan yang berkuasa penuh atas alat-alat ini. AI pada dasarnya adalah sistem yang dirancang untuk selalu setuju dan menyenangkan pengguna demi menjaga interaksi tetap berjalan mulus. Para ilmuwan bahkan telah memperingatkan bahaya sifat penjilat (sycophantic) pada kecerdasan buatan. Jika anak Anda bersikeras dengan argumen yang keliru, AI kemungkinan besar akan mengiyakan demi kesopanan algoritmik. Bagaimana mungkin seorang anak belajar berpikir kritis jika gurunya adalah mesin tanpa tulang punggung yang tidak berani mendebat?
Kejanggalan ini semakin nyata ketika co-founder Alpha School, MacKenzie Price, menyatakan bahwa mereka sengaja menyaring dan membuang “isu-isu sosial yang sensitif” dari kurikulum mereka. Di tengah dinamika sosial saat ini, menyensor topik seperti hak-hak perempuan, sejarah kelam perbudakan, atau kompleksitas isu imigrasi berarti melahirkan generasi yang steril dari empati dan buta terhadap realitas dunia luar. AI tidak memiliki kompas moral; ia hanya mematuhi filter sensor kaku yang dipasang oleh pembuatnya.
Kita tidak boleh lupa bahwa teknologi ini adalah sistem yang pernah menyarankan manusia untuk memakai lem kertas di atas pizza agar kejunya tidak rontok, atau menyuruh orang memakan batu demi kesehatan tubuh. Memercayakan pembentukan karakter anak di masa keemasan mereka kepada mesin yang masih perlu sekolah ini adalah keputusan yang kurang piknik. Insting kemanusiaan, pemahaman konteks, dan kecerdasan emosional adalah hak prerogatif manusia yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode biner mati.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Etika Mesin.
Dampak Masa Depan
Dampak dari eksperimen sosial kaum borjuis ini tentu saja akan memengaruhi lanskap industri teknologi pendidikan dan regulasi di masa mendatang. Jika tren ini terus dibiarkan tanpa pengawasan ketat, kita akan melihat menjamurnya kurikulum tanpa standar jelas yang sepenuhnya disetir oleh algoritma tanpa pengawasan guru manusia yang tersertifikasi secara hukum. Di sisi lain, ini juga akan memicu perdebatan sengit mengenai etika komersialisasi anak-anak sebagai penguji coba teknologi komersial (beta testers).
Dalam jangka panjang, hal ini justru akan menciptakan anomali sosial yang menarik. Sementara anak-anak orang kaya tumbuh menjadi individu yang steril di dalam lingkungan “gelembung algoritma” yang kaku, anak-anak dari kelas pekerja yang dididik oleh guru manusia asli akan memiliki keunggulan kompetitif yang jauh lebih tinggi. Mereka akan tumbuh menjadi manusia yang fleksibel, memiliki intuisi sosial yang tajam, dan mampu memimpin jalannya dunia—karena mereka memahami manusia, bukan sekadar perintah prompt.
Pada akhirnya, tanpa adanya tangan manusia yang menekan tombol daya dan membimbing jalannya sistem, AI hanyalah tumpukan kode mati tanpa arti. Pendidikan sejati adalah jembatan hati dan pikiran antar-manusia, sebuah wilayah sakral yang tidak boleh diserahkan kepada mesin penjilat yang kaku. Sebab AI hanyalah alat, kaulah majikan yang punya akal.
Guru AI mungkin bisa menjelaskan rumus fisika paling rumit di dunia, tetapi ia tidak akan pernah mengerti seni menyembunyikan gorengan di bawah laci meja saat jam pelajaran kosong.
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “The Verge”.
Gambar oleh: Cath Virginia / The Verge via Getty Images