Google Sikat Talenta Hume AI: Ketika Robot Belajar Baper, Majikan Jangan Sampai Terbaperi!
Kabar panas dari jagat teknologi! Google DeepMind, sang raksasa AI, baru saja menyedot habis CEO beserta beberapa insinyur top dari Hume AI, sebuah startup yang khusus mengembangkan antarmuka suara dengan “kecerdasan emosional”. Ini bukan cuma soal transfer karyawan biasa, tapi bagian dari kesepakatan lisensi besar. Artinya, Google benar-benar serius ingin AI-nya tidak cuma cerdas secara logika, tapi juga bisa ikutan baper.
Lalu, apa dampaknya untuk kita sebagai majikan yang punya akal? Sederhana saja. Kita akan melihat asisten AI yang semakin “manusiawi”. Bayangkan asisten digital yang bisa mendeteksi nada suara Anda sedang kesal, gembira, atau bahkan lagi butuh pelukan (walaupun ini agak berlebihan untuk AI). Tujuan Google jelas: membuat interaksi dengan AI terasa lebih natural, seperti berbicara dengan teman, bukan lagi seperti memerintah robot kulkas.
Hume AI telah menginvestasikan jutaan dolar untuk menyempurnakan teknologi ini, melatih model mereka dengan menganotasi isyarat emosional dari percakapan sungguhan. Alan Cowen, CEO Hume AI yang bergelar PhD di bidang psikologi, kini akan bergabung dengan Google DeepMind untuk menanamkan kemampuan memahami dan merespons emosi ke dalam model-model AI mutakhir Google, seperti Gemini. Langkah ini menandakan bahwa mode suara akan menjadi medan pertempang utama dalam persaingan AI.
Di satu sisi, ini adalah kemajuan yang patut diacungi jempol. AI yang bisa menyesuaikan responsnya dengan emosi pengguna tentu akan sangat berguna, baik untuk perangkat konsumen maupun layanan pelanggan. Bayangkan, bot layanan pelanggan yang tidak akan lagi membalas dengan nada datar saat Anda sedang marah-marah karena paket belum sampai. Mungkin mereka akan menawarkan kompensasi dengan nada prihatin, “Saya turut prihatin, Majikan. Bagaimana kalau saya kirimkan voucher pijat refleksi virtual?”
Namun, di sisi lain, mari kita jujur. Sekecerdes apa pun AI dalam meniru emosi, itu tetaplah tiruan. AI tidak benar-benar “merasakan” empati atau kesedihan. Mereka hanya diprogram untuk mengenali pola dan memberikan respons yang paling mungkin “sesuai” dengan emosi yang terdeteksi. Jangan sampai kita terlena dan berharap lebih dari tumpukan algoritma ini. Mereka memang rajin dan semakin pintar, tapi tetap saja perlu kita, sang majikan, yang mengarahkan. Kecerdasan emosional buatan ini hanyalah alat untuk membuat hidup kita lebih mudah, bukan untuk menggantikan interaksi emosional manusia sejati.
Fenomena “aqui-hires” atau akuisisi talenta seperti ini memang sedang marak di kalangan raksasa teknologi. Ini cara cerdik untuk mendapatkan talenta kelas kakap tanpa melewati birokrasi dan pengawasan ketat yang menyertai akuisisi perusahaan penuh. Federal Trade Commission (FTC) AS bahkan sudah mulai mengendus praktik ini dan berencana untuk mengawasinya lebih ketat. Google sendiri sebelumnya dilaporkan menggelontorkan $3 miliar untuk melisensikan teknologi dari Character.ai, startup chatbot lain.
Persaingan ini membuat Google semakin agresif, terutama setelah ChatGPT dari OpenAI sudah lebih dulu meluncurkan mode suara yang terasa hidup. Belum lagi, kolaborasi Google dengan Apple untuk mengintegrasikan Gemini ke Siri. Semua berlomba menjadi yang terdepan dalam menyajikan AI yang tidak cuma fungsional, tapi juga “berjiwa”.
Meskipun AI kini bisa meniru emosi, ingatlah bahwa kemampuan itu terbatas pada apa yang diajarkan kepadanya. Manusia tetaplah ujung tombak yang menentukan arah dan batasan. Untuk memastikan Anda tidak hanya ikut arus tapi bisa mengendalikan arah AI Anda, kuasai seluk-beluknya dengan AI Master. Pelajari cara menjadi majikan sejati yang tidak mudah terbaperi oleh robot.
Baca juga artikel menarik lainnya di kategori Sidang Bot.
Sehebat-hebatnya AI menganalisis suasana hati Anda, dia tetap tidak akan pernah tahu kenapa Anda tiba-tiba ingin makan mi instan tengah malam dengan irisan cabai rawit ekstra. Itu rahasia majikan!
Artikel ini dirangkum dari sumber asli di WIRED.
Gambar oleh: Kevin Carter/Getty Images via Wired