Etika MesinSidang Bot

George Washington Palsu dan Absurdnya Patriotisme AI: Bedah Proyek 1776 Darren Aronofsky

Bayangkan Anda meminta seorang asisten rumah tangga yang luar biasa rajin namun luar biasa kaku untuk melukis ulang sejarah proklamasi kemerdekaan. Alih-alih mendapatkan lukisan heroik yang khidmat, Anda malah disuguhi gambar proklamator yang sedang melakukan duel smackdown melawan tentara sekutu di atas ring gulat berornamen anime Jepang, lengkap dengan efek suara jedag-jedug. Kurang lebih seperti itulah rasa geli, takjub, sekaligus ngeri yang kita rasakan saat menyaksikan proyek video eksperimental terbaru dari sutradara Hollywood kawakan Darren Aronofsky yang bertajuk “On This Day… 1776” di YouTube.

Sebagai “majikan” yang dikaruniai akal sehat, kita harus tertawa cerdas melihat fenomena ini. Proyek yang digarap oleh studio AI milik Aronofsky, Primordial Soup, bekerja sama dengan Time Studios, awalnya digadang-gadang sebagai pembuktian bahwa teknologi kecerdasan buatan generatif sudah siap mengguncang jagat sinema. Namun, yang tersaji di layar kaca justru menjadi bukti paling otentik bahwa tanpa sentuhan rasa dan kepekaan manusia, mesin hanya akan melahirkan komedi absurd yang merusak estetika sejarah.

Analisis Mendalam

Proyek video pendek “On This Day… 1776” yang diluncurkan sejak Januari lalu di YouTube ini mencoba menelusuri kronologi peristiwa penting selama tahun kelahiran Amerika Serikat secara berurutan. Aronofsky mencoba memanfaatkan berbagai model AI generatif untuk merajut visual dramatis dari masa-masa kritis Perang Kemerdekaan Amerika. Kita disuguhi adegan mulai dari penarikan armada Inggris dari Pelabuhan Boston, penderitaan tentara bayaran Hessian asal Jerman, hingga aksi menjahit bendera oleh Betsy Ross. Menariknya, dialognya tidak menggunakan suara robot cempreng, melainkan diisi oleh aktor suara manusia profesional yang terdaftar di SAG (Screen Actors Guild), memberikan kontras yang aneh antara kehangatan vokal manusia dan kebekuan visual mesin.

Namun, bukannya khidmat, narasi sejarah ini kerap bergeser menjadi parade sirkus yang menggelitik nalar. Pada salah satu episode, misalnya, kita melihat visualisasi mimpi buruk George Washington yang kelewat “niat”. Kamera menyorot sangat dekat pada gigi palsunya yang legendaris dengan detail yang mengerikan sebelum beralih ke adegan di mana sebutir peluru senapan mengenai dahinya secara langsung, bertahan beberapa detik, lalu jatuh begitu saja seolah-olah kepalanya terbuat dari beton berlapis karet.

Keanehan mencapai puncaknya pada episode-episode terbaru di mana asisten kaku kita (baca: AI) tampaknya diberi kebebasan penuh untuk berhalusinasi. Pada episode bertema Betsy Ross, benang merah, putih, dan biru yang sedang dijahit tiba-tiba berubah wujud menjadi kolase raksasa yang menampilkan pendaratan di bulan, aksi pahlawan penerbang Amelia Earhart, hingga gitaris legendaris Jimi Hendrix yang sedang memainkan lagu kebangsaan Amerika Serikat dengan gitar listriknya di tengah-tengah Arlington Cemetery. Puncaknya ada pada episode akhir Juni, di mana perdebatan Thomas Jefferson dalam menulis Deklarasi Kemerdekaan disajikan dalam gaya animasi anime Jepang yang super garang. Jefferson digambarkan bergulat satu lawan satu di atas ring melawan Raja George III dari Inggris, lengkap dengan dialog sekelas film laga kelas B: “Berlututlah di hadapan rajamu!” teriak George III, yang dibalas Jefferson dengan, “Berlututlah pada bitch ini!” sambil menghantamkan dokumen deklarasi. Sungguh sebuah edukasi sejarah yang membuat para sejarawan ingin pensiun dini.

Batasan Sistem

Mari kita bedah secara kritis: mengapa visual garapan AI dalam proyek Aronofsky ini masih terasa seperti sup sayur yang kurang garam? Jawabannya sederhana, sistem kecerdasan buatan tidak memiliki insting ruang dan konsistensi estetika. AI di sini bertingkah seperti sistem yang kurang piknik; ia sangat mahir menampilkan detail makro seperti serat kain bendera yang presisi atau gelembung air yang keluar dari mangkuk John Adams secara hiper-realistis, namun gagal total dalam menjaga hal-hal paling mendasar seperti konsistensi wajah tokoh.

Wajah Benjamin Franklin, misalnya, bisa berubah dari tampak tembem, lalu tiba-tiba tirus, tampak lebih tua, lalu mendadak muda kembali hanya dalam hitungan detik. Fenomena ini membuktikan bahwa algoritma video generatif saat ini masih kesulitan mempertahankan memori spasial dari satu bingkai (frame) ke bingkai berikutnya. Belum lagi masalah sinkronisasi bibir (lip-sync) yang hancur lebur, membuat para tokoh sejarah ini terlihat seperti sedang melafalkan mantra dalam film asing yang disulih suara secara amatir.

Di sinilah letak keunggulan insting manusia yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode biner. Manusia mengerti arti pentingnya “rasa”, suasana sunyi yang dibangun lewat jeda, dan kedalaman emosi yang dipancarkan oleh mata aktor asli. Dalam “On This Day… 1776”, meskipun visualnya mencoba mengejar fotorealisme sekuku hitam, semua karakternya terasa seperti manekin plastik yang digerakkan oleh dalang yang sedang mengantuk. Mereka terlihat seperti pajangan di museum lilin yang tiba-tiba dipaksa berjalan. Tanpa sutradara manusia yang memegang kendali penuh atas penyuntingan akhir, hasil dari generator visual ini tak lebih dari sekadar AI slop atau sampah digital yang dikemas dengan nama besar Hollywood.

Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.

Dampak Masa Depan

Kendati proyek ini panen cibiran karena kualitasnya yang belum matang, kita tidak boleh menutup mata terhadap arah angin industri sinema global. Eksperimen Aronofsky dengan Primordial Soup ini adalah sinyal kuat bagi para raksasa teknologi untuk terus mematangkan produk video generatif mereka. Persaingan di sektor ini akan semakin memanas, terutama dengan hadirnya model-model seperti OpenAI Sora atau Google Veo yang terus mencoba mendekati standar produksi Hollywood.

Jika tren ini terus berlanjut, kita akan melihat perubahan besar dalam peta persaingan teknologi kreatif dan regulasi hak cipta. Di satu sisi, otomatisasi ini akan mempermudah para kreator independen untuk membuat visual latar belakang yang megah tanpa anggaran triliunan rupiah. Bahkan, film independen sepenuhnya buatan AI seperti Dreams of Violets tentang protes di Iran sudah berhasil menembus Tribeca Film Festival. Di sisi lain, hal ini akan memicu perdebatan sengit tentang etika penggunaan data latihan AI dan nasib para pekerja kreatif di industri film.

Kesimpulan

Pada akhirnya, proyek eksperimental Darren Aronofsky ini kembali menegaskan filosofi utama kita: AI hanyalah alat, manusialah sang majikan sejati. Sehebat apa pun visual bertema bendera atau duel anime gulat yang dihasilkan oleh mesin, mereka hanyalah kode mati tanpa adanya manusia yang menekan tombol prompt dan mengarahkan jalannya cerita. Menonton “On This Day… 1776” membuat kita sadar bahwa sinema yang agung tidak lahir dari kalkulasi piksel tercepat, melainkan dari kedalaman jiwa yang hanya dimiliki oleh manusia.

Artikel ini dirangkum dari sumber asli di “CNET”.
Gambar oleh: Primordial Soup via TechCrunch

Sambil menunggu AI bisa melukiskan emosi manusia dengan sempurna, silakan Anda kembali menyeduh kopi sachet yang airnya dididihkan sendiri, karena ketel listrik pintar Anda pun masih sering kebingungan membedakan air matang dengan air mentah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *